Oleh: Ichsan Maulana

Dunia futsal di Kabupaten Bireuen terus berkembang. Adanya kompetisi, wasit berlisensi nasional, hingga geliat sejumlah tim futsal dengan garapan yang terbilang (menuju) moderen. Salah satu tim tersebut adalah Ikatan Muda Sebaya (IMS), tim dengan slogan ‘We Are Family’ ini didirikan sejak 19 Juli 2017.

Adalah Zulfikar, S.Pd, seorang Operator MIN 4 Juli, mendedikasikan sebahagian hidupnya di dunia si kulit bundar. Selain bergerak di futsal, ia juga berkiprah di sepakbola. Salah satu prestasi terbaik lelaki dengan perawakan hitam manis itu adalah, menjadi bagian dari tim pelatih yang membawa tim sepakbola Bireuen meraih mendali emas di ajang Porseni tahun 2016.

IMS Futsal bisa dibilang cinta terbaiknya. Bermodalkan semangat dan ketulusan tekad, beberapa anak-anak di Bireuen ia kumpulkan, menyatukan visi untuk menjadi salah satu tim yang dapat memberikan warna di Aceh, istimewa di Bireuen. Meski belum ada prestasi di level mayor, tetapi dua tropi sebagai runner-up telah diraih tim dengan warna kebesaran hijau itu. Di usia IMS yang ke tiga, tim ini bertekad melampaui apa yang sudah ada.

“Alhamdulillah kita pernah menjadi runner-up Piala Pemuda Cinta Damai-Pulo Lawang, Januari 2019, dan runner-up Piala Scorpion Cup II, Agustus 2019. Di ulang tahun IMS ke tiga, kita bertekad lebih baik. Memperbaiki capaian yang ada. Banyak hal yang perlu dibenahi,” jelas lelaki yang akrab disapa Fikar itu.

Katanya, selama ini tim IMS dibangun dengan kebersamaan. Untuk kebutuhan tim, selain merogoh dari kocek pribadi Fikar, tim juga disupport oleh Capt The Barber, yang ownernya juga pemain IMS. Di luar dua itu, acap kali pemain urung rembuk dengan berbagi saran, pun mengadakan iuran bersama untuk kebutuhan tim. Hal ini dimaksudkan agar terciptanya kebersamaan yang lebih erat, merasa bahwa IMS adalah milik bersama.

Pada momen tiga tahun ulang tahun IMS, sejumlah kegiatan dilakukan, seperti mengadakan turnamen anniversary, dengan mengundang tim futsal seperti Komet Fc, juga Para 81 Futsal. Turnamen segitiga itu dilaksanakan Minggu (19/7).

“Selain turnamen tersebut, kami juga menyantuni anak yatim. Serta syukuran seperti ngopi bersama dan bakar-bakar ikan. Kegiatan sosial seperti menyantuni anak yatim penting juga bagi pemain agar empati itu melekat. Ini juga bagian dari anjuran agama, sekaligus manifestasi dari pada pengajian rutin yang seminggu sekali IMS lakukan,” tuturnya kepada Harian Rakyat Aceh, Minggu (17).

Sejauh keberadaan tim IMS, mereka juga berkontribusi terhadap perkembangan dunia futsal di kabupaten yang terkenal dengan makanan khasnya, Nagasari. Kapten tim, Jihatul Fazal terpilih untuk memperkuat Bireuen pada ajang Pekan Olahraga Rakyat Aceh (PORA) tahun 2018 lalu. Sementara itu, Rajul Qari Alfaqih, Mukhlis Dahri Winata, dkk juga digadang-gadang sebagai calon pemain futsal Bireuen pada PORA mendatang.

“Selamat ulang tahun IMS Futsal yang ke tiga. Saya bersyukur bisa tumbuh dan berkembang di tim ini, hingga masuk ke tim kabupaten untuk bermain di ajang PORA. Mudah-mudahan dari IMS lahir banyak pemain yang dapat mengharumkan nama daerah, Aceh ataupun mungkin negara. Amin,” ucap Fazal.