Pengabdian di Zona Kuning

LAPORAN DEDE – ACEH TAMIANG

KABUPATEN Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pernah ditetapkan sebagai daerah zona merah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) melalui Surat Edaran Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah pada tanggal 2 Juni 2020, bersama delapan kabupaten/kota lainnya. Namun predikat zona ‘momok’ itu tidak berlangsung lama, pada 8 Juni 2020 hingga kini status Aceh Tamiang berubah menjadi zona kuning.

Kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini dinilai rawan Covid-19, karena menjadi perlintasan antar provinsi. Sebagai pintu gerbang Serambi Mekkah, Aceh Tamiang sigap mencegah penularan virus baru tersebut.

Sempat ada sejumlah warganya yang dinyatakan positif Covid-19 versi uji swab, tapi belakangan dapat sembuh. Hampir rata-rata warga Aceh Tamiang yang terpapar corona itu memiliki riwayat perjalanan dari daerah transmisi.

Sejumlah warga tetap mengenakan masker saat bekerja ketika Tim Wasev Pusterad datang meninjau lokasi TMMD 108 Kodim 0117/Atam di Rimba Sawang, Tenggulun, Aceh Tamiang, Kamis (23/7).

Kasus positif Covid-19 di tanah air kian hari terus bergulir, menjadi pandemi. Sebagai antisipasi, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh Tamiang mendirikan Posko Perbatasan Aceh-Sumut.

Setiap penumpang kendaraan wajib diperiksa suhu tubuh bahkan di rapid test. Hingga suatu hari pada tanggal 27 Juni 2020 masyarakat Aceh Tamiang dihebohkan ada seorang dokter dan perawat dinyatakan positif Corona. Dua petugas medis berinisial El (29) dan EW (29) ini bekerja di Puskesmas Simpang Kiri, Kecamatan Tenggulun.

Secara kebetulan salah satu desa di Tenggulun menjadi target program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-108 Kodim 0117/Aceh Tamiang TA 2020.

Pelaksanaan TMMD dibuka oleh Dandim 0117/Atam Letkol Inf Deki Rayusyah Putra pada 30 Juni 2020. Artinya selang tiga hari Satuan Tugas (Satgas) TMMD harus masuk ke wilayah zona rawan Covid-19 tersebut. Sasaran fisik TMMD salah satunya membuka ruas jalan meliputi Desa Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda dan Desa Rimba Sawang, Kecematan Tenggulun, tempat kedua pasien Covid-19 itu diisolasi.

Ketua Tim Wasev Pusterad, Brigjen TNI Wahyu Sapto Nugroho menyapa prajurit yang terlibat program TMMD 108 saat melakukan peninjauan ke lokasi kegiatan fisik Bhakti TNI ini, di Aceh Tamiang, Kamis (23/7).DEDE-HARIAN RAKYAT ACEH

Kabupaten Aceh Tamiang memiliki 12 kecamatan dan 213 desa tersebar di wilayah hulu dan hilir. Sedangkan Kecamatan Tenggulun meliputi lima desa terdiri atas Desa Simpang Kiri, Tenggulun, Tebing Tinggi, Selamat dan Rimba Sawang yang menjadi titik pelaksanaan TMMD yang mengusung tema “Pengabdian untuk Negeri” tahun ini.

Konon Rimba Sawang merupakan kampung tertua, tapi paling tertinggal di Tenggulun dalam segi infrastruktur. Atas dasar itu desa ini dipilih secara prioritas dan tepat sasaran oleh TNI. Objek TMMD kali terbilang berat, dengan medan menantang. Pasalnya, lokasi TMMD dikelilingi perkebunan kelapa sawit milik perusahaan maupun pribadi.

Secara geografis titik vital TMMD juga berada di perbukitan terjal bersanding dengan kawasan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BB-TNGL) Resort Wilayah IV Besitang, Sumut dan aliran sungai besar Aceh Tamiang yang sering meluap.

Tak ayal, faktor cuaca dapat menghambat kegitan TMMD. Terutama pada item pengerasan jalan sepanjang 3.100 meter itu. Bila turun hujan kegiatan ini terpaksa jeda karena jalan licin. Sementara target pelaksanaan satu bulan wajib rampung.

