Foto : Kapal tongkang pengangkut material batu bara milik PLTU 1-2 Nagan, yang terdampar di Pantai Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir. Kamis (30/7).

Meulaboh – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Nagan Raya, mulai menyelidiki dugaan pencemaran lingkungan imbas tumpahnya material batu bara 100 ton, dari sebuah kapal tongkang di kawasan Pantai Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir.

“Penyelidikan ini perlu kami lakukan, selain menanggapi keluhan masyarakat, juga indikasi material batu bara tumpah ke dalam laut diperkirakan sekitar 100 ton,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Nagan Raya, Teuku Hidayat, Rabu (29/7) malam, kepada wartawan.

Informasi yang terhimpun, kapal tongkang yang mengangkut material bahan bakar untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1-2 Nagan Raya ini, sejak Selasa (28/7) lalu, mulai terlihat terdampar di tepian pantai hingga posisi kemiringan, menumpahkan material batu bara.

DLHK Nagan Raya sedang menunggu data rinci dari jumlah material batu bara yang diangkut, agar jumlah potensi material batu bara yang tumpah ke laut dapat terhitung, sekaligus mencegah kerusakan lingkungan. “Ini sedang menunggu manifest dari jumlah material batu bara yang diangkut itu, biar lebih pasti datanya,” ungkapnya.

Jika manifest telah diterima, Hidayat mengaku akan lebih gampang melakukan pengecekan secara detail, berapa jumlah batu bara yang diangkut serta berapa jumlah batu bara yang tumpah ke lautan.

DLHK Nagan Raya juga berencana menggandeng DLHK Provinsi Aceh untuk menurunkan tim ke daerah, agar penanganan masalah ini bisa secepatnya tuntas dan terungkap.

“Nanti kami juga akan datangkan tim untuk menyelam, sehingga bisa diketahui lebih pasti berapa banyak material batu bara yang sudah tumpah ke laut. Biar lebih pasti,” sebutnya.(den)