Perdagangkan Tulang dan Kulit Harimau Polda Aceh dan BKSDA Aceh Tangkap Empat Pelaku

Personel Dit Reskrimsus Polda Aceh membentang kulit harimau, barang bukti perdagangan satwa dilindungi di Mapolda Aceh, Senin (22/6). BAIHAQI/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Polda Aceh bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menangkap empat pelaku perdagangan tulang, taring dan kulit harimau sumatera (panthare tigris sumatrae) dan kuku beruang madu.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Aceh, Kombes Pol Margiyanta mengatakan, penangkapan ini berawal dari informasi masyarakat akan adanya perdagangan kulit harimau.

“Ke empat pelaku berinisial MR, A, MD, serta SD, ditangkap di depan SPBU Lhok Nibong, Kecamatan Pante Beudari, Aceh Timur, Rabu (17/6) pekan lalu. Sementara itu seorang lagi berinisial HD masuk DPO,” kata Kombes Pol Margiyanta.

Kata Margiyanta, ke empat pelaku yang sudah ditetapkan sebagai tersangka baru pertama kali melibatkan diri dan melakukan pemburuan harimau di kawasan hutan Gayo Lues dengan cara memasang jerat.

“Dari keterangan ahli dari BKSDA Aceh, harimau berjenis betina ini diperkirakan berusia 2 sampai 3 tahun. Dan harimau ini diperkirakan sekitar 2 bulan baru dibunuh,” kata Margiyanta, yang didampingi Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Ery Apriyono, Senin (22/6).

Menurut pengakuan tersangka, kata Margiyanta, tulang, taring dan kulit harimau itu dapat terjual dengan harga Rp100 juta dan saat mereka ditangkap sedang menunggu pembeli.
“Mereka belum sempat menjual karena masih menunggu pembeli tertinggi. Perdagangan mereka lakukan melalui pintu Medan, Sumatera Utara,” kata Kombes Pol Margiyanta.

Menurut keterangan BKSDA Aceh, kasus perdagangan satwa liar yang dilindungi di Aceh sejak 2015 hingga sekarang sudah tercatat sebanyak 33 kasus, sedangkan untuk perdagangan harimau sudah 5 kasus (Aceh Tengah, Bireuen, Aceh Selatan, Aceh Besar dan terakhir Aceh Timur).

Adapun barang bukti yang diamankan dari pelaku berupa 1 kulit harimau dalam keadaan basah, 4 taring harimau beserta tulang belulang, 4 taring beruang madu dan 20 kuku madu.

“Keempat tersangka dijerat Pasal 21 Ayat (2) jo Pasal Ayat (2) UURI Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Ancaman hukumannya lima tahun penjara dan denda Rp100 juta,” kata Margiyanta. (bai)