Nasib Miris Pedagang Pasar Gemilang,Kamoe Terjepit Hancur-Hancuran

Banda Aceh (RA) – Sejumlah pedaganga yam di Pasar Terpadu Gemilang, Lamdingin, Banda Aceh, mengaku terlilit hutang akibat tidak lakunya dagangan pasca dipindahkan dari Pasar Peunayong.

 

Para pedagang mengaku kecewa dengan sikap Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, yang sampai hari ini tidak merespon sejumlah keluhan pedagang tersebut.

‘’Tulong sampaikan bak Walikota, bek geuyu pileh ken droe, wate geuduk hana le diperemeun. Kamoe terjepit hancur-hancuran, wate dipeunayong pane tom kamoe menge-
luh. (Tolong sampaikan pada walikota, jangan dulu disuruh pilih, setelah itu kami tidak dilihat lagi. Kami terjepit hancur-hancuran. Dulu saat di
Peunayong mana pernah kami mengeluh,“ kata Kepala Pasar Ayam, Bang Cut, kepada media ini, Selasa (11/8).

Mirisnya lagi, Bang Cut mengungkapkan, para pedagang harusmembayar pajak sampai Rp10 ribu per hari, ditambah lagi terlilit hutangakibat dagangan tidak laku, maka ambang kehancuranlah sudah menanti di mata mereka.

Saat ini kata Bang Cut, pedagang dalam sehari hanya bisa laku tiga ekor ayam, sehingga tidak cukup untuk keperluan sehari hari, yang mencapai Rp 150 ribu. Menurutnya kondisi tersebut karena Pasar Gemilang terlalu jauh dan
tidak menyatu seperti pasar Penanyong yang sangat memudahkan pembeli.

“Kalau di Pasar Peunayong dulu, kami bisa dapatkan Rp300 ribu perhari, cukuplah untuk sewa rumah.Kali ini hancur-hancuran kami. Banyak yang kesusahan, terpaksa berutang untuk kehidupan sehari-hari dan membayar kontrakan. Kami berutang karena pengeluaran terus menerus. Biaya habis untuk kehidupan sehari-hari belanja. Ada yang berutang selama ini sampai lima juta dan sepuluh juta. “jelasnya.

Terkait kondisi pedagang tersebut, Bang Cut mengaku kecewa, sebab tak ada seorang pun dari pihak Pemko Banda Aceh yang datang sekedar mengetahui nasib pedagang.

“Sudah dilempar kemari, mereka ndak mau tahu, kami juga sedang menunggu agar Pasar Kartini juga dipindahkan kemari. Apabila pedagang Pasar Kartini tidak kesini, kami akan kembali kesana peunayong,” tandasnya.

Hal yang sama juga dialami pedagang sayur di Pasar Lamdingin, Sadriah mengatakan, penjualanya menurun drastis dibandingkan saat berdagang di Pasar Peunayong. Bahkan untuk makan sehari-hari saat ini harus menggunakan uang dari modal.

“Kami juga kena kutipan uang (pajak) Rp5 ribu per hari. Entahlah dek, kami makin susah dengan kondisi pasar yang sepi seperti ini,” ucap Sadriah.

Sementara itu sebelumnya, WaliKota Banda Aceh, Aminullah Usman,pernah menyampaikan, Pasar Terpadu Gemilang, memang belum terlalu representatif sebagai pusat perdagangan.

Namun dia berjanji dalam tiga bulan ke depan, berbagai perbaikan secara perlahan, akan segera dilakukan.

“Beberapa keluhan para pedagang telah kita dengar dan tampung. Akan ada segera perbaikan kita lakukan,” ujar Aminullah.

Dikatakan, relokasi pedagang kawasan Pasar Ikan Peunayong ke Pasar Terpadu Lamdingin ini bertujuan untuk tersedianya pasar rakyat yang terpadu dan representatif serta mampu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kawasan Lampulo/Lamdingin dan kawasan pesisir di kecamatan Kuta Alam/Syiah Kuala (Lampulo,Lamdingin, Lambaro Skep, Deah Raya
dan Alue Naga. (mar)