Operator asal luar Aceh yang didatangkan menjadi pekerja di PT. CK Meulaboh, Aceh Barat. (Istimewa)

Meulaboh – Informasi PT. Cipta Kridatama (CK) mendatangkan orang luar Aceh, untuk menjadi tenaga kerja driver, operator, dan profesi lainnya, terus menyebar luas di Aceh, khususnya Meulaboh, Aceh Barat. Sejumlah operator dan supir setempat, mengungkapkan emosional kekesalan terhadap perusahaan tersebut.

“Saya sudah berkali-kali memasukan lamaran, tapi tetap belum dipanggil juga. Tahu-tahu, kemarin ini malah operator alat berat asal luar Aceh yang didatangkan untuk bekerja di tambang batubara Kecamatan Meureubo. Kecewa saya dengan perusahaan CK,” ungkap Syaril Wahyuni, operator excavator asal Desa Lehan, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Kamis (24/9).

Upaya keras Syaril, agar dapat masuk menjadi tenaga kerja di PT CK, tak tanggung-tanggung. Ia mengaku setiap memperoleh informasi ada penerimaan tenaga kerja, secepat mungkin memprint surat lamaran. “Bayangkan, sejak tahun 2007 lalu, saya sudah berkali-kali memasukan lamaran, tetap tidak diterima juga,” kesalnya.

Sebagai operator alat berat, Syaril mengaku telah memiliki pengalaman kerja, karena ia pernah menjadi operator excavator di PT. Wiratako untuk pekerjaan pelebaran jalan Ujong Fatiah, pelebaran jalan rumah sakit Cut Nyak Dien Meulaboh, dan beberapa tempat lainnya.

“Sekarang saya masih membawa alat berat juga, tapi tidak tetap, tergantung panggilan orang. Yang penting ada rezeki yang saya bawa pulang ke rumah,” ujarnya.

Hal senada juga diucapkan Jamaluddin, warga Desa Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Ia mengaku pernah memiliki pengalaman menjadi driver atau Operator dump truk (DT 30) di NGO Mercy. “Bulan Mei 2020 kemarin ini, saya ada memasukan surat lamaran kerja ke PT. CK, tapi belum dipanggil juga sampai sekarang,” curhatnya.

Di tengah harapan penuh Jamaluddin menunggu kepastian panggilan kerja, beberapa hari lalu, ia mengaku sangat terkejut dan kecewa besar, lantaran PT. CK malah mendatangkan tenaga kerja operator DT 30 dari luar Aceh.

“Kalau setingkat supir saja harus didatangkan dari luar Aceh, nasib putra daerah ini bagaimana? Katanya sangat berkomitmen menerima tenaga kerja lokal, tapi fakta sangat mengecewakan kami,” protes Jamaluddin.

Ia dan sejumlah pengangguran lainnya, mengaku sangat siap dengan segala aturan disiplin yang diterapkan PT. CK, jika memang telah diterima menjadi tenaga kerja.

“Saya tidak takut dengan kerja disiplin, karena saya telah terbiasa dengan SOP tertib. Saya pernah kerja di NGO Mercy, jadi sangat paham dengan aturan sebuah perusahaan,” jelas Jamaluddin.

Informasi masukannya sejumlah tenaga kerja asal luar Aceh ke areal tambang Batubara di Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, mulai menjadi pembahasan luas di tengah kalangan masyarakat Aceh Barat, terutama warga yang telah pernah memasukkan lamaran kerja ke PT. CK. (den)