Disabilitas Gandrungi Las Fabrikasi dan Mekanik Sepeda Motor

Bupati Aceh Tamiang, Mursil (kiri) menyaksikan penandatanganan program pelatihan kompetensi bagi penyandang disabilitas oleh Pertamina Rantau, BLK Banda Aceh dan Disnakertrans Atam usai pembukaan acara pelatihan tersebut, Selasa (11/8). DEDE-RAKYAT ACEH

ACEH TAMIANG (RA) – Dari delapan paket program pelatihan yang diberikan Balai Latihan Kerja (BLK) Banda Aceh meliputi teknik mesin hingga sektor pertanian, las fabrikasi dan mekanik sepeda motor banyak digandrungi para penyandang disabilitas di Aceh Tamiang.

Delapan program yang dilatih yakni, customer service, sepeda motor, menjahit practical offive, las fabrikasi dan pengolahan hasil pertanian. “Las fabrikasi dan mekanik sepeda motor menjadi favorit, sehingga kita sediakan dua paket,” kata Kepala BLK Aceh, Teguh Sulistiyono pada acara pembukaan pelatihan berbasis kompetensi yang diikuti 32 penyandang disabilitas se-Aceh Tamiang, di Aula Kantor Bupati, Selasa (11/8).

Pelatihan menjadi tenaga kerja mandiri ini untuk pertama kalinya melibatkan penyandang disabilitas di Aceh Tamiang. Disabilitas yang menjadi peserta pelatihan merupakan binaan PT Pertamina EP Rantau Field bekerjasama dengan LSM Bumi.

Pelatihan berbasis kompetensi ini dijadwalkan berlangsung 20-40 hari ke depan atau sesuai paket yang diikuti oleh masing-masing peserta.

Teguh menjelaskan program skill development center (SDC) ini bertujuan mengembangkan kompetensi, produktivitas, disiplin dan etos kerja. Nantinya para peserta akan menjalani pelatihan di SMK Negeri Karang Baru dan SMK Bendahara.

“Aceh Tamiang akan mendapat keuntungan karena telah melakukan investasi jangka panjang. Saya pikir kebijakan Pemkab Aceh Tamiang sudah tepat,” ungkap Teguh mengapresiasi.

Menurutnya, secara geografis Aceh Tamiang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang sangat baik, karena berdekatan dengan kota besar Medan, Sumatera Utara.

“Keuntungannya ada pada cost dan waktu. Bila ini diimbangi dengan SDM tinggi, maka pertumbuhan Aceh Tamiang akan lebih cepat dari daerah Aceh lainnya,” sebutnya.

Bupati Aceh Tamiang Mursil mengemukakan, persoalan hari ini kualitas pekerja di daerah tidak memiliki daya saing. Oleh karena itu pelatihan berbasis kompetensi ini harus diikuti dengan sungguh-sungguh agar bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.

Diakui, angka pengangguran di daerah ini masih tinggi. Namun yang memprihatinkan kegigihan generasi muda dinilai masih rendah. “Banyak generasi muda lebih memilih bekerja sebagai honorer di kantor pemerintahan dibanding menjadi pedagang atau petani,” ujar Mursil. (mag86)