“Kendalanya hujan, faktor cuaca. Kemarin itu hujan sempat dua hari berturut, disitulah kendalanya membuat angkutan material tidak bisa masuk,” kata Sertu Nizam selaku Batipuanter bersama Serka S Hartato selaku Batiwanwil Kodim 0117/Aceh Tamiang kepada Harian Rakyat Aceh di lokasi pengerasan jalan Dusun Sejahtera, Desa Seumadam pada hari ke 13 TMMD digelar, Minggu (12/7).

Dua personel TNI mengawal iring-iringan truk pengangkut material untuk pengerasan jalan TMMD di sebuah jembatan kayu yang rusak berlubang dan terendam banjir, di Dusun Tanjung Periuk, Desa Rimba Sawang, Tenggulun, Aceh Tamiang, Minggu (12/7). DEDE-HARIAN RAKYAT

Hujan memang sudah faktor alam yang tidak bisa dihindari. Untuk mengejar ketertinggalan limit waktu, personel TNI terpaksa menambah jam kerja dan armada angkutan. “Kalau penyampaian dari Dandim optimis target tetap terkejar. Misalnya hari ini cuaca hujan, berarti untuk besoknya harus ditambah volume kerjanya. Itulah disiasati bila hari hujan besok armada ditambah, untuk menutupi yang kemarin tidak kerja,” ujarnya.

Sedikitnya empat unit alat berat dikerahkan untuk meratakan badan jalan. Pada H+13, tutur personel itu, proses penimbunan jalan sudah sampai ke titik finis 3.100 meter. Saat itu Satgas TMMD tengah fokus melanjutkan penyekrapan dan penimbunan jalan 900 meter lagi, sehingga total pembangunan jalan menjadi 4 kilometer. “Saat ini sudah tahap penimbunan, penyekrapan jalan sudah tercapai 4 kilometer,” sebut dua personel yang bertugas sebagai pengawas TMMD ini.

Di sisi lain, selama pelaksanaan TMMD, personel TNI maupun warga mengaku selalu waspada terhadap peyebaran wabah Covid-19 dengan selalu menerapkan protokol kesehatan dari pimpinan. Selain mengenakan masker, sebelum, saat dan sesudah beraktivitas gotong royong mereka wajib cuci tangan yang disediakan di Posko.

Meski miliki stamina prima, namun tingkat kekhawatiran prajurit TNI terhadap penularan virus asal Wuhan sangat tinggi. Apalagi Aceh Tamiang belum termasuk zona hijau dari Covid-19. Meski terbilang minim, namun kasus positif corona masih ditemukan.

“Kekhawatiran pasti ada, cuma kita Bismillah saja lah. Bupati juga sudah mengumumkan daerah kita masuk zona kuning, tentu kita tetap menjaga dan waspada disiplin melakukan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Itu saja lah paling,” terang dua personel Bintara tersebut.

Minggu 12 Juli 2020 itu, langit Aceh Tamiang tampak diselimuti awan kelabu. Dari pagi menjelang siang sang surya pun seolah tak mampu menembusnya. Mendung pudar itu ternyata sisa dari hujan minggu dini hari. Hujan semalam itu terjadi di wilayah pucuk (pegunungan-red) Tenggulun. Hujan di hulu Tamiang biasanya kerap menyisakan banjir kiriman di hilirnya.

Di tengah gerimis dua personel TNI tampak berjaga di sebuah jembatan rusak yang terendam banjir. Tentu sulit dilalui karena permukaan jembatan ditutupi air sedalam lutut orang dewasa. Sementara mereka diperintahkan mengawal iring-iringan armada dump truk muatan material tanah timbun untuk pengerasan jalan TMMD. Kalau tidak dipandu, roda truk bisa saja terperosok, karena broti lantai jembatan sudah banyak yang berlubang.

Untungnya sebelum banjir TNI bersama warga swadaya memperbaiki jembatan sepanjang 12 meter itu menggunakan batang kelapa.

“Banjir baru kali ini terjadi, imbas air sungai meluap. Kita gantian berjaga disini, karena ini akses vital satu-satunya untuk perlintasan mobil pembawa material masuk,” ujar Praka Andre, personel Batalyon Infanteri Raider Khusus 111/Karma Bhakti Tualang Cut.

Selain fokus mengawal angkutan, Praka Andre tidak mengabaikan protokol kesehatan. Bergerak dari Posko ia salalu mengenakan masker. Tidak pernah ada kerumunan, karena setiap harinya personel dibagi tugas kerja.

