75 Tahun RI Merdeka Sebagian Masyarakat Pesisir Tamiang Masih “Berenang”

Ketua getek, Ibrahim sedang mengendalikan getek yang akan bersandar dengan membawa muatan penumpang orang dan barang dua unit mobil menyeberang dari Kampung Baru, Seruway ke Kampung Binjai, Bendahara, Rabu (26/8). DEDE-RAKYAT ACEH

ACEH TAMIANG (RA)- Indonesia sudah merdeka selama 75 tahun, tapi kalau kita mau ke pesisir Aceh Tamiang harus “berenang” (naik getek). Padahal kita sudah merdeka lama, tapi herannya transportasi seperti ini masih ada di Tamiang. Seharusnya di sini sudah layak di bangun jembatan beton permanen.

Ungkapkan ini disampaikan para penumpang getek yang hendak menyeberang dari Kampung Baru menuju Kampung Binjai yang dipisahkan oleh aliran Sungai Aceh Tamiang, Rabu (26/8).

Transportasi getek di Kampung Binjai, Kecamatan Bendahara dan Kampung Baru, Kecamatan Seruway ini sudah ada sebelum Aceh Tamiang dimekarkan dari Aceh Timur sebagai kabupaten induk.

Tidak hanya bagi pendatang, selama ini masyarakat ingin keluar-masuk kampung harus naik getek. Bahkan hasil komoditi pertanian yang ada di antara dua kecamatan yang dibelah oleh aliran sungai itu diangkut menggunakan getek.

Sementara transportasi penyeberangan sungai satu-satunya di pesisir ini dikabarkan sudah mengalami kerusakan mesin. “Getek ini sudah tua. Mesinnya sering rusak baru saja saya betulin. Untuk perbaikan selanjutnya saya sudah usulkan proposal ke Dinas Perhubungan Aceh Tamiang,” kata Ibrahim selalu Ketua Getek Kampung Binjai-Kampung Baru kepada Rakyat Aceh dari atas geteknya itu.

Hari ini Ibrahim dan bendahara getek Jalaluddin kebanjiran penumpang dari rombongan pemerintah daerah yang akan menghadiri acara kenduri laot di Pulau Kuala Genting. Satu unit getek ini dikelola oleh masyarakat setempat dan hasilnya menjadi pendapatan retribusi dinas terkait.

Selain getek, kata Ibrahim ada juga akses penyeberangan jembatan gantung yang berjarak sekitar 500 meter dari titik Dermaga sandar getek. Namun jembatan gantung yang dibangun tahun 2018 tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, khusus roda dua dan pejalan kaki.

“Kesepakatannya hanya roda empat yang membawa orang sakit dan perempuan akan melahirkan saja yang diperbolehkan lewat jembatan gantung itu. Tapi faktanya banyak juga kendaraan roda empat lain membandel lewat diam-diam membuat lantai jembatan cepat rusak,” sebutnya.

Anggota DPRA asal Aceh Tamiang, Nora Idah Nita dimintai pendapatnya menuturkan, getek penyeberangan orang di Kampung Binjai-Kampung Baru sudah layak diremajakan. Kondisi fisik getek yang terbuat dari besi plat itu sudah kropos dan usang. Bahkan menurut politisi partai Demokrat ini, di Aceh Tamiang sudah tidak layak lagi ada transportasi getek, pemerintah harus bangun jembatan untuk akses penyeberangan.

“Tolong kawan-kawan media soroti getek ini. Kondisinya memprihatinkan, sepertinya tidak layak pakai lagi, harus diperbaiki atau diganti dengan getek yang baru,” ujar Nora ketika terjebak diatas getek yang kehabisan bbm.

Saat itu, Nora baru saja pulang dari Kuala Genting menghadiri undangan khusus kenduri laot dari nelayan tradisional pesisir Kecamatan Bendahara. Ia kembali ke Dapil 7 Langsa-Aceh Tamiang dalam rangka melakukan reses. (mag86/ra)