Korban Pemerkosaan Trauma, Minta Pindah Sekolah

Rakyat Aceh

REDELONG (RA) – Ibu dan anak warga Kecamatan Wih Pesam, korban pemerkosaan hingga kini ketakutan dan mengalami trauma dan ketakutan atas tindak kekerasan seksual yang dialaminya.

S, Reje Kampung tempat tinggal korban Kepada Rakyat Aceh, Kamis (10/9) mengatakan, ibu korban yang sedang sakit lumpuh sering ketakutan ketika melihat ada mobil datang kerumahnya. Sementara korban juga selalu terlihat murung dan tidak pernah lagi terlihat keluar rumah.

“Tidak seperti biasanya, korban saat ini juga sudah tidak bergaul dengan teman-teman seumurannya serta tidak mau pergi kesekolah lantaran malu,” ujarnya.

Disebutkanya, korban sebelumnya diperkosa dua pelaku yang juga masih anak di bawah umur di Lapangan Pancuan Kuda Sengeda Kampung Karang Rejo, Kecamatan Bukit, pada bulan Juni 2020 lalu.

Sidang Tanpa Pendampingan Dinas Perlindugan Anak
Ia menambahkan, saat ini kasus pemerkosan tersebut masih disidangkan secara tertutup di Mahkamah Syarian Bener Meriah. “Kami dari pihak desa tetap mendampingi warga kami yang sedang tertimpa musibah dan berharap pelaku dapat di hukum seberatnya,” harapnya.

Pihaknya juga mengaku, kecewa tidak adanya pendampingan dilakukan oleh pihak dinas Perlindungan Anak dan Perempuan Kabupaten Bener Meriah, sehingga mereka sedikit kesulitan untuk mengakses informasi hukum dan proses lainya.

Dari pengakuan korban, katanya ia pertama kali kenal melalui via whatshap dan berjanji ketemuan di lapangan pancuan kuda. “Saat itu ia bersama temannya, namun temannya diamankan seorang laki di luar dan ditakut-takuti, semenatara dua pelaku langsung memperkosannya,” ungkapnya.

Istri Minta Pindah Rumah
Sementara itu N ayah korban, membenarkan anaknya hingga saat ini masih trauma dan selalu mengurung diri di kamar. “Begitu juga dengan istri saya setelah kejadian itu, hingga saat ini ketika ada mobil atau motor berhenti di depan rumah langsung bingung ketakutan,” ungkapnya.

Menurutnya, istrinya juga sering meminta untuk pindah rumah namun ia tidak tau mau pindah kemana. “Ketika mendengar suara kenderaan siapa saja ia langsung kebingungan dan menyuruh semua lampu untuk dimatikan dan saat ini ia juga minta pidah rumah” jelasnya dengan nada sedih.

Sambil menangis ia menambahkan, sebelum kejadian setelah zuhur anaknya berpamitan pergi ke rumah temanya pada Sabtu tanggal 30 Juni 2020. Ia juga sempat berpesan agar tidak pulang sore-sore.

“Ia diantar temanya setelah magrib dan tidak berani masuk ke dalam rumah. Setelah ditanya beberapa kali, temannya baru menyatakan, anaknya sudah diperkosa dua orang di kandang kuda dekat Lapangan Pancuan Kuda Kampung Karang Rejo,” ungkapnya.

Mendengar ini ia langsung memangil pihak keluarga dan baru memberitahukan kepada reje kampung keesokan harinya serta melaporkan pristiwa tersebut ke Polsek Wih Pesam dan melakukan visum ke Pukesmas Panteraya.

Saat ini dia berencana akan memindahkanya sekolah anaknya ke tempat lain, jika proses hukumnya sudah selesai. “Kami juga berharap, kedua pelaku dapat dihukum seberatnya sebab kami harus menanggung malu seumur hidup,” harapnya.

Pihaknya juga mengaku sebelumnya sempat dijanjikan akan didampingi oleh pihak perlindungan perempuan dan anak, namun saat proses hukum berlangsung tidak pernah datang .

“Kami seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa serta takut saat akan diperiksa sehingga saat akan diperiksa saya meminta pihak keluarga untuk mendampingi,” ujarnya. (uri/min)