Mahasiswa menunaikan Salat Zuhur berjamaah di ruas jalan saat melakukan aksi demo tolak UU Omnibuslaw di Aceh Tamiang, Rabu (28/10). DEDE/RAKYAT ACEH
ACEH TAMIANG (RA)-Gabungan mahasiswa Aceh Tamiang kembali melancarkan aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja/Omnibuslaw. Unjuk rasa jilid dua membatalkan Omnibuslaw ini digelar di ruas jalan masuk Komplek Gedung DPRK dan Kantor Bupati Aceh Tamiang, Rabu (28/10). 
Dari pantauan Rakyat Aceh, sekitar pukul 10.30 WIB mahasiswa sudah berkumpul di titik konsentrasi dengan membawa spanduk kritikan dan berorasi menggunakan pengeras suara. Selama berorasi mereka tidak berharap ditemui oleh pejabat eksekutif maupun legislatif, karena mereka tau pejabat sedang libur.
Sekitar pukul 12.00 WIB aksi demo jeda sejenak. Kemudian para mahasiswa mencari air wudhu untuk menunaikan Salat Zuhur berjamaah di jalan. Sedangkan mahasiswa putri Salat Zuhur di Mushola dan Masjid terdekat.
“Kita akan terus bertahan demo sampai sore. Demo ini juga serentak di Aceh dan secara nasional agar aspirasi mahasiswa didengar lah oleh Presiden,” kata Amiruddin selaku orator demonstrasi bagda Salat Zuhur saat menjawab Rakyat Aceh.
Usai Salat mahasiswa duduk baris di jalan makan siang bersama. Amiruddin alias Ami menekankan, uang untuk biaya makan beli nasi bungkus adalah hasil patungan mahasiswa bukan pemberian pejabat. Sebab beredar isu saat mereka melancarkan aksi demo tolak UU Omnibuslaw pertama 8 Oktober 2020 lalu yang menurunkan hampir 1000 massa, mereka dituding ada menerima bantuan uang dari pejabat eksekutif.
“Kami tidak pernah menerima apa pun termasuk uang, boleh dicek ke masing-masing mahasiswa, saya pastikan tidak ada. Aksi kami murni pergerakan mahasiswa menolak sepenuhnya lahirnya UU Omnibuslaw,” tegas Ami  mahasiswa Unsam Langsa ini.
Selain menolak UU Ciptaker/Omnibuslaw, mahasiswa yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa Pembebesan Arwan juga membacakan seruan untuk pembebasan rekannya tersebut yang ditangkap dan ditahan oleh polisi di Batubara, Sumut. Adapun tuntutan mahasiswa yang dibacakan Koordinator Aksi, Muhammad Fauzi ada lima poin di antaranya, berikan penangguhan penahanan terhadap Arwan Syahputra, Kapolri untuk membebaskan semua tahanan aktivis demokratis Indonesia dan mendesak Presiden mengeluarkan Perppu untuk mencabut Omnibuslaw.
Sampai pukul 13.30 WIB aksi massa masih mendapat pengawalan ketat dari aparat Polres Aceh Tamiang dan Satpol PP yang berjaga di berbagai tempat Kantor DPRK dan Bupati Atam.
Kabag Ops Polres Aceh Tamiang, AKP Syukrif Panigoro, SIK, MH kepada Rakyat Aceh mengatakan, dalam mengawal aksi demo serentak se Indonesia ini Polres Aceh Tamiang menurunkan kekuatan personel, satu pleton Dalmas, satu pleton cadangan, satu regu Pamtup dan di backup anggota TNI dari Kodim 0117/Aceh Tamiang.
“Habis mereka makan siang bersama, kegiatan mahasiswa selanjutnya kita belum tahu, tapi penyampainnya terkait aksi damai tolak UU Omnibuslaw,” ujarnya. (mag-86)