Belajar Tatap Muka Sudah Dapat Dimulai

BANDA ACEH (RA) – Anggota Komisi VI DPR Aceh, Tezar Azwar, menilai sudah semestinya proses belajar mengajar tatap muka dimulai kembali di Aceh, dengan catatan tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Kalau di Departemen Agama sudah mulai. Saya bingung juga mengapa bisa berbeda, seharusnya ada koordinasi. Saat ini yang di bawah dinas pendidikan belum mulai satu pun untuk mulai belajar tatap muka. Saat ditanya, mereka pun belum memiliki alasan yang konkrit,” sebut Tezar, Senin (26/10).

Tezar menambahkan, belajar tatap muka harus sudah dimulai, bukan berarti mengesampingkan protokol kesehatan. Ia menegaskan semua peraturan harus selalu tetap didukung, dengan selalu menjaga kesehatan salah satunya.

“Kalau memang belajar tatap muka bisa dilakukan, maka sebaiknyabersama-sama kita bisa saling menjaga dan menaati segala peraturan. Agar kedepannya kita bisa cepat kembali normal,” ujarnya singkat.

Sebelumnya, anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, Illiza Sa’aduddin Djamal menyatakan, setuju para siswa masuk sekolah secara fisik, asalkan protokol kesehatannya harus benar diperhatikan.

“Kalau pun ada kebijakan pastikan protokol itu berlangsung dengan baik. Dari mulai para siswa datang ke sekolah sampai dengan pulang,” sebutnya, usai menghadiri Workshop pendidikan dengan tema penetapan pembelajaran jarak jauh di masa new normal.

Illiza menilai, kalau hanya dilakukannya rapid tes, maka hal tersebut belum cukup untuk mengetahui peserta didik yang bebas dari covid-19, dikarenakan rapid tes diperlukan waktu empat belas hari, sehingga sulit menjamin siapa yang terkontaminasi.

“Nah pola yang paling aman adalah menerapkan protokol kesehatan secara menyeluruh, karena kalau peserta didik anak usia SD dan PAUD, saya takutnya masker aja mereka tukaran. Siapa yang betul mengawal mereka sejak pergi sekolah sampai dengan pulang sekolah dalam kondisi yang aman. Kesehatan adalah hal yang harus di utamakan,” ucapnya.

Maka dari itu, politisi PPP tersebut menyarankan, agar dilakukannya shif bagi anak peserta didik, sehingga tidak perlu ada istirahat dan berinteraksi. Sehingga setelah belajar maka peserta didik langsung pulang.

“Harus ada sistematis apa yang mereka dapatkan. Jadi tidak perlu ada belajar seperti dulu. Ada istirahatnya. Apa yang harus mereka dapatkan itu yang harus difikirkan, jadi efektifitas masuk dalam waktu yang tak begitu lama,” ujarnya. (mar/bai)