Penebangan liar, Alih fungsi lahan dan buang sampah ke danau penyebab air menyusut di danau wisata lut tawar takengon. aceh

Prihatin melihat kondisi Danau Lut Tawar, Takengon, Aceh Tengah. Dimana setiap tahun airnya dilaporkan terus menyusut. Secara kasat mata, kondisi ini tidak terlepas dari bertambahnya penduduk yang membuang sampah ke danau. Hutan liar ditebang. Upaya penghematan mengkonsumsi air juga dinomor duakan.

Laporan : IDRIS BENDUNG

Pembuangan sampah sembarangan, hutan sekeliling danau ditebang, lahirnya penimbunan lokasi wisata sekitar danau dan beralihnya fungsi sawah, jelas alasan klasik yang ditemukan dibelahan nusantara ini, dangkalnya sungai, danau dan berkurangnya debit air.
Dikala Sofyan Jalil menjabat Menteri Agraria dan Tata Ruang pernah menyebutkan “Semua orang merasa memiliki, tapi semua orang tidak merasa bertanggung jawab. Semua merasa berhak memanfaatkan tapi tidak mau memelihara. Maka mari semua mau kerja sama dalam menjaga dan mengelolah situ, danau, embung yang ada ini,” kata Sofyan Djalil.

Begitu pula dialami Danau Lut Tawar yang saban akhir pekan dikunjungi wisatawan local di Provinsi Aceh, terlihat kian susut debit airnya. Danau Tektono- Vulkanik yang terbentuk bersamaan sesar semangko, dengan luas 70 km² berada di ketinggian permukaan 1.100 m bakal hanya tinggal kenangan keindahannya.

Kenapa tidak ? Kabut yang biasa terlihat diatas permukaan air danau pun sudah sirna. Ikan depik khas danau juga langka. Musim depik tidak karuan lagi. Sampai-sampai para penjaja ikan sekitar danau justru menyebutkan ikan depik sudah sulit diperoleh.

“Ini bukan depik seperti dulu. Memang agak mirip ikannya. Rasa juga ngak pahit seperti depik dahulu yang bisa dijadikan obat malaria karena ada sisi ikan yang pahit,” kata Inen Ari kepada Rakyat Aceh saat melintasi pinggiran danau beberapa waktu lalu.

Nah, sedikit kita kembali kemasa tahun 80-90 an. Jika kita berkunjung ke Lut Tawar, mata akan dimanjakan pemandangan danau yang indah. Dari patok 100, sudah terlihat panorama dikeliling pohon pinus dan hamparan sawah di Kebayakan. Sayangnya, beras Kebayakan tak ada lagi kini bersamaan dengan berobahnya alih fungsi lahan.

Bila kita berkeliling danau sekarang. Butuh waktu hingga dua jam dengan perahu. Namun, dijamin tidak akan membosankan karena masih terlihat ada hutan pinus yang mengawal danau ini. Pastinya, ada aktivitas nelayan mencari ikan di danau ini. Baik siang maupun malam hari.

Ikan depik pasti diperoleh. Bahkan, ikan mujahir juga cukup banyak. Bila usai memancing mujahir. Hidupkan api di pinggir danau. Panggang ikannya biar badan jadi hangat. Lihatlah, minyak berwarna sedikit kekuningan akan keluar dari mujahir yang dipanggang. Tak anyir dan cukup lezat. Ini tidak terlepas kalau penghuni danau tersebut, memakan lumut yang ada di danau tersebut.

Kalau sekarang, sangat susah diperoleh. Mau gampang. Beli aja di keramba yang ada sekitar danau. Tapi, jangan harap rasanya sama dengan ikan depik dan mujahir masa lalu. Itu lah, penyebabnya paling tidak 2,5 hekter lahan setiap tahun beralih fungsi. Air danau pun susut diinformasikan mencapai 2 meter.

Sementara itu, Kadis Lingkungan Hidup Subhan Sahara, yang dihubungi Rakyat Aceh secara terpisah membenarkan penyusutan debit air danau. “Penebangan liar sekitar danau, pembangunan PLTA Peusangan dan pembuangan sampah itu sebagian penyebab debit air danau menyusut,” kata Subhan Sahara.

Lebih lanjut dikatakan, pihaknya dalam waktu dekat ini kembali melakukan kaji ulang guna mengatasi debit air yang berkurang. Pihak PLTA Peusangan juga akan diundang untuk membicarakannya.

“Kita coba akan kaji ulang. Kemudian melakukan antisipasi dengan melakukan penghijauan dan reboisasi. Tentu saja sosialisasi soal penebangan liar kepada masyarakat. Termasuk membuang sampah ke danau,” kata mantan Kadis Perpustakaan dan Arsip, di Pemkab Aceh Tengah. “Luar biasa banyak pembuangan sampah ke danau,” pungkas Subhan Sahara melalui telepon selular. (*)