Mahasiswa KKN-T IPB University Sosialisasi Pemanfaatan Bakteri dan Perkenalkan Inovasi IPB kepada Petani Aceh

ACEH BESAR (RA) – Penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan memiliki dampak besar terhadap perubahan lingkungan maupun ekosistem. Hal ini mendorong Mahasiswa IPB asal Aceh untuk menerapkan pengetahuan yang telah didapatkan mengenai pertanian terhadap petani-petani di daerahnya. Pengurangan pemakaian pupuk kimia dan pestisida secara perlahan melalui pembuatan PGPR (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria) dengan memanfaatkan bakteri pada akar.

Pelaksanaan KKN-T IPB tahun 2020 merupakan tahun perdana mahasiswa IPB melaksanakan KKN di wilayah domisili. Pengalaman paling berkesan bagi 7 mahasiswa IPB University asal Aceh dari kelompok acehbesar01 karena dapat melaksanakan KKN-T di Desa Kayee Adang, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar.

“biasanya masyarakat sering pakek pupuk NPK, KCL dan urea. Kalau PGPR kami di sini tidak pernah pakai, bahkan di sini petani juga tidak tau itu PGPR. Semoga dengan adanya program PGPR dari adek-adek mahasiswa menjadi ilmu baru bagi petani Gampong Kayee Adang untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada,” ujar Ketua Gapoktan Tgk. Marwan kepada media Rakyat Aceh, Sabtu (15/8).

Program ini merupakan salah satu wujud kepedulian mahasiswa KKN-T IPB University terhadap para petani lokal di Gampong Kayee Adang. Pelaksaan program ini mendapatkan antusiasme warga sekitar karena relatif baru dan jarang ditemui di Aceh. Ada kurang lebih 32 warga Gampong Kayee Adang yang mengikuti kegiatan ini, terdiri dari Ibu-ibu, Bapak-bapak dan pemuda yang memiliki lahan pertanian.

Program ini bertujuan memberikan wawasan kepada petani mengenai cara pembuatan dan pengaplikasian PGPR dikarenakan pengetahuan masyarakat Gampong Kayee Adang masih dikatakan minim tentang PGPR, produknya juga susah didapatkan di Aceh, dan menjadi proses alternatif dalam pengembangan komoditi padi dan jagung sebagai potensi Gampong Kayee Adang.

PGPR bermanfaat untuk memicu pertumbuhan tanaman yang dibantu oleh bakteri serta memberikan kerentanan tanaman terhadap hama dan penyakit. Selain itu, PGPR dapat menjadi teknologi alternatif lain dari penggunaan pestisida sehingga aman digunakan pada tanaman hortikultura, tanaman hias, dan berbagai tanaman lainnya karena terbuat dari bahan alami ramah lingkungan seperti akar bambu, terasi, dedak, kapur sirih, dan gula. Proses pembuatan PGPR juga tergolong sederhana tanpa memerlukan peralatan khusus sehingga mudah dilakukan secara berkelanjutan oleh petani dengan harga terjangkau dan mudah didapat.

“Kami berharap semoga Program PGPR dapat menjadi wawasan baru yang bermanfaat bagi masyarakat Gampong Kayee Adang khususnya petani dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada serta memahami cara mengimplementasikan pembuatan PGPR secara mandiri,” ungkap M Rizal Ayuby selaku Ketua Tim KKN-T IPB wilayah Aceh Besar.

Selain itu, tim KKN-T Aceh Besar juga membagikan benih dan bibit Seroja IPB (Cabai Pelangi) untuk memperkenalkan inovasi IPB di bidang pertanian dan sebagai wadah pengaplikasian program PGPR pada tanaman cabai yang dibagikan tersebut. (akh)