Banjir di jalan lintas Subulussalam - Banda Aceh tepatnya di Desa Namo Buaya, terendam air, Selasa (28/7). Sejumlah rumah juga turut terendam air. (kaya alim/rakyat aceh)

BANDA ACEH (RA) – Masyarakat di wilayah Barat Selatan Aceh diminta warspada. Hujan deras disertai angin kencang, tanpa henti melanda dikhawatirkan menyebabkan bencana. BMKG keluarkan warning potensi banjir, longsor, dan gelombang tinggi.

Sejak Senin (27/8), hujan yang terus mengguyur disertai angin mengakibatkan tiga kabupaten mengalami bencana banjir, yakni Aceh Barat, Subulussalam dan Simeulue. Selain banjir yang merendam ratusan rumah warga, curah hujan tinggi juga mengakibatkan longsor.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cut Nyak Dhien Meulaboh – Nagan Raya, Yoga Almaruf, Selasa (28/7), menuturkan potensi curah hujan tinggi masih berpeluang terjadi di wilayah Barat Selatan Aceh, lantaran adanya titik kumpul udara di permukaan wilayah tersebut.

“Makanya curah hujan awet. Hujan mulai terjadi sejak Sabtu (26/7) kemarin, sampai sekarang masih hujan terus,” ucapnya.

Efek cuaca ekstrem demikian, sambungnya, selain berpotensi banjir, longsor, juga meningkatnya gelombang ombak di laut. “Jadi masyarakat harus waspada, selain banjir longsor, nelayan juga harus hati-hati karena gelombang laut terdeteksi meningkat 4-5 meter,” kajiannya.

Enam Kecamatan di Aceh Barat Terendam
Enam kecamatan di Kabupaten Aceh Barat tergenang banjir luapan air sungai, usai tingginya curah hujan sejak dua terakhir melanda kawasan tersebut. Ketinggian air rata-rata mencapai 20 – 80 centimeter, Selasa (28/7).

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, enam kecamatan yang dilanda banjir, yakni Kecamatan Kaway XVI meliputi 10 desa, Kecamatan Woyla Timur meliputi Sembilan desa, Kecamatan Meureubo meliputi lima desa, Kecamatan Johan Pahlawan meliputi 10 desa. Selanjutnya Kecamatan Arongan Lambalek meliputi satu desa dan Kecamatan Pante Ceureumen meliputi satu desa.

Jalan Meulaboh – Geumpang Putus
Selain banjir, pengaruh hujan deras ini juga mengakibatkan jalan lintas Aceh Barat-Pidie tepatnya di Kilometer 21 badan jalannya tertutup longsor.

Selain itu, beberapa pohon besar tumbang yang berada di seputaran Nasional Meulaboh juga terjadi di jalan Meulaboh-Tapaktuan tepatnya di Desa Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. Kejadian pohon tumbang terjadi dengan waktu yang bersamaan dengan cuaca ekstrim,” kata Pusdalop BPBD Aceh Barat, Manshuri.

Sementara sepanjang 30 meter ruas jalan badan jalan penghubung antar kecamatan, amblas sedalam 1 meter lebih. Alhasil, akses jalan tranportasi masyarakat putus total.
Kadis PUPR Aceh Barat, Kurdi, merespon kondisi demikian, langsung meninjau titik lokasi badan jalan yang amblas untuk mencari solusi penanganan secara darurat agar dapat kembali dilalui kendaraan.

“Untuk penanganannya, sudah saya kerahkan satu unit alat berat. Alhamdulillah sekarang ini badan jalan tersebut sudah dapat dilalui,” tandasnya.

Untuk penanganan secara permanen, Kurdi menuturkan, pekerjaannya akan dilakukan usai lebaran. Namun terlebih dahulu akan dirancang oleh tim teknis, agar struktur infrastruktur ini dapat kembali kokoh.

Tak hanya itu, Kurdi menyatakan akses transportasi lintas Provinsi Aceh Meulaboh – Geumpang sempat putus, usai terjadi amblas badan jalan di kawasan Gunung Aneuk Manyak.

“Kalau jalan lintas tengah ini, tanggung jawab Provinsi Aceh. Tugas saya hanya melaporkan saja kondisinya. Kabarnya sudah ditangani dan mulai dapat dilalui,” jawab Kadis PUPR Aceh Barat.

Jalan Nasional Subulussalam – Banda Aceh Terendam
Hujan deras melanda Kota Subulussalam dan sekitarnya juga berdampak terhadap dua Desa di wilayah Kecamatan Sultan Daulat. Akibatnya, puluhan rumah di tiga Desa tersebut terendam banjir, Selasa (28/7).

Dua Desa tersebut adalah Desa Namo Buaya dan Singgersing. Tepatnya dusun rikit Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat puluhan rumah warga turut terendam.  Bahkan, jalan nasional lintas Subulussalam – Banda Aceh juga terendam yang mengakibatkan arus lalu lintas lumpuh total dari kedua arah. Ketinggian air dari permukaan tanah mencapai 1 centimeter sehingga mobil berbodi kecil tidak bisa melintas dari arah Banda Aceh ke Subulussalam juga arah sebaliknya.

