Seniman teater T Zulfajri akrab disapa Tejo.

“Seni Pertunjukan yang Hampir Punah”

LHOKSEUMAWE (RA)- Seniman teater T Zulfajri akrab disapa Tejo sedang meneliti seni pertunjukan tradisi Aceh “Mop mop”. Penelitian dilakukan di Kabupetan Aceh Utara, Bireuen dan Pidie. Tujuannya, untuk pelestarian seni lakon yang diambang punah tersebut.

Seniman teater T Zulfajri, Rabu (21/10) menjelaskan, Mop mop adalah seni teater pertunjukan tradisi Aceh yang hanya tersisa di Aceh Utara tepatnya di Kecamatan Muara Batu. “Penelitian ini untuk melahirkan semacam buku panduan dan dokumentasi sebagai referensi dan informasi seni Mop-mop secara detail, terutama bagi generasi muda, mahasiswa dan pelajar yang perhatian terhadap seni Aceh,” kata seniman yang juga alumni UIN Ar-raniry ini.

Menurutnya, kegiatan yang telah dilakukan selama beberapa pekan ini mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sebagai ajang pelestarian seni budaya tradisi di Aceh.

Dijelaskan, Mop mop dimainkan oleh tiga orang, menampilkan bermacam kisah seputar persoalam keluarga, dengan gaya kocak dan beda dengan seni pertunjukan lainnya yang ada di Indonesia. Seorang pemain memerankan sosok ayah, sekaligus sebagai syech, juga bertugas mengatur mengontrol alur cerita sambil memainkan biola. Dua lainnya , berperan sebagai dara baro dan linto baro (pengantin baru).

Keunikan mop-mop, melibatkan banyak unsur seni yang harus dipahami seluruh pemain, seperti syair aceh, pantun, hiem, gerak tari, musik dan lainnya. Semuanya dipadukan dalam satu pertunjukan.

“Generasi saat ini tidak ada lagi yang tahu tentang Mop-mop, beda dengan sandiwara Aceh atau Dalupa yang sebagian kecil masih diketahui, walau memang sudah benar-benar tidak ada lagi komunitasnya. Jadi ini yang akan kita orbit ke permukaan agar masyarakat paham,” sebut Tejo.

Secara sejarah, belum ada diketahui pasti kapan awal muncul Mop-mop, namun dipastikan sudah sudah ada sebelum Indonesia merdeka, kemudian jaya di era 60 hingga 80an. Ditampilkan saat hari-hari besar, hajatan rakyat, pesta pernikahan, bahkan juga ditampilkan di lokasi pasar rakyat dan lain.

Kemudian meredup seiring masukknya teknologi hiburan ke tengah-tengah masyarakat Aceh ,seperti televsi, radio dan yang banyak menampilkan seni peran secara praktis kepada masyarakat. Menurut lulusan S2 Institut Seni Indonesia (ISI) Jogyakarta tersebut, penelitian dilakukan di beberapa tempat di Aceh Utara, yaitu di Gampong Paloh Raya dan Gampong Kambam d Kecamatan Muara Batu, karena disana masih tersisa denyut seni Mop-mop. Kemudian dilakukan juga di Bireuen, tepatnya di Gampong Matang Pasie, Kecamatan Peudada.

“Kami berhrap pemerintah dan para pemangku kebijakan serta masyarakat tidak lupa dengan seni tradisi seperti ini, karena Mop-mop adalah aset seni yang harus dimunculkan kembali, sebagai identitas seni lakon khas masyarakat Aceh di pesisir pantai Timur,”pinta Tejo dalam relisnya kepada Rakyat Aceh, kemarin. (arm/ra)