Salah satu kamp pengungsi Suriah yang terletak dekat perbatasan antara Suriah dan Yordania/Net

Badan anak-anak PBB UNICEF baru-baru ini mengungkap kondisi menyedihkan di kamp Suriah yang menampung kerabat pejuang jihad yang telah menjadi salah satu faktor penyebab kematian beberapa anak.

Badan PBB itu mengatakan sedikitnya delapan anak berusia di bawah lima tahun tewas dalam beberapa hari di sebuah kamp di timur laut Suriah yang menampung kerabat pejuang ISIS. UNICEF mengatakan anak-anak itu meninggal antara 6 dan 10 Agustus di kamp al-Hol karena penyebab kekurangan gizi atau diare.

“Kematian setiap anak adalah tragis. Terlebih lagi ketika kematian bisa dihindari,” kata UNICEF dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari DW, Jumat (14/8). Dikatakan para tahanan tidak memiliki akses ke layanan dasar dan harus menghadapi panas terik musim panas dan trauma kekerasan dan pengungsian.

Tetapi badan amal lain mengatakan PBB sendiri telah menjadi salah satu faktor yang harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Organisasi amal Save The Children, yang telah mengkonfirmasi kematian tersebut, berbicara tentang “kegagalan kolektif di semua tingkatan untuk melindungi anak-anak,” dan mengkritik keputusan Dewan Keamanan PBB pada bulan Januari untuk menutup perbatasan penting yang digunakan untuk memasok bantuan medis ke kamp warga.

Dikatakan pembatasan penyeberangan perbatasan telah mengurangi kapasitas fasilitas kesehatan di kamp al-Hol sebesar 40 persen. “Ini adalah akibat dari kegagalan terus menerus Dewan Keamanan PBB untuk membuka kembali penyeberangan perbatasan terdekat, yang menyebabkan penundaan layanan yang tak termaafkan,” kata Direktur Respon Save the Children Syria Sonia Khush.

Kamp tersebut dijalankan oleh pemerintahan otonom Kurdi yang menguasai sebagian besar Suriah timur laut dan memasok pasukan sekutu AS yang memainkan peran utama dalam menghancurkan cengkeraman ISIS di sebagian besar wilayah di negara itu. Mereka yang ditampung di kamp tersebut kebanyakan adalah istri pejuang ISIS dan anak-anak mereka. Menurut data UNICEF, ada hampir 40 ribu anak dari 60 negara di kamp tersebut.

Meskipun kamp belum melaporkan kasus infeksi virus corona, UNICEF mengatakan pembatasan dan tindakan karantina yang diberlakukan untuk mencegah wabah telah menghambat operasi bantuan di kamp tersebut. EDITOR: RENI ERINA