BANJARMASIN (RA) – Guru Besar dan Pakar Ekonomi Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Prof. Handry Imansyah menyampaikan, salah satu isu terbesar terkait ketenagakerjaan Indonesia adalah persoalan produktivitas yang relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga.

Bahkan setelah terkena krisis ekonomi pada 1998, pertumbuhan produktifitasnya cenderung melambat.Hal ini diperparah dengan kondisi pasca pandemi covid-19, yang memberikan dampak luar biasa bagi dunia ketenagakerjaan di Indonesia, tidak terkecuali dengan Kalimantan Selatan.

Mengutip dari data Badan Pusat Statistik ( BPS,),  jumlah angkatan kerja di Indonesia saat ini tercatat sebanyak 131.005.641 orang. Persentase penduduk yang bekerja terhadap angkatan kerja di Indonesia dicatat BPS sebesar 94,66 persen. Menurutnya  kurang produktif  ini lantaran hanya memiliki 40 jam kerja dalam seminggu. Produktivitas buruh tersebut disinyalir sebagai alasan para investor enggan melirik Indonesia sebagai tujuan investasi.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat  sebagai bagian dampak covid-19. Secara langsung juga dampaknya luar biasa juga bagi ketenagakerjaan kita, termasuk yang ada di Kalimantan Selatan.Karena pengaruhnya kuat bagi penurunan produktivitas pekerja dan buruh kita. Berbicara Asia, di level ASEAN saja kita kalah bersaing,” ungkap Handry dalam diskusi virtual Media Brief – PWI Kalimantan Selatan, RUU Cipta Karya Sebuah Peluang Terciptanya Lapangan Kerja Bagi Pengangguran, Rabu (15/07/2020).

Handry Imansyah pun menyoroti sulitnya meningkatkan produktivitas tenaga kerja dalam waktu yang relatif singkat, termasuk pasca pandemi covid-19.Ini menjadi persoalan nasional yang selalu dikaji pemerintah, yang disebabkan minimnya sarana dan prasarana untuk pelatihan, baik untuk yang baru memasuki pasar tenaga kerja, maupun untuk tenaga kerja yang sudah aktif dan ingin meningkatkan kompetensinya.

“Dari data pertengahan dekade ini, pertumbuhan produktivitas kita hanya dapat skor 0,4. Ini tertinggal dibandingkan Filipina (0,7), Malaysia (1,0), dan Singapura (1,3). Bahkan tren lima tahun terakhir Vietnam dan Kamboja sudah lebih superior produktivitas buruhnya dibanding Indonesia, Bila tidak ingin ketinggalan dengan negara tetangga, peningatan produktivitas tenaga kerja harus segera dilakukan, sebab hal tersebut merupakan kunci untuk memanfaatkan bonus demografi. ” tambah Handry.

Oleh karenanya, Handry melihat pemerintah sebagai pengambil keputusan memang harus segera mendorong kebijakan dan insentif lain demi menarik investasi baru agar terhindar pertumbuhan ekonomi yang minus.

“Kesempatan kerja harus dibuka, tidak bisa dinafikan perlu ada investasi baru. Insentif-insentif dan kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business yang sudah bagus ini harus ditingkatkan lagi melalui RUU Cipta Kerja,” Cetusnya.

Sementara Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalsel, H.Siswansyah, SH,MM, mengapresiasi pemikiran yang disampaikan ekonom Kalimantan ini, sebagai gagasan memajukan sumber daya manusia Indonesia, termasuk di daerah-daerah seperti halnya Kalsel.Namun persoalan utama adalah bagaimana mendorong semangat mereka ini, sebagai dampak yang luar biasa pandemi. Pihaknya sendiri terus membangun komunikasi dengan industri-industri, termasuk penguatan kewirausahaan dan mengembangkan picthing industri ( kemampuan penting yang dimiliki setiap profesional).

“Kita ingin peningkatan produktivitas segera. Kuncinya adalah bagaimana kita melibatan industri dalam pengembangan vokasi. Termasuk mendorong sekolah-sekolah kejuruan, yang  bisa menerapkan satu sistem ganda. artinya, yaitu kurikulum yang tidak hanya belajar di kelas saja, tapi kombinasi. Ini yang sekarang sedang diupayakan untuk dibangun. Termasuk memagangkan siswa kepada industri-industri,” Ujar Siswansyah. (Ra)