Sensasi Ngopi di Paya

Para pengunjung antusias berfoto di ujung dermaga warung kopi. (Ichsan Maulana/rakyat aceh)

Ichsan Maulana, Bireuen

Kontestasi persaingan bisnis warung kopi di Aceh terasa sangat kompetitif. Para pengusaha di bidang ‘air hitam’ itu berlomba-lomba memberikan inovasi untuk memanjakan para coffee holic. Salah satunya adalah D’Paya Coffee yang berada di Desa Paya Meuneng, Kabupaten Bireuen.

Mengusung konsep ruang terbuka, pemiliknya H Ziaurrahman mendirikan warung kopi di atas waduk alami, atau dalam bahasa Aceh kerap disebut ‘Paya’. Secara umum, warung kopi ini terbagi ke dalam tiga bagian. Bagian depan bangunan tinggi dengan bangku duduk memanjang.

Turun ke bawah (bagian tengah) ada tempat duduk lesehan, dan paling ujung (dermaga) mengusung konsep bangku duduk per orangan. Di dermaga, ngopi di sana ada sensasi tersendiri, kerap bergoyang sebab penyangga lantai di bawahnya ditopang pelampung, menggunakan drum besar.

Setiap harinya pengunjung terbilang stabil. Datang dari berbagai daerah dengan ragam latar belakang. Dari masyarakat biasa, orang kantoran, hingga pemain bola. Warung kopi milik anak almarhum bupati Bireuen itu, biasanya padat di saat akhir pekan. Pekan lalu, saat lebaran Idul Fitri, pengunjung membludak. Daya tarik utama dari D’ Paya ini ada pada suasana alamnya.

“Di sini enaknya karena terbuka, jadi tidak gerah. Di tambah pemandangan di paya yang menyegarkan mata. Sambil ngopi atau makan, kadang-kadang kita bisa lihat orang yang lagi jala ikan, memancing. Bahkan kalau beruntung nampak ‘bruek-bruek’ lewat,” Tutur Ismul, yang mengaku berasal dari Lhokseumawe.

Nuansa yang indah dengan pemandangan asri, menggoda pengunjung untuk mengabadikan setiap momen dengan berfoto. Ada yang selfie, groufi, dsb. Di luar itu, di warkop ini juga disediakan spot foto di bagian ujung dermaga. Bertuliskan nama warung kopi dengan lambang love di pinggirnya. Di malam ini, ornamen ini hidup dengan lampu.

Kehadiran tempat ini telah menjadi ikon wisata, juga pilihan ruang publik bagi warga untuk santai, melepas penat. Turut pula membuka lapangan pekerjaan. Terlihat, banyak pramusaji yang terserap di sana. Kemudian, warga desa setempat juga mengelola tempat parkir. Yang keuntungannya untuk pengelola, tidak lagi distor ke pemilik warkop.

“Tanah (tempat parkir) ini kami sewa. Jadi keuntungannya untuk kami, tidak lagi distor ke warung kopi,” Jelas petugas parkir.