BIREUEN (RA) – Meskipun tidak memiliki pengalaman khusus dan pengetahuan soal budidaya jangkrik, namun tidak menyurutkan Ary Pratama Putra, warga Desa Leubu Cot, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, untuk menekuni usaha di bidang ini.

Hal itu dibuktikannya dengan mampu meraup pundi-pundi rupiah dari usaha budidaya jangkrik, meski dengan modal yang sangat kecil dan modal nekat.

Sebelum merintis usaha budidaya jangkrik, Ary mengaku pernah fokus pada usaha jualan nasi goreng. Setelah itu, ia mencoba beberapa usaha lainnya untuk kebutuhan hidup. Namun, pilihannya kini jatuh pada jangkrik lantaran lebih menggiurkan.

Saat disambangi wartawan media Rakyat Aceh di rumahnya, Senin (22/6), Ary Pratama Putra mengatakan, dirinya sudah menekuni dunia usaha budidaya jangkrik sejak setahun yang lalu, dihitung dari panen jangkrik yang sudah dia nikmati hasilnya.

“Jangkrik pada saat kemarau perkembangannya menjadi lambat, sedangkan pada saat musim hujan lebih cepat. Karena itu, saat ini harga jual jangkrik di pasaran sangat pesat, bahkan mencapai angka Rp 110.000 hingga Rp 120.000 per kilogram,” ujar Ary.

Prospek usaha jangkrik cukup menggiurkan, kata Ary, lantaran permintaan selalu tinggi, sedangkan pasokan jangkriknya terbatas. Apalagi masa panennya dilakukan setiap satu bulan sekali.

“Di Kabupaten Bireuen baru ada beberapa orang yang budidaya jangkrik, dan belum mampu mencukupi pasar. Makanya ini menjadi peluang besar. Apalagi peternak burung murai mulai banyak, ditambah semakin banyaknya kegiatan kontes burung,” sebutnya.

Selain masalah peluang, budidaya jangkrik juga terbilang sangat mudah perawatannya, yakni diberikan pakan dedaunan, pohon pepaya, serta tambahan nutrisi berupa konsentrat yang dihitung selama satu bulan hanya menghabiskan uang puluhan ribu.

Jika dihitung modal, ungkap Ary, harga telur jangkrik sekitar Rp 400 ribu untuk 4 kotak berukuran 80 centimeter, panjang 2,40 meter dengan ketinggian 60 centimeter. Adapun untuk pembuatan satu kotak bisa menghabiskan uang sekitar Rp 130 ribu menggunakan kayu dan GRC.

“Dari modal itu, setiap seperempat kilogramnya bisa memanen normal sebanyak 15 kilogram, dengan harga jual mulai Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogramnya. Jadi, ya lumayan buat tambah-tambah kebutuhan di rumah. Apalagi kalau kita sudah bisa mengembangkan bibitnya, tentu untungnya lumayan,” kata Ary yang sering dipanggil Toke jangkrik itu.

Sedangkan, kendala dalam usaha ini hanya cicak, semut dan ayam. Sementara, jangkrik yang layak dijual adalah yang belum keluar bulu atau sayapnya. Jangkrik yang sudah keluar sayapnya tidak laku dijual, hanya bisa dimanfaatkan untuk pembibitan.

“Sebenarnya saya belajar budidaya jangkrik pertama kali dari saudara di Batam, dia merintis usaha ini sampai sekarang, dan sudah menghasilkan banyak uang dari budidaya jangkrik tersebut. Selain itu, saya juga belajar di internet, memanfaatkan Youtube. Sekarang semua serba mudah, jadi mau usaha apa saja mudah, tinggal mau belajar dan pratiknya saja,” pungkasnya.(Akhyar)