Ini Cara TNI Menjaga Situs Religi Quran Wangi Aceh Barat

Meulaboh – Prajurit Pos Koramil 12 Kecamatan Panton Reu, melaksanakan gotong-royong pembersihan dan pengecatan ulang rumah Quran yang menjadi tujuan situs sejarah wisata religi. Mugo Rayeuk, Panton Reu, Aceh Barat, Kamis (27/8).

Di dalam rumah Quran wangi ini, terdapat sebuah kitab suci Al-Qur,an yang konon dituliskan langsung oleh tangan Syech Maulana Malik Ibrahim, seorang ulama besar, dari keturunan penyiar Agama Islam asal Asia Tenggara.

Riwayatnya, Syech Maulana Malik Ibrahim dilahirkan di Negeri Campa Kamboja. Sejak kecil, telah memperdalami ilmu agama Islam dari orangtuanya. Demikian juga asal usulnya yang merupakan keturunan dari Ulama besar yang menjadi perintis agama Islam dibelahan dunia.

Wujud Al-Qur,an yang berada di dalam rumah tersebut, diyakini telah berusia 700 tahun. Uniknya, kitab suci ini hasil ukiran tangan Syech Maulana Malik Ibrahim sendiri.

Wajar, jika prajurit Posramil 12 /Panton Reu, terlihat sangat semangat bergotong-royong mengecat dan membersihkan lingkungan rumah Quran.

Danposramil 12/Panton Reu, Kodim 0105 Aceh Barat, Pelda Nasril Chaniago, mengaku sengaja membawa seluruh anggotanya untuk bersama warga membersihkan rumah Quran. “Tujuannya, agar menjaga dan melestarikan tempat situs sejarah wisata religi Qur,an wangi Panton Reu, ini saja,” ucapnya.

Kegiatan bergotong royong ini, sambung Nasril, juga bagian wujud dari kemanunggalan TNI bersama rakyat. “Ini salah satu langkah kami, supaya dapat selalu hadir di tengah masyarakat dan dalam momen apa saja,” sebutnya.

Menurutnya, TNI lahir dari rakyat dan akan selalu kuat bersama rakyat, sehingga saat warga Mugo Rayeuk Panton Reu ingin membersihkan rumah Quran, pemahaman Nasril, selalu prajurit TNI, harus selalu siap berada di samping masyarakat. “Ya ingin membantu dan meringankan beban dan kesulitan penduduk saja. Intinya biar lebih kompak saja, jika sebuah pekerjaan itu dilakukan bersama-sama, tentu akan lebih ringan,” jawabnya.

Dengan adanya kegiatan demikian, Nasril berharap, dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas agar lebih peka dan peduli, serta terus menjaga untuk melestarikan setiap peninggalan situs sejarah dari Ulama-ulama besar Islam. “Ini bagian sejarah peradaban Islam di Indonesia, khususnya Aceh. Kita umat muslim sepantasnya harus menjaga dan merawatnya,” asumsinya.(den)