SUKA MAKMUE (RA) – Tahun 2020 dikenal dengan jaman milenial, yang mana perekonomian masyarakat di Indonesia mulai tumbuh berkembang dan maju dengan pemanfaatan fasilitas digital atau internet.
Kemajuan itupun terlihat dari pembangunan yang dimulai dari Gampong, pemerintah pun telah memberikan hak penuh kepada para Keuchik dalam pengelolaan Dana Desa (DD) sebesar 1 Miliyar per gampong yang dianggarkan setiap tahunnya.
Berbeda halnya dengan Gampong Blang Lango, Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya yang hingga kini masih terlihat seperti gampong tertinggal, transportasi penyeberangan sungai masih menggunakan boat mesin motor, akses jalan yang sangat buruk dan badan jalannya tanah liat, saat musim penghujan warga akan sulit berlalu lalang dan ini tentunya akan mempengaruhi perekonomian masyarakat setempat.
Walau demikian, tak menjadi suatu kendala bagi sebagian warga yang mempunyai semangat untuk maju. Eko Supriyatno (31), warga Gampong Blang Lango dengan kegigihan dan usahanya hingga kini dia bisa bertahan hidup dan menghidupi keluarga kecilnya dari hasil penjualan bibit lele sangkuriang.
Berbekal pelatihan yang diberikan melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nagan Raya dan modal seadanya, saat ditemui, di depan halaman rumahnya terlihat beberapa petak kolam yang berisi ribuan benih lele sangkuriang, saat itupun terlihat Eko sedang sibuk memantau perkembangan anak-anak lele tersebut.
“Kalau modalnya itu pada bulan Januari 2019 lalu, kita dibantu sedikit dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nagan Raya, dari situlah saya mulai mencintai yang namanya berbudidaya lele sangkuriang ini mengembangkan usahanya sampai saat ini,” kata, Eko Supriyatno, Selasa (8/9).
Saat ini Eko memasarkan bibit lele masih diseputaran Kabupaten Nagan Raya, menurutnya sejauh ini peluang pasarnya pun sangat menjanjikan.
“Karena yang namanya kita mempunyai produk pasti akan ada pembeli, kalau untuk pemasaran di Nagan Raya ini kita jual eceran, hingga kini saya sudah bisa menjual sebanyak 8.000 bibit lele setiap bulannya,” ujarnya.
Dari hasil penjualan bibit lele saja hingga kini Eko bisa meraup omset Rp 3.000.000 setiap bulannya.
Harga bibit lele yang dijualnya bervariasi tergantung tingkatan besar kecilnya, mulai harga 100-300 rupiah per ekor.
“Saya berharap pemerintah dapat mendukung dalam pengembangan usaha UMKM guna meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat khususnya di daerah tertinggal,” tutupnya.(ibr/rus)