Oleh: Tgk Dr Munawar A. Djalil, MA

Setiap bulan Zulhijjah tiba, kita teringat kepada kisah Nabi Ibrahim AS atas perintah Allah sudi menyembelih anak kesayangannya yaitu Nabi Ismail AS. Perintah ini hakikatnya adalah bentuk ujian ketaatan Beliau kepada Allah, betapa Ibrahim mau mengorbankan dengan tulus sesuatu yang dicintainya untuk mengharap ridha Allah SWT.

Hal ini nampak dari Firman Allah Surat Ash Shafat Ayat 102, maksudnya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Pengorbanan Ibrahim AS ini pula bukan semata-mata didorong oleh perasaan taat setia yang membabi buta tetapi meyakini bahwa perintah Allah SWT itu harus dipatuhi, dan pada masa berikutnya pengorbanan ini telah disyariatkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya yaitu dengan menyembelih hewan sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT.

Hakikatnya qurban bukan semata-mata menyembelih hewan saja dan dagingnya kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Akan tetapi secara filosofis, pengorbanan bisa berdimensi luas. Pengorbanan adalah sebagai sebuah konsekuensi logis dari keyakinan untuk mendekati diri kepada Allah yang mesti terus diperjuangkan untuk mencapai kesalehan baik ritual maupun kesalehan sosial.

Karena dilihat dari makna bahasa Arab kata “Qurban” bermakna mendekatkan diri. Dalam literature fiqh Islam dikenal dengan istilah Udh-hiyah, sebagian ulama menamakannya dengan istilah An-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam Al-quran Surat Al-Kautsar Ayat 2: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah“. Artinya Shalat yang didirikan adalah bentuk dari kesalehan ritual sementara berkorban sebagai bentuk kesalehan sosial.

Pengorbanan Para Nabi

Dalam konteks sejarah para Nabi, misalnya Rasullullah Muhammad SAW dan para sahabatnya telah menunjukkan pengorbanan yang sangat besar dalam berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini. Perjuangan Rasul dan para sahabat ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang diderita oleh Umat Islam di Mekkah ketika itu. Umat Islam disiksa, ditindas dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.

Rasulullah SAW pernah dilempari batu oleh penduduk Thaif, dianiaya oleh Ibnu Muith. Leher beliau pula pernah dicekik dengan usus onta sedangkan Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal Bin Rabbah ditindih dengan batu besar yang panas ditengah sengatan terik matahari siang. Yasir dan keluarganya dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah ditusuk kemaluan beliau dengan sebatang tombak.

Sejarah Nabi Yusuf AS yang disiksa dan dibuang ke sebuah sumur tua oleh para saudaranya sendiri adalah bagian dari pengorbanan beliau menegakkan kebenaran. Sejarah Nabi Musa AS yang mengalami tekanan, tidak hanya dari Fir’aun, tetapi juga kaumnya sendiri, adalah juga wujud dari pengorbanan beliau. Berbagai pengorbanan lainnya telah dilakoni oleh para Nabi tempo dulu.

Pengorbanan Aceh

Dalam sejarah Aceh pula, pengorbanan rakyat di bumi Iskandar Muda ini telah dipersembahkan untuk sebuah bangsa besar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebut saja ketika sekutu kembali memasuki wilayah Republik Indonesia dalam agresi I dan II (1947-1949) dan saat itu seluruh wilayah Republik Indonesia telah dikuasai, Aceh dengan bangga membeli dua pesawat untuk fasilitas diplomasi dan pada masa yang sama, Aceh mengumandangkan suara melalui Radio Rimba Raya bahwa Republik Indonesia masih “exist” sebagai sebuah negara berdaulat dalam peta dunia.

Di samping itu pengorbanan rakyat Aceh termasuk para tokohnya yaitu Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Indra Puri dan Teungku Krueng kale ketika menolak godaan Tengku Mansur dari Sumatera Timur untuk mendirikan negara sendiri.

Karena bagi Aceh hanya ada satu Negara yaitu Republik Indonesia dan hanya satu perang yaitu perang sabil mempertahankan negara.

Pengorbanan yang tulus yang ditunjukkan rakyat Aceh ketika itu hingga akhirnya mendapat penghormatan sangat besar dan pemerintah memberikan sebuah gelar “Aceh sebagai daerah modal”. Pada dasarnya tonggak sejarah ini akan menambah lagi semangat nasionalisme dalam kesediaan mengorbankan apa saja demi tegaknya Republik ini.

Namun yang mesti diingat bahwa Aceh mempunyai kedudukan yang sangat fundamental dalam sejarah bangsa Indonesia. Sehingga sangat pantas kalau penasehat Mantan Presiden B.J Habibie, Dewi Fortuna Anwar pernah mengatakan: “Aceh bisa hidup tanpa Indonesia, tapi Indonesia tidak akan bisa hidup tanpa Aceh”. Karenanya pengorbanan yang ditunjukan oleh rakyat Aceh tempo dulu, mesti menjadi contoh bagi generasi Aceh saat ini dalam rangka membangun kembali identitas diri dan identitas sosial keacehan.

Makna Pengorbanan

Meneladani Nabi sebenarnya sangat krusial dalam membangun eksistensi moral dan spiritual kita dan di bulan Zulhijjah ini, Nabi Ibrahim AS merupakan Nabi yang paling tepat untuk kita teladani.

Karena kehidupan beliau telah menorehkan nilai-nilai luhur yang akan membangun peradaban manusia menjadi bermartabat. Beliau mengajarkan banyak hal kepada kita, makna pengorbanan, makna ketulusan keimanan, makna kecintaan dan lain sebagainya.

Perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih putranya hanya bisa dihadapi dengan penuh kesabaran oleh orang-orang yang memiliki keimanan yang sejati saja. Dan keluarga Nabi Ibrahim adalah simbol kesejatian iman tersebut.

Sang ayah yang mendapatkan perintah dengan penuh keyakinannya melaksanakan perintah Allah yang amat berat tersebut. Sang isteri, menerima perintah tersebut dengan pasrah dan kesabaran, sedangkan obyek dari perintah tersebut, sang anak yaitu Ismail AS, menerima dengan tulus perintah tersebut

Pendek kata, tidak ada masalah yang rumit kecuali dengan cara berkorban di jalan Allah. Sebab dengan berkorban dan semata-mata mencari ridha Allah, penyakit individualisme, kesombongan, keserakahan, arogansi, kedengkian serta penyakit mental dan sosial lainnya itu bisa diatasi. Dari sinilah generasi terbaik benar-benar mampu membangun suatu masyarakat yang taat kepada Allah SWT dengan kehidupan yang penuh perdamaian, penuh rasa cinta dan peduli sesama.

Ironi memang saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Hal ini merupakan sebuah fenomena yang menyedihkan.

Hari raya qurban yang sebentar lagi akan dirayakan, sebenarnya menjadi momentum untuk memahami kembali esensial pengorbanan kita sehingga terwujudlah dua kesalehan yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berqurban kita telah melaksanakan perintah Allah SWT yang bersifat transedental dan kesalehan sosial, terefleksikan secara jelas dalam pembagian daging qurban. Perintah berqurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya.

Dengan disyari’atkannya qurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal keimanan kepada Allah SWT, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap peduli dan saling menyayangi terhadap sesama. Allahu alam.

Penulis adalah Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Blang Beringin Cot Masjid Banda Aceh.

Editor: Rusmadi