Menelisik Hidup Atlet Pencak Silat Aceh, Dulu Sumbang Emas Kini Kuli Kasar

Ardiansyah foto bersama anggota DPRA Asrizal H. Asnawi saat menerima bantuan sekop

LookLANGSA (RA)—Tubuhnya kini ringkih, kulitnya mulai sepuh, namun semangatnya tetap membaja untuk terus mengayunkan sekop diatas gundukan pasir pada penambangan galian C di tempat tinggalnya Kampung Tanjung Karang Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.

Kerja keras sebagai kuli kasar ini terus digeluti Ardiansyah, di usianya yang genap 66 tahun dia tidak berpangku tangan. Semangat muda yang terlatih matang sejak dahulu, menjadi prinsip hidup dimasa tuanya untuk terus berjuang menjalani kerasnya perubahan jaman.

Saban hari, dengan bermodalkan sekop, ketika mentari menyingsingkan cahayanya, Ardiansyah berpacu dengan waktu untuk memindahkan gundukan pasir dari tepian sungai ke dalam truck. Aktifitas ini dilakoni oleh Ardiansyah demi memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya dari hari ke hari.

“Beginilah hidup, jaman sekarang kita tidak bisa berharap banyak, ibaratnya bisa mengais pagi makan petang sudah Alhamdulillah. Mau tidak mau kerja memuat pasir dalam truck harus kita lakukan demi memenuhi kebutuhan rumah tangga, walaupun usia tidak lagi muda,” lirih Ardiansyah disela-sela istirahatnya.

Tidak banyak orang yang tahu, ternyata lelaki renta yang tetap semangat mengayunkan sekop dibawah sengatan matahari ini sebelumnya adalah seorang atlet silat Aceh professional. Bahkan di usia mudanya, lelaki yang kini hanya mengandalkan hidup pada hasil keringat siang ini pernah menyumbangkan medali emas pada ajang Pekan Olah Raga Nasional (PON) tahun 1973 di Jakarta untuk negeri.

Namun, kebanggaannya atas prestasi nasional tersebut tidak mampu menyelamatkan hidupnya di masa tua, hidupnya kini masih jauh dari kata sejahtera. Bahkan ironinya, sebagai atlet yang sangat berjasa atas perolehan emas satu-satunya pada PON 1973 dari cabang pencak silat mewakili Aceh, tidak mendapatkan perhatian apapun dari pemerintah.

Bertahun-tahun Ardiansyah menjadi kuli, kepiawaiannya dalam mengolah gerak tidak mampu membuatnya piawai dalam mengolah penghasilan hidup. Sehingga, dengan segala kepasrahan dirinya rela melupakan masa kejayaan dan beralih sebagai kuli yang kini menempatkannya sebagai pengeruk pasir galian C.

Namun demikian kondisi hidup ini tidak membuat Ardiansyah nestapa, dirinya tetap semangat melakoni aktifitas sebagai kuli galian C bersama puluhan rekan-rekannya. Bahkan, rumah dan mobil mewah bukan lagi harapannya, namun sekop sebagai penopang kerjanya.

“Dulu saya pernah jaya sebagai atlet penyumbang emas, tapi sekarang semua itu hanya kenangan, yang ril sekarang saya membutuhkan sekop untuk mengeruk pasir bukan lagi pujian. Alhamdulillah anggota DPRA pak Asrizal H Aznawi telah memenuhi harapan saya, dia telah memberikan saya sekop baru,” ungkap Ardiansyah penuh bangga. (dai)