“Kita kalau kerja hanya 10-15 orang digabung dengan warga. Ada juga kekhawatiran dengan Covid, karena kita kan, mana tau-tau virus itu ada dimana,” ucapnya.

Apalagi, sambung Andre, ada kabar seorang dokter diisolasi di Simpang Kiri, Tenggulun karena terpapar corona. Tempat isolasi pasien positif itu masih satu wilayah dengan aktivitas TMMD. Sementara ada 15 personel TNI tinggal di Posko Rimba Sawang, Tenggulun.

Zona Kuning
Pada tanggal 15 Juli 2020, Kadis Kesehatan Aceh Tamiang, Ibnu Azis menyatakan, dua pasien positif Covid-19 berinisial El dan EW yang bertugas di Puskesmas Simpang Kiri, Kecamatan Tenggulun, masih menjalani isolasi mendiri di wilayah setempat. Masa karantina yang seharusnya berakhir 12 Juli 2020 malah ditambah satu minggu lagi.

Pascakedua pasien ditetapkan positif corona seyogianya wilayah Kecamatan Tenggulun ditetapkan sebagai zona merah. Tapi menurut Azis di Aceh Tamiang tidak menggunakan zona per wilayah atau level kecamatan seperti di daerah lain.

“Ya, kalau aturannya tetap zona merah bila ada kasus positif. Tapi saat ini secara keseluruhan Kabupaten Aceh Tamiang berstatus zona kuning. Jadi kalau zona kuning mau dihapus harus kita sembuhkan semua pasien baru kita usulkan untuk zona hijau,” jelasnya.
Baru-baru ini Dinkes Aceh Tamiang mendata, tujuh warga Aceh Tamiang terpaksa diisolasi di luar rumah, karena terpapar virus corona. Hal itu dilakukan untuk pencegahan terjadinya klaster baru. Sebab, mereka memiliki hubungan keluarga, tinggal dalam satu lorong dan berstatus orang tanpa gejala (OTG).

Penegasan serupa jugu disampaikan Bupati Aceh Tamiang, Mursil. Ia menyatakan, hingga akhir bulan Juli 2020, kabupaten berjuluk ‘Bumi Muda Sedia’ ini masih manyandang status zona kuning Covid-19. “Aceh Tamiang masih kuning belum bergeser kita. Kemarin tambah lagi tujuh orang dari Kejuruan Muda sudah diisolasi,” ungkap Mursil yang dihubungi Rakyat Aceh, Senin (27/7).

Bupati pun ikut merasakan bagaimana sulitnya menjalankan program TMMD dimasa pademi saat ini. Selaku kepala daerah dia sangat mengapresiasi operasi-operasi TNI yang pro kepada masyarakat pedalaman. Faktanya, daerah-daerah yang selama ini terisolir bisa dijangkau dan ditembus dengan waktu yang singkat. Di tahun berikutnya, kata Mursi, Aceh Tamiang masih sangat memerlukan program TMMD, karena masih ada wilayah belum didukung infrastruktur yang memadai.

“Alhamdulillah, masyarakat Rimba Sawang dan Seumadam sangat berterimakasih pada pelaksanaan TMMD tahun ini. Terutama terhadap akses umum pembukaan jalan, biasanya masyarakat harus jalan memutar jauh, dengan adanya TMMD jarak tempuh sudah pendek,” ujarnya.

Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Katim Wasev) Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad), Brigjen TNI Wahyu Sapto Nugroho menerangkan, program TMMD telah berjalan selama empat dekade. Tentunya banyak perkembangan dan inovasi yang ditorehkan prajurit TNI kepada masyarakat , bangsa dan Negara. Khususnya di wilayah desa pedalaman dan tertinggal yang merupakan benteng pertahanan terakhir NKRI.

“Jadi selaku penanggungjawab TMMD dilapangan, kami akan mengevaluasi, kaji ulang sebagai masukan kedepan sehingga kegiatan TMMD tetap bisa dipertahankan,” imbuh Wahyu.

Jenderal bintang satu ini tidak menafikan merebaknya Covid-19 banyak sekali orang yang terganggu, tidak terkecuali pelaksanaan program TMMD. Tapi ia memastikan program TMMD tetap berjalan dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Aturan-aturan itu, tidak boleh diabaikan. Wahyu memberi contoh kedatangan rombongan Tim Wasev ke lokasi TMMD, baik TNI dan warga semua pakai masker.

