DEMO: Solidaritas massa mahasiwa dan pemuda Pidie melakukan aksi unjukrasa di kantor Bupati Pidie, mereka mengecam bupati yang dinilai tidak memikirkan nasib petani, Kamis (24/9). Foto dhian anna asmara

SIGLI (RA) – Ratusan mahasiswa dan pemuda melakukan aksi unjukrasa di Kantor Bupati Pidie, Kamis (24/9).

Solidaritas massa mahasiwa dan pemuda Pidie, tersebut, menuntut pemerintah memikir nasib petani. Selain itu, massa mahasiswa mengancam akan melakukan penyegelan kantor bupati, apabila pimpinan daerah tidak mau menerima kedatangan mereka.

Ratusan mahasiswa dan pemuda berjaket hijau Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini sudah berkumpul sejak pukul 08.30 WIB, di Bundaran Kota Sigli.

Selanjutnya, mereka menuju kantor Bupati Pidie dan memasuki perkarangan kantor dan berhenti di anjungan parkir kendaraan dinas bupati, sekira pukul 9.45 WIB.

Di depan pintu masuk ke ruangan kerja Bupati Pidie, sudah dijaga ketat puluhan personel polisi, termasuk belasan anggota Polantas yang sebelumnya mengamankan kemacetan arus lalu lintas di bundaran kota.

Sementara di depan pintu utama menuju ruang tunggu Bupati Pidie, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi itu meminta dan menuntut agar Bupati Pidie Roni Ahmad (Abusyik) untuk keluar menjumpai mereka.

Dalam orasi silih berganti yang disampaikan utusan dari masing masing perguruan tinggi, baik dari Perguruan Tinggi Islam (PTI) Al Hilal Sigli, Unigha Pidie, dan juga dari BEM Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta barisan Pemuda Pidie.

Suasana aksi demo mahasiswa menuntut Bupati Abusyiek keluar dari ruangan kantor mulai sedikit memanas karena harapan mereka bertemu bupati tidak terkabulkan.

Sesaat kemudian Sekda Pidie, Haji Idhami S.Sos MS.i hadir ditengah tengah aksi demo damai itu. Sementara, sejumlah mahasiswa menyampaikan kehadiran mereka untuk bertemu Bupati Pidie

Sejumlah mahasiswa yang menyampaikan orasi melalui pengeras suara meminta Bupati Abusyiek keluar dari dalam ruangan kerjanya untuk menjumpai mereka.

Bupati ke Lapangan

Sekda Pidie, H.Idhami S.Sos MS.i kepada mahasiswa yang berdemo itu mengatakan, bahwa Bupati Abusyik sedang ada kegiatan kedinasan di lapangan. Dan, mahasiswa dapat menyampaikan tuntutannya.

Selepas itu, mahasiwa pendemo serentak menyanyi bersama dalam alunan bupati mana…..bupati mana…..bupati mana, kami rakyat rindu bertemu bupati.

Setelah menunggu satu setengah jam lebih, membuat mahasiswa menyindir visi misi pasangan Bupati Pidie, yakni Blang, Glee, Laot. Kini, program tersebut dikatakan mahasiwa secara serempak “Ka meu apam tho”.

“Kami kecewa sekali, masak Pak Bupati Pidie, tidak mau bertemu dengan mahasiswa rakyatnya sendiri, dan ini sudah tidak benar lagi,” sorak para mahasiwa dengan suara menggelegarkan.

Soroti Kinerja Dewan

Dalam orasinya, para mahasiswa juga menyindir DPRK Pidie, yang mereka nilai tidak kompeten, bahkan menolak bertemu dengan mahasiswa dan pemuda Pidie.

“Mereka wakil rakyat, tapi tidak mau menerima kedatangan kami meski sudah disurati sehari sebelumnya, sepertinya mereka bukan wakil rakyat,” seru mahasiswa pengunjuk rasa itu.

Selain kecewa dengan wakil rakyat di DPRK Pidie, juga kecewa dengan Bupati Abusyiek yang gagal mensejahetrakan nasib petani, karena Abusyik hanya memikir sawah sendiri, celoteh mahasiswa secara ramai ramai.

Ismayani, salah seorang dari mahasiswi mengatakan dalam orasinya Bupati Abusyiek gagal mrnghadang mafia pupuk bersubsidi, juga tidak mampu mensejahterakan kehidupan petani.

“Kami mahasiswa kecewa dengan visi misi pasangan Bupati Pidie, yakni Glee, Blang dan Laot, kini semua sudah “meuapam tebal” serta meuapam tho,” seru massa mahasiswa dan Pemuda Pidie.

Mahasiswa tersebut, akhirnya ramai ramai duduk bersimpuh di depan pintu masuk ruang tunggu Bupati Pidie. Sementara itu, Sekda Idhami terus menerus berusaha menenangkan solidaritas massa Hari Tani Nasional itu.

Segel Kantor

Pimpinan aksi mahasiwa Peringatan Hari Tani Kabupaten Pidie, Mustafa Kamal kepada Rakyat Aceh secara terpisah di lokasi unjuk rasa tersebut mengatakan, aksi damai itu untuk adanya perubahan bagi nasib petani di daerahnya.

Ditanyai masalah ejekan dan sindiran yang ditujukan ke DPRK Pidie, dihuni orang bodoh dan goblok. Mustafa Kamal tidak pernah menyuruh hal itu. ” Itu bang, kekecewaan rakyatnya, tapi DPR malah bilang sibuk bahas anggaran,” tukas Mustafa Kamal.

Sedangkan Koordinator Lapangan (Korlip) Solidaritas Massa Mahasiwa dan Pemuda Pidie, Yudhi kepada awak media mengatakan, mereka tetap menunggu Bupati Abusyik menjumpai mahasiswa.

“Kami akan terus bertahan sampai pukul 16.00 WIB disini, dengan aksi damai. Jelasnya, kami berpendidikan tidak ada istilah anarkis dan anti kekerasan serta anti Narkoba,” kata Yudhi (mag85/ra)