Tgk. Ir. Faizal Adriansyah. M. Sc

Bagi orang beriman perjalanan hidup ini adalah ujian dari Allah sebagaimana firmanNya : “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata kami telah beriman sedang mereka tidak diuji?” (QS. Al Ankabut ayat 2) “(Dia Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kamu siapakah yang lebih baik diantara kamu amalnya? Dan Dia Maha Perkasa Lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Mulk ayat 2).

Terkadang Allah menguji manusia dengan kenikmatan hidup, badan sehat dan kuat, harta yang berlimpah, jabatan dan pangkat yang tinggi, kehormatan dan kemuliaan. Namun adakalanya Allah menguji manusia dengan kesusahan dan kesulitan dalam kehidupan berupa rasa takut dan cemas, kelaparan dan kekurangan harta benda, kematian, bencana dan kekeringan serta kegagalan pertanian. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT.

“Dan sungguh kami akan uji manusia dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta benda, jiwa dan buah-buahan. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah ayat 155).

Sabar adalah kata kunci dalam menghadapi ujian, mereka yang sabar adalah mereka yang lulus menghadapi ujian Allah. Manusia yang sabar dengan ujian berupa kesenangan dan kenikmatan hidup diwujudkan dengan kesyukuran kepada Allah atas limpahan nikmatNya.

Sedangkan mereka yang diuji dengan kesusahan hidup, kesabaran diwujudkan dengan ketabahan dan ketegaran menghadapi semua cobaan seraya terus berdoa dan berusaha untuk lepas dari kesusahan.

Hamba Allah yang paling banyak mendapat ujian adalah para Nabi dan Rasul. Diantara mereka adalah Nabiyullah Ibrahim As. Hal ini dapat kita simak dari perjalanan hidup beliau yang penuh dengan berbagai ujian dan cobaan. Berawal ketika Ismail lahir Nabi Ibrahim sangatlah suka citanya, karena telah lama menantikan buah hati penyambung keturuan.

Siang dan malam beliau berdoa hingga umur lanjut, hampir habis sudah harapan untuk dapat keturunan, namun akhirnya Allah Yang Maha Kuasa mengabulkan doanya. Belum lama buah hati penyejuk mata dalam dekapan tiba-tiba Allah memrintahkan agar Nabi Ibrahim membawa bayinya dan Siti Hajar sang ibu kesuatu tempat yang sudah ditentukan Allah.

Nabi Ibrahim berangkat dari Palestina menuju arah selatan sepanjang padang pasir di jazirah Arab. Selama perjalan beliau tetap mendekap bayinya dan menampakan kasih sayang yang mendalam kepada isteri dan anak tercinta.

Sampailah disuatu lembah yang hari ini kita kenal sebagai tempat berdirinya bangunan Kabah, nabi Ibrahim mendapat isyarat dari Allah agar beliau berhenti dan meninggalkan isteri dn buah hatinya ditempat ini. Nabi Ibrahim dan Siti hajar menatap sekelilingnya, tempat itu sepi dan hening, hanya padang pasir dan batu cadas yang terhampar, tiada seorangpun yang ada disana.

Pikiran dan perasaan Nabi Ibrahim sebagai manusia tentu saja waktu itu berat menerima titah ini namun karena ketundukan dan kepatuhan kepada Allah maka INabi brahim melaksanakan perintah ini.

Bertanyalah ummu Ismail kepada suaminya “siapakah yang telah
memerintahkan engkau menempatkan kami ditempat ini, tempat yang tiada apapun dan tiada siapapun?” Nabi Ibrahim manjawab dengan suara yang serak penuh keharuan “Allah”. Jawaban beliau disambut oleh ummu Ismail dengan ucapan “Kalau begitu aku redha dan iklas menerimanya”. Jawaban seperti ini pulalah yang kelak diucapkan oleh bayi Ismail ketika dia sudah beranjak besar menjadi bocah yang lincah dan cerdas sewaktu ayahandanya menyatakan bahwa dia mendapat perintahdari Allah untuk menyembelihnya. “Wahai ayahku laksanakanlah perintah Allah itu, Insya Allah ayah akan melihat aku sebagai seorang yang sabar” (QS. As Shaffat ayat102).

Sebelum meninggalkan keluarganya Nabi Ibrahim lalu berdoa “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah merekarezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim ayat 37).

Suatu saat kelak ketika Ismail sudah remaja Nabi Ibrahim datang dari Palestina menjenguk anaknya, mereka bercengkrama melepas rindu, namun tidak lama kebahagian tersebut, tiba-tiba beliau mendapat wahyu melalui mimpi agar menyembelih putranya Ismail. Peristiwa penyembelihan Nabi Ismail oleh Ayahandanya Nabi Ibrahim ini merupakan momentum sejarah kemanusiaan, puncak segala rasa taat ikhlas dan pasrah dari hamba kepada penciptanya.

Suatu ujian maha berat yang pernah diberikan oleh Allah kepada seorang Rasul yang dikasihiNya untuk membuktikan kemurnian dan ketinggian derajat iman dan taqwanya sehingga setelah lulus dari ujian keluarga Nabi Ibrahim menjadi kenangan dan pujian bagi umat manusia.

Ketaatan dan kepasrahan Nabiyullah Ibrahim ini tercermin dalam ungkapan beliau : “Sesungguhnya shalatku, qurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al an’Aam ayat 162 – 163. Doa ini telah mengajarkan kepada kita makna iman yang sesungguhnya yaitu kepatuhan dan kepasrahan kepada Allah. Inilah makna iman yang sesungguhnya, ketundukan dan kepatuhan kepada hukum Allah sekalipun fikiran dan perasaan menyatakan lain.

Dalam kehidupan ini kita sering dihadapkan pada suatu keadaan antara kepatuhan kepada Allah dengan ajakan fikiran dan perasaan yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah. Ketika seorang ilmuwan digoda untuk merubah data/memanipulsi data dengan janji kemewahan hidup. Saat itu fikiran dan perasaannya menyatakan “orang lain juga begitu”, “ini kesempatan”. Namun dengan keteguhan iman dia akan berkata aku redha kepada Allah dan patuh kepadanya.

Demikian juga ketika seorang pedagang dihadapkan dengan bisnis yang menjanjikan untung besar namun harus mendzalimin orang lain, dia tetap akan menolaknya karena keteguhan iman. Seorang pejabat dengan wewenangnya dapat melakukan hal-hal yang melanggat hukum, fikiran dan perasaannya menyatakan “tidak mengapa saya lakukan, kalau bukan sekarang kapan lagi? mumpung saya menjabat”.

Bila keteguhan iman telah
tertanam di dalam dada maka yang diingat oleh sang pejabat bahwa jabatannya adalah amanah rakyat dan amanah Allah yang harus dipertanggung jawabkannya. Terhindarlah kita dari godaan fikiran dan perasaan yang hanya bermain logika tanpa peranan hati. Dalam kehidupan ini kita sering dihadapkan pada suatu keadaan antara kepatuhan kepada Allah dengan ajakan fikiran dan perasaan yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah. Iman yang kuat akan menjadi benteng untuk terhindar dari goadaan logika dan fikiran yang menyesatkan.

Penulis adalah Kepala LAN Perwakilan Aceh.

Editor: Rusmadi