STAIN Meulaboh Bentuk Seuramoe Moderasi Beragama

Rakyat Aceh

MEULABOH (RA) – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, membentuk Seuramoe Moderasi Beragama, Senin (21/9).

Seuramoe Moderasi Beragama merupakan unit kajian khusus yang disiapkan untuk mengkaji isu-isu terkait moderasi beragama di Aceh dan Indonesia. Unit ini berada di bawah Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.

Pembentukan Seuramoe Moderasi Beragama STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh ditandai dengan Webinar sesi 9 “Moderasi Beragama dan Tantangan di Era Disrupsi.” Webinar ini menghadirkan tiga pemateri sekaligus, yaitu Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis, Antropolog sekaligus dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Reza Idria dan Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Inayatillah.

Ketua Seuramoe Moderasi Beragama STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, M. Ikhwan mengatakan, keberadaan unit kajian moderasi beragama sesuai dengan instruksi pemerintah dalam rencana strategis Kementerian Agama.

Ia menyampaikan, Seuramoe Moderasi Beragama STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh nantinya akan fokus pada kajian-kajian terkait moderasi beragama melalui pendekatan kearifan lokal. Selain kajian dan pembinaan, unit ini nantinya juga akan menghasilkan penelitian-penelitian tentang moderasi.

“Sehingga nantinya dapat dijadikan rujukan dalam penyelesaian masalah-masalah yang mucul dalam masyarakat,” ujar M. Ikhwan saat memandu Webinar.

Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Inayatillah menyampaikan, selaku lembaga pendidikan tinggi Islam, STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh harus berperan sebagai “menara air” yang mengaliri setiap hikmah bagi masyarakat.

“Pada akhirnya, menjadi center of excellence bagi pembangunan dan perbaikan umat,” kata Inayatillah saat menyampaikan materi tentang Posisi Milenial dalam Moderasi Beragama.

Menurutnya, sebagai agent social of change dan harapan umat, mahasiswa selaku generasi muda harus disiapkan dengan sebaik mungkin, terutama dari segi pengetahuan berbangsa, bernegara dan beragama.

Inayatillah mengatakan, milenial sebagai generasi yang sangat dekat perangkat teknologi harus mendapatkan pembinaan secara serius dalam penanaman nilai-nilai moderasi beragama. Terlebih di tengah-tengah gempuran informasi seperti saat ini.

Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis mengatakan, moderasi beragama tidak hanya milik Kementerian Agama, namun telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yang mengahruskan prinsip moderasi beragama dijalankan oleh semua pihak.

Amany menjelaskan, moderasi beragama yang sudah diadopsi oleh pemerintah bukan moderasi agama. Menurutnya, moderasi agama, di tengah-tengah saja, mencampur adukkan agama dan budaya.

“Bukan seperti itu, ini moderasi beragama. Kehidupan keberagamaan masyarakat Indonesia bukan hanya agama Islam. Islam punya prinsip washatiyatul, dengan cara-cara yang terbuka, keadilan, toleransi dan rahmatan lilalamin,” papar Amany dalam materinya, Moderasi Beragama Antitesis Radikalisme. (den/rus)