Tim kesehatan dari PSC Banda Aceh memeriksa kondisi terpidana hukuman cambuk, yang digelar Kejaksaan Negeri Banda Aceh di Taman Bustanussalatin Banda Aceh, Kamis (24/9). (al amin/rakyat aceh)

BANDA ACEH (RA) – Roni (29) mengangkat tangannya. Rasa perih terlihat di mukanya. Seorang dokter mendekat, memberikan minuman dan mendengarkan keluhan rasa perih yang terasa di punggungnya.

Berselang beberapa saat, terpidana pemerkosa anak di bawah umur ini dibawa ke ruang perawatan. 169 cambukan yang harus diterimanya terhenti di hitungan ke 52.

“Di punggung kanan terpidana ditemukan lecet berat. Kalau dilanjutkan, dicambuk di tempat yang sama, maka pembuluh darahnya bisa pecah dan berdarah,” kata dr Sarah dari tim medis PSC Banda Aceh yang mengawali prosesi uqubat hukuman cambuk yang digelar Kejaksaan Negeri Banda Aceh, di Taman Bustanussalatin Banda Aceh, Kamis (24/9).

Setelag memeriksa kondisi luka terpidana, Tim medis merekomendasikan hukuman cambuk terhadap dihentikan. Menurut Sarah, luka pada punggung Roni diperkirakan pulih dalam seminggu ke depan.

Sarah menyebut, saat pertama kali dicambuk, kondisi kesehatan Roni masih baik. Namun Roni mengalami ketakutan. “Terpidana sedikit ketakutan makanya tadi beberapa kali dia angkat tangan,” jelas Sarah.

Dalam kasus tersebut, Roni divonis 175 kali cambuk dikurangi masa terpidana berada di tahanan menjadi 169 cambukan. Roni bakal menjalani eksekusi sisa hukumannya setelah sembuh.

Terpidana terbukti bersalah berdasarkan vonis majelis hakim Mahkamah Syariah melanggar Pasal 50 jo Pasal 1 Angka 30 Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat.

Selain terpidana pemerkosaan, Kejari Banda Aceh juga melaksanakan uqubat atau eksekusi cambuk terhadap lima terpidana maisir atau perjudian di Taman Bustanussalatin.

Kelima terpidana maisir tersebut yakni T Armia bin Alm TM Hasan dan Zulfikar bin M Nur, masing-masing sembilan kali cambuk. Serta Ikhwani bin Alm M Daud, Muksalmina bin Rasyidin, dan Zainal Mahyal Muslem bin Muslem. Mereka dihukum cambuk masing-masing enam kali.

Majelis hakim Mahkamah Syariah Banda Aceh memvonis kelima terpidana terbukti bersalah melanggar Pasal 18 jo Pasal 1 Angka 22 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014. (min)