“Ini aturan yang harus dilaksanakan jangan sampai terabaikan. Semuanya kita berbuat untuk rakyat dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” jelas lulusan Akmil 1988 ini usai meninjau satu-persatu sasaran fisik pelaksanaan TMMD Reguler ke 108 Kodim 0117/Aceh Tamiang TA 2020 menggunakan sepeda motor trail dari Desa Seumadam ke Rimba Sawang.

Protokol kesehatan adalah perbedaan pola pelaksanaan TMMD setelah muncul virus corona. Akibat pandemi, Brigjen Wahyu Sapto Nugroho menyatakan, ada beberapa daerah di Indonesia yang tidak melaksanakan TMMD, karena lebih fokus kepada penanganan Covid-19. Kemudian pelibatan personel dalam operasi ini juga tidak maksimal, karena memang situasi tidak memungkinkan. Di Provinsi Aceh hanya tiga kabupaten yang melaksanakan TMMD, yakni Kabupaten Nagan Raya (Kodim 0116), Meulaboh, Aceh Barat (Kodim 0105) dan Aceh Tamiang (Kodim 0117).

“Tapi target tetap dapat demi pengabdian kepada negeri ini. Tentang hasilnya nanti tanya aja sama rakyat lah ya, yang merasakan begitu bagaimana manfaatnya,” tukas mantan Wadan Puspom TNI AD tersebut.

Over prestasi
Komandan Kodim (Dadim) 0117/Aceh Tamiang Letkol Inf Deki Rayusyah Putra merincikan, sasaran fisik yang dituju ada enam yaitu, pengerasan jalan lebar 6 meter dan panjang 3.100 meter, pembuatan talud stabilisasi lereng bukit sepanjang 41 meter dan tinggi 7 meter, pembangunan gorong-gorong empat titik, perawatan tiga unit jembatan, rehab rumah tidak layak huni (RTLH) dua unit dan pengecatan Masjid dua unit. Untuk sasaran non fisik ada empat item yakni, sosialisasi kesehatan Keluarga Berencana (KB-Kesehatan), wawasan kebangsaan, bahaya narkoba dan penyuluhan pertanian.

Adapun pelibatan personel dan masyarakat dalam Satgas TMMD kali ini berjumlah 150 orang masing-masing, TNI (135 orang), Polri (10 orang), Pemda (5 orang) dan masyarakat (30 orang). Sejak pembukaan TMMD hingga menjelang penutupan, Deki selalu menginstruksikan protokol kesehatan bagi Satgas, saat di Posko maupun di lapangan.

“Anjuran protokol kesehatan pencegahan Covid-19 juga kita diselipkan dalam kegiatan sosialisasi Kesehatan/KB, mengajak lapisan masyarakat sering cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak aman,” sebut mantan Danden Intel Kodam IM ini.

Hingga H-2 penutupan, progres pekerjaan TMMD secara keseluruhan sudah mendekati 100 persen. Dandim menyatakan, dalam waktu satu minggu terakhir pihaknya tetap maksimal bekerja. Saat ini Satgas TMMD terus memacu volume pengerasan jalan yang masih kurang.

“Kalau sesuai RAB titik 0 hingga 3.100 kilometer sudah finis. Yang difokuskan saat ini adalah tambahan pekerjaan (over prestasi) dari titik 3.100 sampai ke ujung Desa Rimba Sawang sepanjang 900 meter, jadi totalnya 4 kilometer,” terang Deki.

Selain jalan, over prestasi lain yaitu, rehab jembatan kayu di kawasan Dusun Tanjung Periuk yang sering kebanjiran. Jembatan di ruas jalan utama tersebut akan direhabilitasi menggunakan bahan kayu yang keras dan cocok dengan kondisi disitu.

“Kayu yang kami pesan itu jenis paha rusa, biasanya kayu itu untuk bahan kapal boat nelayan. Semoga sebelum penutupan 29 Juli rehab jembatan itu sudah selesai,” ungkap Dansatgas TMMD ini.

Dan semoga saja, TMMD Reg 108 ini akan menjadi kado manis Dandim 0117/Atam Letkol Inf Deki R Putra yang disebut-sebut akan pindah tugas mendapat promosi jabatan baru di kesatuan TNI AD di luar Aceh.