Banjir di jalan lintas Subulussalam – Banda Aceh tepatnya di Desa Namo Buaya, terendam air, Selasa (28/7). Sejumlah rumah juga turut terendam air. (kaya alim/rakyat aceh)

Camat Sultan Daulat, Rahmat Fadli Capah kepada Rakyat Aceh mengatakan di dua Desa tersebut tercatat 66 rumah yang terendam banjir. 45 rumah di antaranya di Desa Namo Buaya dan 21 rumah di Desa Singgersing.

Tak ada korban jiwa atas kejadian itu, hanya saja beberapa peralatan rumah tangga sebagian turut terendam ” banjir nya mulai sekitar pukul 5.00 WIB tadi pagi dimana hujan deras melanda Sultan Daulat yang mengakibatkan sungai rikit meluap ” kata Camat Fadli.

Sejak pagi tadi kata Rahmat Fadli, jalan lintas di Desa Namo Buaya terhenti karena badan jalan tergenang banjir. Bahkan, siang rentetan mobil yang tak bisa melintas mencapai 3 kilometer ” jalan lintas Banda Aceh – Subulussalam di Namo Buaya yang terendam banjir sekitar 200 meter dengan ketinggian air mencapai 1 meter. Akibatnya, mobil tidak bisa melintas dan terparkir mencapai 3 kilometer sampai sekarang ” tambahnya.

Ratusan KK di Simeulue Mengungsi
Sementara bencana banjir semakin meluas melanda Kabupaten Simeulue sejak Senin (27/7) lalu mengakibatkan ratusan warga harus mengungsi.

Data terkini Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simeulue, sebanyak 141 Kepala Keluarga (KK) atau 338 jiwa korban banjir telah mengungsi di masjid, fasilitas pemerintahan dan rumah warga yang tidak terendam banjir.

Status darurat bencana selama 7 hari juga telah diberlakukan dan penyaluran makanan untuk warga yang mengungsi, hal itu dijelaskan Asmaimun ST, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Simelue, kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (28/7).

“Data sementara dampak bencana banjir hingga hari ini di Kabupaten Simeulue, korban banjir sebanyak 141 KK atau sekitar 338 jiwa. Korban banjir sudah ada yang mengungsi, serta telah ditetapkan status dmasarurat bencana”, katanya.

Seorang bocah digendong tim SAR, setelah diseberangkan menggunakan perahu karet, di kawasan jalan umum yang terendam banjir, Selasa (28/7). Ahmadi/Rakyat Aceh

Selain banjir juga terjadi bencana longsoran disejumlah titik, dan oprit jembatan yang terancam ambruk tergerus banjir, sehingga diminta kehati-hatian warga saat melintasi jembatan beton penghubung lintasan Kecamatan di kawasan Desa Kuala Makmur, Kecamatan Simeulue Timur.

Tim BPBD, SAR dan Tagana serta warga masih berjibaku untuk menyeberangkan warga yang melintasi jalan umum yang terendam banjir di lintasan jalan umum dikawasan desa Abail, Kecamatan Teupah Tengah, dengan menggunakan perahu karet dan rakit darurat.

Gelombang tinggi, juga masih terjadi dikawasan perairan laut Simeulue, yang mencapai 4 meter. “Instesitas curah hujan masih tinggi yang disertai angin kencang, yang berpotensi mengancam keselamatan manusia, maka kita himbau supaya warga tetap waspada”, imbuhnya.

Sementara, penumpang kapal feri yang batal berangkat dari Simeulue tujuan pulau Sumatera dan sebaliknya, masih bertahan di sejumlah pelabuhan, yakni dipelabuhan kapal feri Kuta Batu Sinabang, pelabuhan Labuhan Haji, pelabuhan Meulaboh dan Kuala Bubon Aceh Barat.

“Masih ada penumpang kapal feri yang masih bertahan disejumlah pelabuhan. Namun kapal feri dan kapal perintis belum mendapat ijin berlayar, disebabkan kondisi cuaca ekstrim dilautan masih membahayakan keselamatan kapal dan penumpang”, kata Kasirman Kadishub Kabupaten Simeulue, kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (28/7).

Puting Beliung Hantam Masjid
Angin puting beliung menerjang Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, pada Selasa (28/7) sore. Akibatnya, kubah Masjid, satu TK dan 6 rumah warga di Gampong Paya Meudru, kecamatan setempat mengalami rusak parah setelah diterjang angin tersebut.

Angin kencang disertai hujan, juga menyebabkan pohon tumbang kerumah warga. Kondisi itu membuat 6 Kepala Keluarga atau 26 jiwa warga Paya Meudru terpaksa mengungsi dan tinggal di rumah tetangga.

“Petugas dilapangan sedang mendata kerusakan rumah warga, kubah masjid dan satu gedung TK serta nilai kerugian,” ucap Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Utara melalui Kasi Perlindungan Sosial, Hasballah, S,Sos, kepada Rakyat Aceh, kemarin. (den/lim/ahi/arm/min)