WASHINGTON (RA) – Pemenang pemilu Amerika Serikat (AS) bukan siapa pemilik suara terbanyak, melainkan yang didukung banyak negara bagian. Karena itu, tiap kandidat berjuang mati-matian untuk menguasai swing states, negara bagian yang tiap tahun kerap mengubah dukungan.

Menuju 3 November, tiap kandidat kian gencar mencari dukungan. Negara bagian yang belum menentukan pilihan jadi sasaran. Kandidat calon presiden dari Partai Republik Donald Trump memilih datang langsung dan berorasi. Sementara itu, Joe Biden dari Partai Demokrat condong ke kampanye virtual serta memperbanyak iklan.

Ada 50 negara bagian di AS. Tapi, Trump dan Biden tak perlu mendatangi semua. Sebagian besar negara bagian sudah jelas penduduknya condong ke mana, Demokrat atau Republik. Tapi, ada beberapa negara bagian yang kerap mengubah dukungannya setiap pemilu. Istilahnya swing states atau battleground states.

Dukungan dari swing states ini bisa jadi penentu kemenangan. Dalam Pemilu 2016 lalu, kandidat Demokrat Hillary Clinton gagal mencuri perhatian mereka. Clinton menang di popular vote alias mendapatkan suara terbanyak. Tapi, dia kalah di electoral vote karena rata-rata swing states berbelok mendukung Trump.

Di AS, tiap negara bagian punya ’’nilai” electoral vote masing-masing, bergantung dengan jumlah penduduk dan berbagai hal lainnya. Texas, misalnya, punya 38 electoral vote dan Arizona yang lebih kecil hanya memiliki 11. Untuk bisa menang, dibutuhkan minimal 270 electoral vote. Partai yang unggul di salah satu negara bagian berhak atas semua electoral vote di wilayah tersebut.

Dari tahun ke tahun, Florida adalah salah satu swing states yang paling diperebutkan. Ia memiliki 29 suara elektoral. Paling besar di antara swing states lainnya. Pada Pemilu 2008 dan 2012, ia memberikan suaranya untuk Demokrat. Tapi, pada 2016 lalu, Florida mendukung Republik dan menyumbang kemenangan Trump. Berdasar polling dan data yang dikumpulkan Politico, Florida mulai mengarahkan dukungan ke Demokrat, meski belum signifikan.

Di sisi lain, hasil poling The Washington Post-ABC News yang dirilis Rabu (23/9) mengunggulkan Trump. Suami Ivanka Trump itu unggul tipis 51 berbanding 47 persen.

Begitu pentingnya Florida, bahkan Trump tak berani menyinggung negara bagian tersebut. Trump selama ini kerap menyindir Demokrat yang meminta pendukungnya memberikan hak suara via pos. ’’Sistem pemilu di Florida aman, terjamin, teruji, dan jujur. Sistem pemilu di Florida sudah dibersihkan. Saya mendorong semua orang untuk meminta balot dan memilih lewat pos,’’ cuit Trump Agustus lalu.

Florida termasuk negara bagian yang penduduknya paling banyak mengajukan pemungutan suara via pos. Hingga Rabu (23/9), sudah ada 4,7 juta permintaan balot. Itu melebihi permintaan seluruh negeri dalam Pemilu 2016 lalu. Petugas pemilu di Florida bisa mulai memproses dan memverifikasi balot 22 hari sebelum hari H pemilu.

Pennsylvania juga menjadi rebutan. Ia memiliki 20 suara. Pada pemilu lalu, negara bagian ini dimenangkan Trump. Namun, saat ini agaknya Pennsylvania condong ke Demokrat. Pun demikian dengan Nevada. (jawa pos)