Rumah Terbakar Satu Keluarga Menumpang Tinggal di Dapur

Kondisi Mashura saat dirawat di RSU Muyang Kute Bener Meriah, Rabu (26/8). MASHURI/RAKYAT ACEH

REDELONG (RA) – Sejak kehilangan rumah dan harta benda paska kebakaran sekitar 5 tahun lalu, satu keluarga di Kampung Kute Lintang, Kecamatan Bukit, memaksa mereka harus menumpang di dapur rumah milik orang tuanya.

Salpan (38) yang berprofesi sebagai buruh serabutan hidup bersama istri Mashura (36) dan tiga orang anaknya, kini terpaksa hidup serba kekurangan dan hanya tinggal di gubuk dapur yang sempit tanpa kamar dan terbuat dari kontruksi kayu yang sudah berlobang-lobang.

Selain kondisi ekonomi yang semakin sulit, istri Salfam mulai menderita sakit-sakit dan hasil diagnosa tim medis Mashura menderita sakit jantung dan lambung yang mengakibatkan kondisi fisiknya semakin hari semakin lemah.

Belakangan kondisi Mashura semakin parah dan semakin hari perutnya semakin membengkak, sementara Salfan tidak mampu membawa istrinya untuk berobat karena kondisi ekonomi yang sangat terpuruk.

Beruntung, kabar sakitnya Mashura sampai ke pengiat pemerhati perempuan yang tergabung dalam organisasi Perkumpulan Umah Sunting Pirak yang langsung membawa Mashura dengan ambulan PSC untuk dirawat di RS Muyang Kute Bener Meriah sehingga kondisi hari ini sudah mulai membaik dan masih dirawat di RS.

Dengan raut wajah sedih saat dikujungi Rakyat Aceh Salpam mengaku, hanya bisa merawat istrinya dirumah lantaran tidak memiliki sejumlah uang untuk membawa istrinya berobat ke rumah sakit.

Sebelum covid, Salfam juga menyampikan pernah membawa istrinya berobat ke Puskesmas Simpang Tiga, namun belakangan karena covid pelayanan RSUD Muyang Kute dan Puskesmas sempat tutup sehingga istrinya hanya bisa berbaring merintih kesakitan.

Sambil meneteskan air mata, Salpan juga mengucapkan terimaksih kepada Salmina yang merupakan perwakilan Perkumpulan Umah Sunting Pirak yang telah bersedia membawa istrinya ke RSU Muyang Kute Bener Meriah.

“Syukur Alhamdulillah, setelah adanya tindakan medis, perut istri saya yang sebelumnya bengkak saat ini sudah menyusut dan bila dibandingkan kemarin hari ini sudah jauh lebih baik,“ ungkap Salpan sambil mengusap air mata.

Salpam juga bercita-cita dapat kembali membangun rumahnya yang sebelumnya hangus terbakar namun akibat tidak memiliki uang ia terpaksa menumpang di dapur rumah milik ibunya yang sangat sempit.

Ia juga mengaku pihak desa sudah sering melakukan pendataan rumah namun hingga saat ini mereka masih tetap tinggal di gubuk dapur milik ibunya itu.

Sementara itu, salah seorang anggota perkumpulan sunting pirak, Salmina mengaku meris melihat kondisi kehidupan Mashura yang mengalami sakit-sakit dan tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Ia menceritakan, baru mendengar informasi adanya warga yang kurang mampu yang sakit minggu lalu, namun baru dapat berkunjung Sabtu (22/8) kemarin.

“Setelah berkordinasi dengan pihak RSU dan pihak lain kami baru dapat memaawanya kemarin,” sebutnya.

Hingga saat ini Salmina mengaku masih melakukan pendampingan terhadap Mashura yang saat ini masih dirawat di ruang kelas RSU Muyang Kute Bener Meriah.

Ia juga berharap, pemerintah dapat membantu keluarga Mashura yang saat ini serba kekurangan. “Saat ini mereka tingal di tempat yang tidak layak dan kami berharap pemerintah segera membangun rumah mereka yang habis terbakar,” harapnya.