Sulaiman dan gubuk reotnya. Senin (6/7). Ahmadi - Harian Rakyat Aceh

SIMEULUE (RA) – Sulaiman (38) pria lajang yang miskin dan telah menjadi yatim piatu sejak 20 tahun lalu tanpa saudara kandung dan sempat terlunta-lunta hingga mendirikan gubuk, dengan ukuran lebar 2 meter dan panjang 2,5 meter.

Pria miskin yang perna duduk hingga kelas tiga Sekolah Dasar itu, dengan postur tubuh kurus dan pendiam serta kondisinya sedang sakit, saat ditemui Harian Rakyat Aceh, Senin (6/7), di gubuk reotnya yang ada di kawasan lorong Langenget, Desa Suka Jaya, Kecamatan Simeulue Timur.

“Baru satu bulan saya bangun rumah ini, seng bekas dan kayu bekas ini yang sama minta dan ada pemberian dari orang lain. Selama ini saya tidur diemperan rumah dan toko orang. Kedua orang tua saya telah meninggal dunia sekitar 20 tahun lalu, sedangkan saudara kandung saya juga telah tiada semuanya,” kata Sulaiman sambil menunduk.

Sulaiman yang memilik KTP, kartu Keluarga dan Kartu Indonesia Sehat itu, dengan kondisi fisik yang lemah. Untuk sehari-hari hanya mengandalkan makanan dari bantuan tetangga dan ubi kayu yang ditanam di depan rumahnya, dan setiap hari tanamannya itu menjadi sasaran empuk dari hewan ternak warga.

Dari pengakuan pria pemilik gubuk hanya memiliki satu ruang menjadi tempat tidur, tempat masak dan sekaligus menjadi ruang tamu, bahwa dua hari sebelumnya mendapat bantuan beras dari salah seorang teman sekelasnya masa di SD dan dimamfaatkan menjadi menu paling istimewa.

Sedangkan pakaian yang dimilikinya hanya tiga stel, yakni baju dan celana dari pemberian orang lain yang digunakan sehari-sehari dan juga menjadi pakaian untuk bekerja saat dirinya sedang sehat? untuk mencari sesuap nasi.

Saat ditanya persoalan bantuan yang bersumber dari Pemerintah, hanya mendapatkan dana berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT), sedangkan bantuan untuk pembangunan gubuk reotnya, belum ada tanda-tanda meskipun sangat diharapkan pria tersebut.

“Kalau bantuan yang ada hanya dana BLT saja yang saya terima, untuk bantuan lainnya belum ada dari Pemerintah. Tanah yang saya tempati ini merupakan tanah warisan almarhum orang tua saya,” imbuhnya.

Amatan Harian Rakyat Aceh, di dalam rumah yang ditempatinya itu dan persisnya dibawa ranjang tempat tidurnya terdapat lubang menganga sedalam sekitar setengah meter dan berisi air, yang digunakan untuk tempat ikan hidup air tawar hasil tangkapannya, yang sewaktu-waktu akan dimasak untuk kawan nasi.

Rumah tidak layak huni yang terbuat dari seng bekas dan kayu bekas tanpa MCK, yang terpaut hanya sekitar 1 kilometer lebih dari Kantor Bupati dan Kantor Dewan Simeulue itu, dia memamfaatkan air hujan sebagai sumber air bersih, pria itu bertahan hidup tanpa lampu penerang malam hari serta rentan diterpa penyakit.

“Saat ini dia sedang sakit, katanya dia sakit malaria. Dia itu kawan sekelas saya di SD, terakhir sama kami duduk dikelas dua SD, setelah itu dia tidak ada kabar lagi dan kembali bertemu tahun 2020, saya minta diantarkan kerumahnya,” kata Ilan, salah seorang teman akrabnya masa SD yang ditemui Harian Rakyat Aceh, senin (6/7).

Masih menurut Ilan, setelah mengetahui kondisi dan rumahnya kawan sekelasnya, berupaya memberikan bantuan berupa beras, sembako lainnya serta masih mengupayakan untuk pengalangan kemanusian untuk membantu terbangunnya satu unit rumah layak huni.

“Saat ini kita bersama tim grup WA Kabar Simeulue, sedang berupaya menggalang donasi kemanusiaan untuk saudara kita ini, semoga mendapat bantuan rumah layak huni. Berharap ada uluran tangan bantuan dari kita semua,” imbuhnya. (ahi/rus).