BANJARMASIN (RA) – Mengendalikan Inflasi memang menjadi tugas pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Terpadu dan Bank Indonesia.

Upaya pengendalian tidak berjalan lancar dan sesuai harapan tanpa partisipasi masyarakat. Beragam upaya pun dilakukan agar inflasi terkendali. Mulai mencari alternatif komoditas hingga mengajak kalangan milenial berpartisipasi menjaga inflasi.

Seperti yang dilakukan Bank Indonesia kantor Perwakilan Kalimantan Selatan, yang Senin (25/06/2020) menggelar Move On Generation, Mengenal Kebijakan Bidang Moneter Khususnya Pengendalian Inflasi dan Kebijakan Makroprudensia.

Acara yang dikemas secara virtual dan melibatkan sejumlah mahasiswa ULM dan UIN Antasari Banjarmasin, juga menghadirkan Master Chef Indonesia, Agus Sasirangan.

Kegiatan sendiri meliputi diskusi, serta demo masak sehat Chef Agus Sasirangan yang diakhiri dengan lomba memasak makanan subsitusi dari salah satu pendorong inflasi di Kalimantan Selatan.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan (KPwBI Prov. Kalsel), Rahmat Dwisaputra, mengungkapkan Move On Generation sendiri salah satu upaya memudahkan masyarakat dimulai kalangan mahasiswa dan milineal memahami konsep dan upaya pengendalian inflasi.

Inflasi di Kalimantan Selatan dipicu oleh komoditas utama yakni ikan haruan (ikan gabus) dan beras lokal yang dikenal dengan nama beras Siam Unus. Tahun 2019 saja, angka inflasi berada di kisar 4,01 persen dan diatas rata-rata nasional.

“ Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengendalikan inflasi adalah mencari alternatif komoditas yang dapat menjadi substitusi dari komoditas yang menjadi pendorong inflasi, seperti ikan mas sebagai substitusi ikan haruan (gabus) dan beras pandak mengganti beras siam Unus. Ini hanya ajakan bukan larangan untuk mengkonsumsi ikan haruan dan beras siam unus,” kata Rahmat Dwisaputra, kepada wartawan, Kamis siang (25/06/2020).

Ditambahkan Rahmat Penggantian komoditas non ikan haruan dan beras siam unus, semata-mata dilakukan saat terjadi kelangkaan. Jadi masyarakat tidak terfokus harus mendapatkan dua komoditas tersebut, namun bisa mengganti dengan komoditas alternatif. Terkait itulah keterlibatan generasi muda sangat diperlukan untuk mendukung strategi “pengendalian” inflasi di masa kini hingga masa depan.

Pemahaman mengenai inflasi yang baik juga dapat mendorong masyarakat menerapkan bijak belanja dan konsumsi sebagai gaya hidup. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengendalikan inflasi adalah mencari alternatif komoditas yang dapat menjadi substitusi dari komoditas yang menjadi pendorong inflasi, seperti ikan mas sebagai substitusi ikan haruan (gabus).

Kegiatan kreasi memasak ikan mas merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan subtitusi ini kepada masyarakat. Selain itu, generasi muda juga dapat berkreasi melalui media sosial mengenai ide perihal kontribusi menjaga inflasi melalui perilaku sehari-hari.

Pemahaman mengenai inflasi yang baik juga dapat mendorong masyarakat menerapkan bijak belanja dan konsumsi sebagai gaya hidup.

Master Chef Indonesia, Agus Sasirangan, mengapresiasi Langkah yang ditempuh Bank Indonesia melibatkan anak-anak muda.

Dirinya pun rela membagikan ilmu memasak dengan bahan alternatif pengganti ikan haruan dan beras siam unus. Ia pun mengerahkan kemampuan membuat kuliner khas Banjar dengan memasak ikan mas sebagai pengganti ikan haruan, yang terkadang langka di Banjarmasin dan kota lainnya di Kalimantan Selatan.

“ Menarik sekali karena mengubah pola kebiasaan masyarakat, disaat dua komodiatas itu sulit ditemukan di pasaran, kita masih bisa diganti ikan mas dan tentunya masakan yang dibuat citarasa dan kandungan gizi dan protein yang sangat tinggi, hampir sama ikan haruan.ada Omega 3 bagus untuk mencegah penyakit kanker dan jantung,” ujar Agus yang mendemonstrasikan Tomyam Banjar Ikan Mas . (RA)