Jafar saat hendak mengambil salah satu dayung Bebek untuk pelanggannya, Minggu (127). Ichsan Maulanarakyat aceh

Oleh : Ichsan Maulana, BANDA ACEH

Desir ombak dan gemuruh angin mengisi nuansa pinggiran laut Ulee Lheue. Orang-orang ramai berdatangan, menikmati akhir pekan. Sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Banda Aceh, Ulee Lheue tidak hanya menjajakan makanan, tetapi juga menghadirkan pilihan wahana dayung bebek.

Adalah Jafar, lelaki dengan umur tidak terlalu tua pun tak muda menjadi salah satu pengelola usaha dayung bebek. Mengunakan celana selutut, baju kaos dan tas selempang, ia duduk di atas kursi, tepat di dermaga kecil-kecilan yang ditempah. Biasanya, ia hadir sejak pukul 15:00 WIB.

“Kalau hari-hari biasa, jam 15:00 sudah buka. Tetapi, akhir pekan, seperti hari minggu, lebih awal, sejak pagi sudah buka,” jelas pria asal Lampaseh itu, Minggu (12/7).

Ia mengelola bebek dayung, sebanyak 8 unit. Secara umum, tidak hanya berbentuk bebek semata, namun juga ada yang berbentuk anjing laut. Kata Jafar, harga per unit, yang baru, bisa sampai 12-16 juta. Sedangkan yang second, bila beruntung bisa didapatkan hanya dengan harga 3 jutaan.

Lelaki dengan postur tubuh mungil itu mengaku sudah sejak lama bergelut di usaha dayung bebek, sejak tahun 2008. Dalam perjalanannya, Jafar mengaku bersyukur terhadap profesi yang dijalaninya dan merasa cukup.

“Saya sudah sejak 2008. Alhamdulilah cukup. Hari-hari biasa ada lah. Puncaknya biasa hari minggu, itu bisa dapat sehari, RP 800 ribu hingga 1 juta rupiah,” terang Jafar kepada Harian Rakyat Aceh.

Ada satu keuntungan Jafar, jika orang lain pengelolaan usaha dayung bebek menggunakan sistem bagi tiga, ia bagi dua. Sebab, segala yang terjadi menjadi tanggungjawabnya. Jafar bisa memperbaiki sendiri, menambah bebek yang terbuat dari fiber jika bocor, atau ngelas sendiri, bila dayunganya patah.

Untuk setengah jam mengayuh bebek di pinggiran laut Ulee Lheue, warga atau wisatawan hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 15.000. Selain warga Banda Aceh dan sekitarnya, banyak pula wisatawan dari luar Banda Aceh. Diakui Jafar, warga Gayo paling royal.

“Paling enak itu misal datang orang Gayo. Mereka gak nanyak berapa harga satu jam, naik dayung sepuasnya, nanti pas berhenti dibayar banyak. Kadang mereka kasih Rp 50.000 tanpa minta kembalian,” kenang Jafar.