Militer NATO melancarkan operasi gabungan di Laut Barents, Arktik/Net

Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memburu kapal selam nuklir milik Rusia di Laut Barents, Arktik.

Kapal selam Rusia yang diburu oleh pasukan NATO sendiri diketahui memiliki hulu ledak nuklir dan sarana untuk mengirimkannya dengan torpedo Poseidon. Sementara Seawolf memiliki torpedo Harpoon dan rudal jelajah Tomahawk di gudang senjatanya. “Pemburuan” kapal selam Rusia bukan pertama kali terjadi.

Pada Mei 2020, kejadian serupa juga terjadi di perairan Rute Laut Utara, di mana sekelompok pesawat pembom NATO berada di atas perairan Laut Siberia Timur.

Menanggapi insiden tersebut, Pusat Nasional untuk Manajemen Pertahanan Federasi Rusia mengatakan tindakan NATO sangat provokatif. Dimuat The Washington Times, kejadian tersebut adalah pertama kalinya sejak pertengahan 80-an, empat kapal Amerika dan satu kapal Inggris memasuki Laut Barents yang memicu konfrontasi negara-negara di utara.

Dalam artikelnya, The Washington Times menyebut, aksi tersebut dilakukan oleh AS sebagai sinyal ke Moskow, serta untuk memeriksa kesiapan Angkatan Laut untuk bertindak dalam kondisi cuaca apa pun. Menurut pejabat Angkatan Laut AS, latihan ini diperlukan agar angkatan bersenjata siap beroperasi di berbagai kondisi iklim, termasuk di Kutub Utara.

Namun, pemerintahan Presiden Donald Trump tidak secara khusus menyembunyikan niatnya untuk memukul mundur negara-negara lain, terutama Rusia dan China yang mencoba membangun kendali atas wilayah Arktik yang penting secara strategis.

Lebih lanjut, pada 1 Mei, pejabat Amerika mengatakan telah memberi tahu Rusia tentang operasi di utara untuk menghindari eksaserbasi yang tidak disengaja. “Sekarang, di masa-masa sulit ini, lebih penting daripada sebelumnya bahwa kami mendukung serangkaian operasi yang sedang berlangsung di teater Eropa, sambil mengambil tindakan yang wajar untuk melindungi kesehatan pasukan kami,” ujar Wakil Komandan Armada AS Laksamana Madya Lisa Franchetti.

“Kami masih akan secara aktif bertindak untuk kepentingan keamanan dan stabilitas regional, membangun hubungan saling percaya dan memperkuat fondasi kesiapan tempur di Kutub Utara,” sambungnya. Kendati begitu, analis militer memperingatkan, AS kemungkinan sudah sangat tertinggal dalam hal perebutan sumber daya dan rute perdagangan di Kutub Utara. EDITOR: SARAH MEILIANA GUNAWAN