Mengikuti Patroli Gabungan TIM TNGL 50 Ton Kayu Ilegal Loging Dimusnahkan

Kayu-kayu hasil pembalakan liar di kawasan TNGL, Aceh Tenggara, yang berhasil disita tim, Sabtu (26/7). (nauval/rakyat aceh)

KUTACANE (RA) – Bukan persoalan mudah untuk bisa mengawasi seluruh area hutan di di dalam Taman Nasional Gunung Lauser, Aceh Tenggara. Luasnya lahan hingga beratnya medan menjadi tantangan untuk mencegah illegal logging.

Rakyat Aceh Sabtu (27/7) kemarin, mendapat kesempatan ikut patroli illegal logging bersama tim TNGL Kutacane dan Mitra, menyusuri Resort Lawe Mamas,
“Resor Lawe Mamas, Aceh Tenggara, memang masih menjadi lahan yang strategis para pembalak liar melakukan aksinya,” kata Kepala Resor TNGL Lawe Mamas, Sabarrudin Pinim, kepada Rakyat Aceh.

Kendati patroli rutin digencarkan TIM TNGL, Kutacane, namun para pelaku Illegal logging seakan tidak pernah jera. Hal ini ditandai masih ditemukananya Lokasi lokasi perambahan hutan di kawasan lindung tersebut.

Empat lokasi itu tersebut terletak berdekatan atau dalam satu pegunungan. Namun untuk sampai lokasi, perlu waktu dua jam lebih pendakian menyususuri lereng bukit.

“Patroli kali ini setidaknya kita menemukan 50 ton Kayu. Dimana 30 ton sudah diolah dan 20 lainnya masih dalam bentuk balok besar,” kata Sabar Pinim lagi.

Tidak tanggung, kayu yang diambil jenis meranti, damar, dan merbau. Untuk para pelaku ada yang perorangan maupun kelompok. Bahkan dalam beberapa kasus, ada keterlibatan pemuka masyarakat dan oknum pemerintah.

“Dalam giat pemusnahan 50 ton kayu hasil perambahan hutan ini, kita juga libatkan pihak Den Inteldam Iskandar Muda,” kata Sabar Pini lagi.

Pemusnahan dilakukan yakni dengan cara mencincang kayu hasil balak liat itu dengan ukuran-ukuran kecil. Hal itu dilakukan untuk memberi efek jera.

18 Ribu Hektar Kawasan TNGL di Aceh Tenggara Rusak
Sementara dalam satu kesempatan, kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Lauser, Ir Jefri Suyafrianto, mengatakan hingga kini seluas 18 ribu hektar hutan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Aceh Tenggara rusak.

“Kerusakan hutan dalam kawasan TNGL wilayah Aceh dan Sumatera lebih dari 35 ribu hektare sampai akhir 2019. Untuk kawasan Kutacane mengalami kerusakan terparah hingga 18 ribu hektare,” kata Jefri Susyafrianto kepada Rakyat Aceh, Kamis (20/2).

Kerusakan terjadi tersebar di sejumlah resort. Hal itu terlihat dari penyusunan rencana pengelolaan jangka panjang (RP-JP) TNGL priode 2020-2029 mendatang.
Luasan hutan di Aceh sekitar 3.562 juta hektar atau 62,75 persen dari luas Aceh. Rinciannya, hutan konservasi 1.057.942 hektar, hutan lindung seluas 1.790.256 hektar, dan hutan produksi 714.083 hektar.

Hasil hitungan Walhi Aceh menunjukkan, masyarakat Aceh membutuhkan 1,3 juta meter kubik kayu per tahun. Namun, dari kebutuhan tersebut hanya sebagian kecil diperoleh secara sah. Sebagian besar kayu beredar di pasaran merupakan hasil pembalakan.

“Kayu-kayu tersebut dijual bebas di sejumlah panglong kayu di Aceh, tanpa ada pemeriksaan dari aparat penegak hukum atau dari Dinas Kehutanan,” kata M Nur, Direktur Walhi Aceh.

Sementar berdasarkan informasi dari sejumlah sumber di lapangan menyebutkan, kejahatan illegal logging bakal terus terjadi. Bahkan, kegiatan merusak lingkungan tersebut, tidak hanya melibatkan masyarakat, tapi juga oknum pemerintah yang seharusnya menangkap pelaku. (val/min)