Pemerintah Diminta Lindungi Industri yang Masih Bertahan saat Pandemi

Ilustrasi memerangi wabah virus Korona (Adnan Reza Maulana/Jawa Pos)

Harianrakyataceh.com – Untuk mengatasi permasalahan ekonomi nasional yang memburuk akibat wabah Covid-19, pemerintah perlu menjaga sisi permintaan (demand) dan penyediaan (supply) masyarakat. Untuk itu, pemerintah perlu memberikan bantuan seperti bantuan langsung tunai (BLT) atau subsidi kepada masyarakat yang kurang mampu. Muaranya, agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus terus berkonsumsi.

Dari sisi supply, pemerintah berkewajiban untuk menjaga agar industri di tanah air tetap berpoduksi. Selain untuk menjaga ketersediaan stok berbagai barang yang dibutuhkan masyarakat, juga agar tenaga kerja tetap terserap. Selain itu, supaya pajak yang dapat dibayarkan kepada negara tetap mengalir. Dengan begitu, negara tetap memiliki pendapatan dan perekonomian kembali bergulir.

“Pemerintah perlu mendeteksi industri yang punya daya tahan baik selama wabah Covid-19. Mana industri yang tetap berjalan, mana yang tenaga kerjanya tetap terserap. Itu bisa menggerakkan perekonomian nasional. Industri seperti itu yang perlu dijaga dan dilindungi,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya Prof Dr Chandra Fajri Ananda dalam keterangan tertulisnya, Jumat (26/6).

Menurut dia, industri yang bertahan biasanya bahan bakunya tersedia di dalam negeri. Jadi, tidak terganggu dengan adanya wabah Covid-19 yang melanda dunia. Dia lantas mencontohkan industri hasil tembakau.”Bahan baku yang dipakai industrinya tersedia di dalam negeri sehingga tidak perlu impor dari negara lain,” sebutnya.

Prof Chandra meminta pemerintah untuk menjaga industri-industri yang masih bertahan dan berkontribusi besar bagi negara. Apalagi, industri seperti olahan hasil tembakau memberikan pemasukan kepada negara lebih dari Rp 162 triliun setiap tahunnya. “Pemerintah perlu menjaga penerimaan negara,” tegasnya.

Terkait isu kesehatan masyarakat, dia menilai tidak bisa hanya dengan menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya. Sebab, jika cukai rokok dinaikan, itu tidak akan menghentikan masyarakat mengkonsumsi rokok. Masyarakat tetap mengkonsumsi rokok namun beralih ke rokok ilegal yang tidak bayar cukai.”Ini lebih berbahaya lagi. Yang terjadi penerimaan negara dari cukai rokok turun, masyarakat tetap mengkonsumsi rokok ilegal,” sebutnya.

Doktor lulusan salah satu universitas di Jerman itu juga sepakat agar pemerintah tidak menaikkan cukai rokok pada tahun ini. Pasalnya, kondisi perekonomian yang berat membuat daya beli masyarakat rendah. Oleh sebab itu, semua pelaku industri perlu mendapatkan stimulus perekonomian dari pemerintah.

“Di masa seperti ini, pemerintah perlu mempertahankan industri yang menyerap banyak tenaga kerja. Agar tidak menambah jumlah pengangguran dan tidak menambah jumlah orang miskin,” jelasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar