Pengakuan Petugas Damkar di Bener Meriah

Petugas Damkar Bener Merih saat sedang berjaga di Posko Utama Kampung Wono Sobo KecamatanWih Pesam Kabupaten Bener Meriah Sabtu (22/8). MASHURI | RAKYAT ACEH

Kami Sering Mendapat Perlakuan Buruk Saat Beraksi

REDELONG (RA) – Perlakuan buruk tidak menyenangkan seperti dicacimaki, dilempari, dipukul serta diancam kerap dialami ketika petugas pemadam kebakaran hendak beraksi memadamkan si jago merah.

Hal tersebut disampaikan langsung salah seorang petugas damkar senior, M Harun, didampingi lima rekannya di Pos Utama Pemadam Kebakaran Kampung Wono Sobo, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Sabtu (22/8).

Disebutkannya, terlambat datang petugas pemadam kebakaran jadi amukan massa yang kesal. Padahal banyak rintangan dan kendala dihadapi saat menuju ke lokasi, seperti menghindari kecelakaan di jalan dan sulitnya akses menuju lokasi kebakaran.

“Masyarakat tidak mau tau ketika kami terlambat, kami diamuk dan dilempari. Sudah 17 tahun saya bertugas sebagai driver mobil pemadam, kebakaran sudah 3 kali kami dilempari saat tiba di lokasi kebakaran,” ujarnya.

Harun menambahkan, saat kebakaran pihaknya, hal paling ditakuti bukannya api yang mengganas namun amukan massa. Walau demikian, mereka tetap menjalankan tugas kemanusian tersebut dan mengenyampingkan rasa takut.

Mereka berharap, pemerintah memperhatikan sarana dan parasanan digunakan petugas pemadam kebakaran di Bener Meriah yang saat ini masih sangat minim.

Menurutnya, dibandingkan resiko di lapangan, gaji diterima saat ini masih sangat jauh dari harapan. “Dibandingkan dengan kawan-kawan petugas pemadam kebakaran di daerah lain, gaji para petugas pemadam kebakaran Bener Meriah paling sedikit, Rp 1 juta per bulan.”
Sebelumnya katanya, para petugas pemadam kebakaran juga sempat menerima uang aksi senilai Rp50.000, namun saat ini juga telah dihapuskan akibat tidak tersedianya anggaran lagi.

Petugas damkar lainya, Sa’dan menambahkan, gaji diterima kadang juga sering molor dibayar. ” Semisal gaji bulan Juli, maka baru menerima akhir bulan Agustus,” ujarnya.
Ia juga berharap, peralatan Damkar yang ada saat ini dapat ditinjau kembali, sebab banyak peralatan tidak layak untuk dipakai.

Kembalikan Mobil Damkar ke Pendopo
Selain itu mereka menyebutkan, pasca kebakaran hebat di Pasar Simpang Tiga, Kecamatan Bukit sebelumnya, personel pemadam telah juga mengembalikan kunci mobil damkar serta mengantar satu unit mobil operasional ke depan pendopo Bupati Bener Meriah.

“Kami mengembalikan kunci mobil dan satu unit damkar yang kami tinggalkan di depan pendopo bupati, lantaran kami tidak sanggup memadamkan api dengan satu unit damkar saja. Kami juga takut menjadi sasaran massa jika kembali kebakaran,” ungkpnya.

Menurutnya, Kalak BPD sebelumnya sempat melarang putugas untuk mengantar mobil damkar tersebut ke pendopo, namun mereka mengaku tidak mau menghiraukan lagi meskipun kondisi hujan saat itu deras.

Setelah itu katanya sorenya sekitar pukul 17.00 insiden kebakaran kembali terjadi di Kampung Ujung Gele sehingga, tidak satupun damkar Bener Meriah yang terjun ke lokasi. (uri/min)