Ziarah dan Doa Bersama di Makam Pejuang GAM

Berdoa- Jajaran KPA Wilayah Kuta Pase dan masyarakat melakukan ziarah serta berdoa bersama kepada pejuang GAM di makam Sulaiman Cs pada Ahad (31/5) kemarin. ARMIADI/RAKYAT ACEH

Almarhum Sulaiman Ibrahim adalah pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang paling diburu oleh aparat keamanan saat konflik Aceh berkecamuk. Pusaran makamnya berada di Dusun Teumpok Mesjid, Gampong Alue Papeun, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara.

Jajaran KPA Wilayah Kuta Pase dan masyarakat melakukan ziarah dan berdoa bersama kepada pejuang GAM di makam Sulaiman Cs pada Ahad (31/5) kemarin. Dilokasi ada sembilan makam pejuang Gam lainnya.

Sulaiman yang lebih akrab disapa Bang Leman Cs atau Bang Leman Paloh Punti Lhokseumawe ini, dikenal sebagai sosok pemberani. Karena sering menghadang aparat keamanan yang memburunya. Bahkan Helikopter yang melintasi di kawasan markasnya di Cot Trieng langsung ditembaki dengan senjata api laras panjang yang dipegangnya.

Pejuang Aceh Merdeka ini, jabatan terakhir yang diemban sebelum ajal menjemputnya sebagai Komandan Operasi GAM Daerah I Tgk Chik Dipaloh Wilayah Samudera Pasee. Bang Leman Cs, ketika konflik Aceh juga memimpin Pasukan GAM “Gajah Meulangu” (Gajah Berenang).

Dalam era tahun 1998-2001, Sulaiman rutin melakukan penyerangan terhadap aparat keamanan. Tidak hanya menunggu diburunya, tapi ia juga kerap menghadang TNI/Polri yang mengusik markasnya atau tempat persembunyiannya.

” Bang Leman dulu semasa hidupnya dalam sepekan itu minimal dua kali menyerang aparat keamanan,”ucap Razali Hasbi, salah seorang mantan anggota pasukan Sulaiman Cs, kepada Rakyat Aceh, kemarin.

Razali akrab disapa Mukim Li yang kini menjabat sebagai Sekretaris KPA Kuta Pase, menjelaskan, sepertinya Bang Leman sangat menikmati peperangan melawan petugas keamanan. “Kalau tidak berperang dalam sepekan dua kali yang pernah disampaikan kepada kami maka badannya akan terasa pegal-pegal,”ujarnya.

Bukan hanya itu, Sulaiman asal Paloh Punti Lhokseumawe kelahiran tahun 1955 silam, saat berperang tanpa memakai sepatu. Pimpinan pasukan GAM Gajah Meulangu ini sering memakai sandal jepit dan terkadang tidak mengenakan apa-apa dikakinya.

Tubuhnya hampir tidak pernah merasa lelah untuk berperang melawan petugas keamanan. Karena hari-harinya selalu tercurahkan pikirannya untuk merancang strategi dan menyerang pos militer mana yang akan dihajar dengan tembakan. Sosok bang Leman Cs ketika menjadi pejuang GAM dikenal juga sering mencari-cari TNI/Polri yang ingin memburunya.

Namun pada bulan Maret 2001 silam, kombatan operasi GAM itu menemui ajalnya ketika pertempuran sengit dengan aparat keamanan selama tiga hari tiga malam di kawasan Cot Trieng, Kecamatan Muara Dua (sekarang masuk dalam Kecamatan Muara Satu. ” Sebenarnya pasukan kami ketika itu bukan dalam kondisi terkepung. Dan kami bisa saja memilih mundur untuk meloloskan diri, tapi bang Leman tidak mau mundur tetap saja menembaki kearah aparat keamanan,” ungkap Razali Hasbi.

Akhirnya, Sulaiman Cs tertembak dengan sebutir peluru milik petugas dibagian pahanya. Ketika itu, ia sedang menembak Helikopter yang mendekatinya. Kemudian, kontak tembak mereda, sehingga anggota pasukan GAM membawa lari komandan operasinya ke Gampong Alue Papeun, Kecamatan Nisam Antara (sekarang) berjarak sekitar 25 kilometer dari lokasi kejadian di Gampong Cot Trieng.

Tepatnya, pada Sabtu 23 Maret 2001 silam, Sulaiman Cs menghembuskan napas terakhir dan dikebumikan di Dusun Teumpok Mesjid, Gampong Alue Papeun.

Sementara itu dalam ziarah dan doa bersama untuk pejuang Gam itu, turut hadir Ketua PA Kota Lhokseumawe, Husaini Pom, Wakil Ketua KPA Wilayah Kuta Pase, Heri Pom, Sekretaris KPA Kuta Pase, Razali Hasbi, Jurubicara PA Lhokseumawe, Budi Karma Bakti, para tinggi KPA, kombatan Gam, anggota DPRK Lhokseumawe, Azhari dan masyarakat setempat. Doa dipimpin oleh Tgk Hasbullah AR yang merupakan Kaji KPA Kuta Pase.

“Semoga para pejuang Gam dan termasuk Bang Leman yang syahid dalam mempertahankan kedaulatan Aceh, amal ibadahnya diterima disisi Allah,”pintanya, seraya menambahkan, dirinya bersama kombatan GAM lainnya akan terus berjuang supaya apa saja yang tertuang dalam poin-poin MoU Helsinki RI-GAM bisa dijalankan di Aceh. Seperti soal bendera Aceh dan persoalan lainnya yang belum tuntas.

“Kalau semua poin-poin MoU tidak dijalankan oleh pemerintah, maka kami akan bersikap,”tegasnya. (arm/msi)