Ragam Sayur mayur hasil perkebunan, produk warga transmigrasi Kabupaten Simeulue, yang dijual di pasar hari Peukan.Jumat (25/9). Ahmadi - Harian Rakyat Aceh.

Konsumen Minta Penambahan Hari Peukan

SIMEULUE (RA) – Hasil perkebunan, hasil pertanian hingga garam dapur produk warga transmigrasi, perdana digelar hari peukan, Jumat. (25/9), diserbu konsumen? khususnya kaum ibu rumah tangga.

Perdana dibukanya pasar hari peukan produk warga transmigrasi itu, ?dibuka langsung Sekda Simeulue, Ahmadlyah SH yang dipusatkan di kompleks terminal terpadu yang berada di kawasan Suka Jaya, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue.

Dari satu hari dalam satu minggu ditambah menjadi dua atau tiga hari, dibuka pasar hari pekan. Hal itu dijelaskan Yuli (40) ibu dari 4 orang putra putri, kepada Harian Rakyat Aceh, Jumat (25).

“Sangat terbantu dengan adanya pasar hari peukan, semua sayur mayur yang bergizi dan masih segar yang dijual saudara kita warga transmigrasi. Mungkin selain saya dan ibu rumah tangga lainnya sangat berharap, pasar hari peukan ini ditambah, menjadi dua atau tiga hari dalam satu minggu,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Halid Sastrawan, Tenaga Pendamping Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kementerian Transmigrasi RI, yang ditemui Harian Rakyat Aceh, dilokasi pasar hari Peukan produk warga transmigrasi di Kabupaten Simeulue.

“Program ini sangat bagus dan kita dukung, selain meningkatkan taraf perekonomian warga transmigrasi di masa pandemik Covid19, juga ini perdana dilaskanakan dan banyak hasil karya dan produk warga transmigrasi yang dipasarkan hari ini. Kita berharap supaya pasar hari peukan ini ditambah, tidak hanya satu kali dalam seminggu,” katanya.

Dengan ragam karya hasil produk warga transmigrasi yang dipasarkan itu, sehingga baik itu hasil perkebunan, hasil pertanian dan produk lainnya, tidak mubazir dan dibuang, hal itu disampaikan Ahmad Kodirin (31) warga Transmigrasi Latiuang, Kecamatan Teupah Selatan.

“Kita sangat terbantu dengan dibukanya pasar hari peukan ini, sebab selama ini sayur mayur dan buah-buahan tidak laku terjual dan mubazir hingga saya buang dengan sia-saia. Kendala kami saat ini faktor angkutan, untuk mengangkut hasil bumi dari transmigrasi ke lokasi pasar hari peukan ini dan ditambahnya pasar hari peukan, Kami berharap ada solusinya dari Pemerintah,” katana.

Terkait adana permintaan dari konsumen dan warga transmigrasi, penambahan pasar hari peukan itu, pihak Pemerintah mendukung, namun perlu dilakukan evaluasi dan kajian perkembangan pasar hari peukan produk warga transmigarsi di Kabupaten Simeulue.

“Prinsipna kita sangat mendukung adanya penambahan pasar hari peukan produk warga transmigrasi, namun ini butuh kajian dan evaluasi perkembangan pelaksanaan pasar hari peukan itu, memang lokasi transmigrasi sangat jauh, ada ang 4 jam perjalanan, seperti dari Transmigrasi Sigulai,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal, Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMT2PTSP) Kabupaten Simeulue, Asmanuddin. (ahi/rus).