Pamplet Posko MPTT Dibakar OTK, Jamaah Diduga Bawa Parang

BIREUEN (RA) – Papan Nama Posko Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) di Dayah Nurussalam, Desa Samuti Aman, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, diduga dibakar Orang Tidak di Kenal (OTK) sekitar pukul 03.00 WIB, Sabtu (3/10).

Informasi di himpun media Rakyat Aceh, perkiraan sementara Papan Nama tersebut dibakar dengan menggunakan kain/baju bekas yang sudah dibasahi dengan minyak tanah, selanjutnya dilempar ke atas papan nama/pamplet sehingga terbakar. Diduga, aksi ini dilakukan pada saat situasi diseputaran Tempat Kejadian Perkara (TKP) sedang sepi.

Menurut keterangan dari Pimpinan Dayah Nurussalam, Tgk Zakaria dan juga selaku pemilik dari tempat posko MPTT-I tersebut, pembakaran diperkirakan terjadi sekitar pukul 03.00 WIB dan baru diketahui sekira pukul 06.30 WIB karena melihat asap yang mengepul disekitaran plafon bangunan yang dekat dengan papan nama “Posko MPTT-I”.

Tidak ada saksi yang melihat langsung pada saat kejadian pembakaran tersebut. Sementara pelaku masih dalam penyelidikan Polres Bireuen yang hadir langsung ke TKP.

Jamaah MPTT-I Diduga Bawa Parang

Kasus ini kembali menggejolak pada malam hari. Sekitar pukul 20.30 WIB, puluhan jamaah MPTT-I yang tergabung dari berbagai daerah lingkungan Kabupaten Bireuen, mengunjungi kediaman Tgk Zakaria yang sedang tertimpa musibah tersebut.

Namun, saat jamaan berbarengan ke lokasi, beberapa saksi mata melihat langsung mereka membawa parang dengan menggunakan sepeda motor, sehingga memancing kemarahan ratusan Warga Desa Samuti Aman, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen.

Hal ini di benarkan oleh seorang warga Samuti Aman yang tidak mau disebutkan namanya. “Benar, kami melihat langsung sekelompok jamaah MPTT-I membawa parang dengan menggunakan sepeda motor,” sebutnya.

Tidak terima dengan sikap jamaah tersebut, ratusan warga terpancing amarahnya. Sehingga, masyarakat melalukan aksi penolakan kehadiran jamaah MPTT-I di Desa tersebut.

Sementara itu, Ketua MPTT-I Kabupaten Bireuen, Tgk Munar saat diwawancarai Rakyat Aceh, tidak mengakui atas dugaan jamaahnya membawa parang.

Disebutkan, kehadiran kami ke tempat waled Zakaria, hanya untuk melihat keadaan posko sekaligus silaturrahmi. Mengingat, waled saat ini sedang diuji dengan musibah yang menimpanya.

“Kami mengarahkan jamaah agar tidak terpancing untuk melakukan tindakan kriminal. Kami juga berharap kepada pemerintah supaya dapat mengambil kebijakan sekiranya ada titik temu dalam hal yang menimpa kami saat ini,” ujar ketua MPTT-I Bireuen.

Terkait hal ini, media Rakyat Aceh belum melakukan konfirmasi kepada pihak Polres Bireuen. (akh)