Rakyat Aceh Bersiap Diri Agar Bisa Bertahan Dalam Krisis Ekonomi Akibat Covid-19

Oleh : Dr. Zainuddin, SE., M. *

Dr. Zainuddin, SE., M.

ARAH menuju krisis ekonomi parah (resesi) kemungkinan bersar tidak bisa dibendung akan benar-benar terjadi di Indonesia. Pintu gerbang masuk kearah itu sudah mulai terlihat nyata, seperti angka pengangguran baru selama tahun 2020 tercatat berkisar 2,92 – 5,3 juta orang, dan kemiskinan bertambah sekitar 1,16 – 3,78 juta orang, deficit APBN membengkak hingga 5,07 persen, dan rasio utang terhadap PDB meningkat dari 28% pada tahun 2019 menjadi 31,4% pada tahun 2020 (katadata.co.id). Sehingga, ada kekuatiran krisis ekonomi (resesi) lebih dahsyat bakal nyata akibat dari massifnya keterpaparan covid-19 di tanah air sepertinya bakal berlangsung lama.

Bila asumsi resesi ekonomi benar-benar terjadi di Indoensia, maka dengan sendirinya provinsi Aceh yang merupakan wilayah integral dari NKRI akan ikut terbawa resesi itu sendiri. Apalagi secara nyat provinsi Aceh masih sangat bergantung pada kondisi ekonomi nasional, kerena selama ini sumber dari pembelanjaan pembangunan semata-mata transfer dari pemerintah pusat berupa DAU, DAK dan Dana Bagi Hasil. Sehingga, dapat dibayangkan apabila Negara dilanda resesi dengan terus menerus terjadi penurunan pada sisi pendapatan Negara, maka dengan sendirinya transfer kepada daerah-daerah pasti ikut berkurang apabila pemerintah tidak dapat mengaplikasikan pinjaman baru dari Negara donor.

Dengan demikian, bila ini terjadi sebenarnya yang kepayahan adalah peneyelenggara pemerintah Aceh, karena akan sangat terkoreksi dari sisi anggaran belanja sementara tuntutannya malah meningkat. Apalagi selama ini untuk peningkatan PAD tidak mungkin dilakukan karena dampak covid-19 di Aceh juga banyak membuat unit-unit bisnis sebagai sumber penerimaan melelui pajak yang dikutip pemerintah ikut melemah dan bahkan ada yang bangkrut. Oleh sebab itu, yang paling buruk terjadi dari kejadian resesi ini banyak penerimaan dari aparatur yang digaji oleh Negara akan dipangkas sebesar 25% hingga 50% karena Negara sudah tidak memiliki dana lagi untuk membayar gaji (asumsi melihat tren negative pada pendapatan Negara).

Jika para aparatur saja bisa menderita yang selama ini ada pendapatan tetap dari Negara setiap bulannya, apalagi masyarakat yang sangat terikat dengan pasar atau terikat dengan transaksi pasar atau dengan kata lain masyarakat Aceh yang berprofesi pedagang. Sebenarnya, bagi pedagang di Aceh terutama di kota-kota besar (semacam ibu kota kabupaten/kota) diakui atau tidak diakui sudah sangat menurun omsetnya mulai beberapa bulan yang lalu, dan perdiksi saya secara kasat mata mengamati bahwa kan terjadi banyak para pedagang harus tutup apabila situasi benar-benar terjadi resesi ekonomi. Sebagai contoh kita boleh saja mengamati bagaimana situasi yang terjadi dipusat perdaganga pasar Atjeh yang sudah sangat terasa sepi dari transaksi ekonomi, dan menurut saya dipusat perdagangan lainnya di Aceh berlaku hal yang sama juga.

Kemudian, bila covid-19 terus positif pergerakan keterpaparan di Aceh, maka bukan tidak mungkin balon resesi ekonomi akan duluan pecah di Aceh. Walaupun sekarang terlihat hiruk pikuk keramaian masih terlihat di kota-kota Aceh ini hanya sekedar mempertahan eksistensi masyarakat Aceh yang suka berkumpul terutama di warung-warung kopi, namun sesungguhnya mereka sekarang sudah merasakan kepayahan dalam ekonomi. Bukti nyata dari menurunnya transaksi ekonomi di Aceh, yaitu banyak para pedangang kaki lima berupa pedagang kuliner sudah mengelu omset mereka turun 50% hingga 65% selama dua bulan terakhir, dan bahkan ada beberapa pedagang mie Aceh harus tutup karena tidak ada pembeli lagi. Itu gambaran bahwa yang berkumpul dan hiruk pikuknya manusia di kota-kota di Aceh sebenarnya mereka tidak memiliki cukup dana untuk membelanjakan hanya sekedar konsumsi-konsumsi ringan, dengan kata lain hanya sekedar meuweet-weet mantong di jalan dan nongkrong di warung kopi hanya sekedar wifi gratis.

Selanjutnya, bagaimana dengan rakyat yang petani sepertinya menurut saya ada sedikit harapan mamapu bertahan ditengah-tengah resesi ekonomi apabila mulai sekarang pemerintah harus ikut ditengah-tengah masyarakat tani melakukan pementauan dan memotivasi dengan sedikit membelanjakan dana ditenga-tengah masyarakat agar mereka termotivasi dalam aktivitasnya, agar dengan adanya produktivitas petani bisa jadi menajdi tameng ekonomi provinsi aceh itu sendiri. Pemerintah Aceh semestinya pada saat ini harus memposisikan dirinya sebagai penyelamat rakyat Aceh dari keterpurukan ekonomi, caranya adalah harus secara intens ikut ditengah-tengah masyarakat guna mendorong aktivita ekonomi rakyat yang masih mungkin digerakan bisa berjalan sebagaimana mestinya, dan bisa saja pemerintah tingkat dua di Aceh harus diberitugas dan diminta pertanggung jawaban sejauh mana bisa mendorong dunia pertanian diwilayahnya bisa berjalan optimal.

Dengan demikian, asumsi bila resesi ekonomi benar-benar tejadi mulai akhir tahun ini, maka yang sangat berdapak adalah masyarakat yang berasal pada unit bisnis jasa dan perdagangan serta masyarakat pariwisata, dan sedikit bisa bertahan dan selamat sepertinya masyarakat tani itupun harus diubah prilaku yang kurang produktif kepada prilaku produktif dan tidak boros dalam konsusmi. Semoga saja resesi ini hanya pada tataran perdebatan dan kita doakan tidak nyata terjadi, dan insya Allah akan segera Allah cabut virus covid1-19 di Aceh secara khusus dan di Indonesia pada umumnya. Amiin.

*Penulis adalah Pemerhati sosial ekonomi masyarakat, Univ. Serambi Mekkah-Aceh