MEULABOH (RA) – Setelah sukses mengembangkan bisnis udang vaname di wilayah pesisir Pantai Barat Aceh. Kini, Ketua Ismi Aceh Barat, Amiruddin ST, bersama Kapolres setempat, memilih tantangan rumit, yakni membina kelompok tani tradisional agar memperoleh hasil panen melimpah ruah.

Targetnya, tak tanggung-tanggung, minimal mampu memproduksiĀ  gabah 10 ton/hektar. Jika pada umumnya, satu hektar sawah di wilayah bumi Teuku Umar hanya mampu menghasilkan padi 4-6 ton, kini Amir mengajak petani untuk bercocok tanam padi dengan mengandalkan teknologi.

Seluas 2,5 hektar lahan tidur di Desa Parlimbungan, Kecamatan Kaway XVI, mulai dikelola menjadi area sawah percontohan. Selasa (2/6) siang, penanaman bibit perdana dilakukan oleh Amiruddin ST dan Kapolres Aceh Barat AKPB Andrianto Argamuda.

Budidaya padi ini, menggunakan bibit unggul varietas Ciherang, sehingga hasil panen yang diperoleh bakal sangat memuaskan. “Semoga target panen minimal 10 ton/hektar dapat tercapai dan program ketahanan pangan pemerintah dapat terlaksana sesuai harapan,” ucap Kapolres Aceh Barat, usai melakukan penanaman perdana.

Ia optimistis, bersama Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (Ismi), tentu kehidupan petani di Aceh Barat berangsur membaik, dengan pondasi ekonomi keluarga yang mandiri. Apalagi, setiap proses budidaya yang dilakukan petani, terlaksana sesuai rekomendasi dari tim ahli sesuai bidang ditekuni masyarakat.

“Terget kami, juga akan membina kelompok tani percontohan lainnya, di setiap kecamatan kabupaten Aceh Barat, dengan beragam budidaya, seperti padi, bawang, cabai, udang, dan ternak hewan secara intensif,” detilnya.

Ketua Ismi Aceh Barat, Amiruddin ST, merincikan, dari setiap 12 kecamatan akan terbentuk satu kelompok binaan, yang mampu bekerja disiplin di bawah kendali tim ahli.

“Saya prioritaskan warga yang terkena PHK atau dirumahkan karena pandemi Covid-19 ini, untuk bergabung dalam kelompok binaan,” jelasnya.

Pandangan Amir, momok menakutkan pandemi Covid-19, tentu telah menyebabkan masyarakat untuk lebih banyak berdiam diri di rumah saja, sehingga ia mengajak warga agar dapat berfikir kreatif dan mengelola lahan tidur di daerah masing-masing. “Lihat potensi di daerah masing-masing, apa saja yang dapat dikelola supaya dapat menghasilkan uang,” ucapnya.

Seperti partisipasi Amir membina kelompok tani di Desa Parlimbungan, Kecamatan Kaway XVI, semata-mata hanya ingin mengajarkan cara bertani baik dan benar dengan mengandalkan teknologi. “Kalau setiap proses usaha apapun dilakukan secara baik dan benar, dengan mengandalkan teknologi serta kajian, tidak adalagi istilah gagal panen. Semua berjalan secara gampang dan mudah. Ayo mari kita berkerja,” motivasinya.

Kegiatan penanaman bibit perdana tersebut, turut dihadiri Kadis Pertanian Aceh Barat, pimpinan PT. KTS, dan seluruh lapisan masyarakat setempat.(den)