Perdamaian Bupati dan Wabup Aceh Tengah Tertunda

Perdamaian Bupati dan Wabup Aceh Tengah Tertunda

Quote : Wakil Bupati Aceh Tengah, Firdaus
“Saya menerima draf perdamaian yang diajukan Forkopimda. Saya juga memohon maaf kepada Bapak Bupati dan masyarakat Aceh Tengah,”

BANDA ACEH (RA) – Prosesi perdamaian antara Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar dan Wakil Bupati Aceh Tengah Firdaus yang diagendakan berlangsung di Kejati Aceh batal, Senin (6/7), tertunda.

Tertundanya perdamaian itu lantaran Bupati Shabela tak hadir dengan alasan sakit. Sedangkan Wakil Bupati, Firdaus sudah hadir di Kejaksaan tinggi (kejati) Aceh, dengan sejumlah tokoh masyarakat Gayo.

Kasi Penkum Kajati Aceh, Munawal Hadi mengatakan, agenda erdamaian antara kedua pimpinan di Aceh Tengah yang tertunda, akan dijadwalkan kembali.

Dikatakam Munawal, ada surat Bupati Aceh Tengah dan ditandatangani dokter Hardianis, menerangkan Shabela Abubakar perlu menjalani istirahat pada tanggal 5 Juli sampai 8 Juli.
“Karena ini bagian inisiasi para Forkopimda. Namun kita hari ini mengalami kendala yaitu ada surat Bupati Aceh Tengah atas nama Sabela Abu Bakar perlu menjalani istirahat, “ungkapnya, Senin (6/7).

Sebagai pihak yang menginisiasi perdamaian, Munawal mengaku pihaknya dari Kejati Aceh sudah mempersiapkan segala keperluan maksimal mungkin.

“Semua sudah kita persiapakan untuk perdamaian antar bupati dan wakil bupati. seperti surat undangan Forkopimda, spanduk, konsumsi dan semua yang dibutuhkan lainnya untuk acara perdamian tersebut, “jelasnya.

Firdaus : Saya Juga Mohon Maaf
Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) Aceh Tengah Firdaus mengungkapkan, dari dulu ia tetap ingin berdamai dengan Bupati Shabela. Maka dari itu, lanjutnya, draf yang diajukan kepadanya sebagai proses perdamaian langsung disetujui.

“Saya menerima draf perdamaian yang diajukan Forkopimda. Saya juga memohon maaf kepada Bapak Bupati dan masyarakat Aceh Tengah,” kata Firdaus.

Ada pun salah satu poin dalam draf tesebut, kata Firdaus, yaitu memohon maaf kepada masyarat Aceh Tengah atas kejadian tersebut, agar nantinya tidak menjadi kebingungan di tengah masyarat. Karna semua keinginan dari rakyat dan tokoh masyarakat Aceh Tengah.
Mengenai tidak hadirannya Bupati pada saat ingin melakukan perdamaian. Firdaus mengaku tidak merasa begitu kecewa.

“Namun karena hari ini Bupati tidak hadir dan mendegar juga bahwa dia sakit. Sebenarnya kecewa sekali tidak. Karena setiap manusia bisa saja berencana. Namun Allah yang menentukan segalanya,” tutupnya.

Firdaus mengaku awal kisruh karena pembagian wewenang. Sebagai Wakil Bupati, dirinya tidak diberikan wewenang dan difungsikan serta diberdayakan sebagai unsur pimpinan daerah.

“Walau punya jabatan, tetapi tidak difungsikan, bagaimana kami membangun Aceh Tengah. Kisruh kemarin tersebut terjadi spontanitas saja,” kata Firdaus. (mag-82/min)