Sejumlah pembeli menawar buah durian di lapak pedagang durian musiman di Pertigaan Gapura Kompleks Perkantoran Bupati Aceh Tamiang, di Karang Baru, Minggu (21/6). DEDE-HARIAN RAKYAT ACEH

ACEH TAMIANG (RA) – Buah durian dari sejumlah wilayah Aceh Tamiang mulai membanjiri pasar di ibu kota daerah itu. Harga durian lokal ini pun terbilang mahal, rata-rata dijual Rp30-50 ribu/buah.

Dari amatan Rakyat Aceh, sejak dua pekan terakhir ramai muncul pedagang durian musiman di wilayah Karang Baru. Mereka membuka lapak disepanjang ruas jalan dua jalur Ir H Juanda, menggunakan keranjang sepeda motor maupun mobil bak terbuka.

Sementara di wilayah Kualasimpang pedagang durian musiman terpusat di jantung kota kawasan Masjid Raya.

Namun pembeli harus teliti saat memilih durian yang bagus. Karena dibalik harganya yang relatif tinggi, rasa durian lokal tidak jaminan manis. Tak jarang membuat sejumlah pembeli kecewa. Para penjual durian terpaksa memberi garansi “belah ditempat”. Bila rasa durian tidak manis ditukar atau tidak bayar.

Sejumlah pembeli, Asrul, Indra, Dedi dan Memed tidak jadi memborong durian lantaran harnganya mahal. Padahal durian lokal sudah melimpah, tapi harganya masih tinggi.

“Selain mahal, habis itu kita ragu banyak durian tahun ini rasanya hambar,” kata Memed kepada Rakyat Aceh, di kawasan Simpang Gapuran Kantor Bupati Aceh Tamiang, Minggu (21/6).

Sementara itu Asrul menuturkan, dirinya batal beli durian karena buahnya kecil-kecil dan mahal. Rencaanya kalau harga durian ukuran sedang Rp20-25 ribu/buah, dia akan beli 10 buah untuk makan bersama kawan-kawannya. Namun harga semua durian dibandrol pedagang diatas Rp20 ribu/buah.

“Kita mau beli banyak, ditawar Rp20 ribu satu tak dikasih ya, sudah. Pedagang memang ada memberi garansi kalau rasa tak enak, durian bisa dikembalikan. Sebelumnya kami pernah beli durian di depan Stadion Rp230 ribu dapat 14 buah. Tapi tidak semua rasanya enak. Banyak juga yang rasanya cemplang,” lajut Asrul.

Syaiful, salah satu penjual durian di Simpang Gapura Kompleks Kantor Bupati Aceh Tamiang membenarkan rasa durian tahun ini banyak berubah. Namun dia menyiasati, setiap pembeli disuruh coba dulu, kalau cocok baru bayar. Menurutnya, rasa durian bisa berubah akibat faktor musim semi daun muda. Ketika durian sedang berbuah daun mudah-nya muncul.

“Betul rasanya ada yang anyep, tapi saya ganti dengan duren yang lain, supaya pembeli tidak rugi,” ujarnya.

Syaiful merupakan warga Kota Lintang, Kulasimpang. Pemasok durian yang dia jual adalah anaknya dikirim dari wilayah Bandar Pusaka dan Simpang Jernih. Harga durian bervariasi tergantung ukuran. Durian yang tak habis terjual akan dikembalikan ke asalnya. “Yang kecil Rp20 ribu. Kalau yang besar Rp35-50 ribu,” akunya.

Hal senada dikatakan Mila dan Hanafiah penjual durian di Jalan Lubuk Sidup, Sekerak. Hampir disemua daerah Aceh Tamiang rasa durian tahun ini tidak manis (malih).

Sepengetahuan mereka hal itu disebabkan faktor kelebihan air. Sebab saat pohon durian berbuah dimusim penghujan.

“Sebenarnya hujan bagus buahnya semakin bayak, tapi kalau kebanyakan air rasanya yang kurang manis,” kata Mila. (mag86)