Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar melepas tembakau Gayo menuju Medan setelah mencari jalan untuk tembus ke pasar luar, tembakau Gayo memungkinkan akan mengembalikan nama besarnya seperti sedia kala pernah banyak dikenal orang luar. JURNALISA/RAKYAT ACEH

TAKENGON (RA)- Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar, melepas pengiriman perdana sebanyak 2,5 ton tembakau Gayo menuju Medan, Sumatera Utara.

Shabela mengaku sangat bangga komoditas pertanian tersebut kembali bisa menerobos pasar industri tingkat nasional.

“Kami yakin tembakau dari Gayo akan kembali bangkit seperti era tahun 80-an, dimana saat itu toke tembakau sangat terkenal melebihi toke kopi saat ini,” kata Shabela Abubakar, saat pelepasan di Kantor Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) setempat, Minggu (27/9).

Shabela juga berpesan agar pengusaha tembakau di daerahnya melakukan pengemasan dan branding yang baik, sehingga tembakau Gayo tidak diklaim oleh pihak lain.

“Masyarakat kita juga sudah mulai memproduksi cerutu Gayo. Kita minta untuk memakai cukai tembakau dan diurus izinnya agar mudah dipasarkan,” tuturnya.

Shabela menambahkan untuk saat ini menanam tembakau juga dapat dijadikan alternatif bagi masyarakat di daerahnya karena harga kopi kian terpuruk akibat dampak pandemi covid-19.

“Apalagi saat ini kita sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan rokok, walaupun yang diminta adalah daun tembakau, tapi tembakau rajang maupun tembakau hijau tetap ramai peminatnya,” kata Shabela.

Sementara Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Aceh Tengah, Sukurdi Iska dalam hal ini mengatakan, pengiriman perdana 2,5 ton daun tembakau adalah atas permintaan PT Mitra Tata Usaha Bersama, yakni sebuah perusahaan rokok putih di Sumatera Utara.

Menurutnya jenis tembakau yang dikirim adalah jenis White Barley yang saat ini banyak dikembangkan di beberapa kecamatan di Aceh Tengah. “Mereka antusias terhadap tembakau kita, berdasarkan hasil tes laboratorium, grade sampel tembakau kita memperoleh nilai 2,9,” kata Sukurdi.

“Dulu pengembangan tembakau ini awalnya digagas bersama Bupati Shabela dengan berkunjung ke Karo, kemudian dilanjutkan dengan kesepakatan dengan perusahaan, jika grade tembakau mencapai nilai 3 maka tidak perlu dicampur lagi dengan tembakau Amerika,” tuturnya.

Saat ini kata Sukurdi, pihaknya terus melakukan pengembangan dan perluasan tanam tembakau untuk tahap dua.

Areal tanam yang sudah dipersiapkan, seluas 250 hektare di Aceh Tengah dan seluas 80 hektare di Kabupaten Bener Meriah. “Perkiraan panen pada Februari atau Maret tahun 2021,” ucap Sukurdi. (jur/bai)