Base Pembangunan Jalan Paya Kulbi-Paya Awe DiragukanLSM Adas

: Agregat batu split atau base coarse A pada proyek pembangunan jalan Paya Kulbi-Paya Awe, Karang Baru senilai Rp 6,9 miliar tampak berserakan dipermukaan jalan membuat pengendara roda dua yang melintas cemas takut tergelincir, Kamis (27/8). DEDE/RAKYAT ACEH

LSM Adas Institute Minta Dinas PUPR Awasi Proyek Infrastruktur

ACEH TAMIANG (RA)-Ketua LSM Adas Institute, Adriansyah meminta Dinas PUPR setempat serius melakukan pengawasan setiap proyek infrastruktur yang dikerjakan di Kabupaten Aceh Tamiang. Pasalnya, salah satu proyek infrastruktur pembangunan akses jalan meliputi Kampung Paya Kulbi-Paya Awe, Kecamatan Karang Baru menggunakan dana Otsus tahun 2020 senilai Rp 6,9 miliar, namun kualitasnya diragukan.

Adriansyah menyoroti, base A proyek jalan tersebut berserakan di permukaan jalan. Diduga base A yang dihampar tidak murni batu pecah. Sebab, dari kumpulan base A yang banyak nimbul itu secara kasat mata masih ditemukan batu seukuran krikil bulat.

“Kita berharap agar proyek pengaspalan jalan Paya Kulbi-Paya Awe yang menggunakan anggaran dana Otsus tersebut dikerjakan dengan bahan yang berkualitas, baik dan tidak asal-asalan,” kata Adriansyah kepada Rakyat Aceh, Jumat (28/8).

Adrian menegaskan, hal ini untuk kepentingan masyarakat, LSM Adas Institute juga akan ikut memantau pelaksanaan kegiatan tersebut di lapangan. “Kita ingatkan kepada Dinas PUPR Aceh Tamiang jangan asal terima laporan dari lapangan sebelum melakukan kroscek setiap tahapan proyek ini dikerjakan,” sebut Adriansyah yang juga warga setempat, Paya Kulbi.

Dari amatan di lapangan, berseraknya agregat batu split atau base coarse (Base A) ke permukaan jalan dan menonjol membuat pengendara khususnya roda dua merasa tidak nyaman, rawan tergelincir. Diketahui, proyek Otsus ini dikerjakan rekanan pelaksana dari CV Hareukat Tani Jaya dengan anggaran sebesar Rp 6,9 miliar. Tapi beredar kabar proyek pengaspalan jalan ini dipangkas anggarannya menjadi Rp.4,72 miliar setelah dilakukan refocusing dampak Covid-19.

Kabid Bina Marga Dinas PUPR Aceh Tamiang yang juga Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Baihaki Ahyat menyatakan, waktu pengaspalan jalan lebih dulu dites provoling yaitu dengan menggunakan truk interkuler yang diisi muatan, bila tanah yang dilewati tidak goyang maka bisa diaspal. “Waktu provoling nanti kalau enggak padat atau goyang tidak bisa diaspal. Sebelum diaspal diuji dulu,” terangnya.

Lebih lanjut Baihaki menjelaskan, terkait jenis base coarse yang sudah dihampar tidak semuanya base A, tapi ada juga base B. Di Kampung Paya Kulbi misalnya, 1.200 meter pakai base A dan 600 meter menggunakan base B.

Sementara di Kampung Paya Awe, base A yang telah dihampar dan akan diaspal sepanjang 600 meter. Untuk 500 meter lagi hanya sebatas pengerasan jalan dan dihampar menggunakan timbunan tanah campur batu atau urukan pilhan (Urpil).

“Jadi, total jalan yang akan diaspal sepanjang 1,8 kilometer. Sisanya tetap base B dan ada yang baru pengerasan. Pengaspalannya Insya Allah akan diusulkan di tahun berikutnya,” jelasnya.

Padahal sesuai perencanaan awal pembengunan jalan meliputi Paya Awe-Paya Kulbi ini sepanjang 3,1 kilometer. Namun menurut Baihaki, hal itu dilakukan karena ada permintaan warga dua kampung tersebut agar proyek pembangunan jalan dibagi dua bagian.

“Dalam perjalanan pelaksanaannya selain terjadi refocusing anggaran, kami juga sudah membuat perubahan teknis kegiatan dengan melakukan Contract Change Order (CCO),” tukasnya. (mag86)