Semenjak COVID-19 pertama dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, Indonesia masih berada pada tahap percobaan untuk keluar dari keadaan terpuruk ini. Data terbaru kasus di Indonesia pada tanggal 26 Oktober 2020 dengan kasus positif 392.934 dimana 317.672 pasien sembuh dan 13.411 kasus meninggal.

Sungguh sangat disayangkan, tujuh bulan kita semua dihadapkan dengan situasi yang sulit namun masih banyak diantara kita yang mengacuhkan anjuran protokol kesehatan dari pemerintah, meskipun di beberapa daerah kini banyak diterapkan sanksi sosial bagi warga yang melanggar disiplin protokol kesehatan.

Bentuk sanksinya pun beragam dari hal yang ringan hingga berujung denda pun diberlakukan. Namun, tidak jarang juga beberapa daerah sengaja memajang peti mati di pinggir jalan untuk mengingatkan banyak orang tentang dampak dari bahayanya penularan COVID-19. Disaat pandemi COVID-19 masih berlangsung di Indonesia, akhir tahun ini kita juga harus khawatir dengan penyakit-penyakit tropis yang mengancam di saat musim pancaroba, salah satunya yaitu DBD.

Jumlah kasus DBD di Indonesia pada tahun 2010 sebanyak 156.086 kasus dengan jumlah kematian akibat DBD sebanyak 1.358 orang, World Health Organization (WHO) mencatat sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, Negara Indonesia merupakan Negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.

Apa itu musim Pancaroba?

Pancaroba adalah masa peralihan antara dua musim utama di daerah iklim muson, yaitu di antara musim penghujan dan musim kemarau. Dalam pranata mangsa yang dikenal di Pulau Jawa, pancaroba antara musim penghujan dan musim kemarau (biasa terjadi pada bulan Maret dan April) disebut sebagai mangsa (musim) marèng, sementara pancaroba antara musim kemarau dan musim penghujan (biasa terjadi pada bulan Oktober hingga Desember) disebut mangsa labuh.

Masa pancaroba biasa ditandai dengan frekuensi tinggi badai, hujan yang sangat deras/lebat yang disertai petir, guntur dan angin kencang. Pada masa pancaroba biasanya frekuensi orang yang menderita penyakit saluran pernapasan atas, seperti flu, pilek atau batuk, relatif meningkat. Masa ini juga banyak ditandai dengan perilaku khas beberapa hewan dan tumbuhan.

Pada masa marèng, umpamanya, tonggeret akan memasuki musim kawin dan mengeluarkan suara yang khas. Pada masa labuh, rayap akan mencapai tahap dewasa dan keluar dari liang di tanah sebagai laron (sumber: wikipedia).

Pengertian DBD

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan Virus Dengue. Penyakit tersebut merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena prevalensinya yang tinggi dan penyebarannya semakin luas.

Penyebab dan Gejala Klinis dari DBD

Empat virus dengue yang berbeda diketahui menyebabkan demam berdarah. Demam berdarah terjadi ketika seseorang digigit oleh nyamuk yang terinfeksi virus. Nyamuk Aedes aegypti adalah spesies utama yang menyebar penyakit ini. Virus dengue termasuk genus Flavirus, keluarga flaviridae terdapat 4 serotipe virus dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4, keempatnya ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 serotype terbanyak.

Demam berdarah menurut (WHO, 2015) adalah, penyakit seperti flu berat yang mempengaruhi bayi, anak-anak dan orang dewasa, tapi jarang menyebabkan kematian. Dengue harus dicurigai bila demam tinggi (40 ° C / 104 ° F) disertai dengan 2 dari gejala berikut: sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, pembengkakan kelenjar atau ruam.

Gejala biasanya berlangsung selama 2-7 hari, setelah masa inkubasi 4-10 hari setelah gigitan dari nyamuk yang terinfeksi. Pada fase akut biasanya ditandai dengan adanya bercak kemerahan di bawah kulit ataupun bintik-bintik kecil darah di bawah kulit.

Apakah DBD harus dibawa ke rumah sakit?

Pada dasarnya, demam berdarah dengue merupakan infeksi virus yang akan sembuh spontan (self limited disesae) dalam 7-10 hari. Artinya penyakit tersebut dapat sembuh sendiri tanpa pemberian obat. Pengobatan yang diberikan bersifat simtomatik, artinya hanya untuk mengurangi keluhan penderita. Biasanya pengobatannya berupa cairan infus dan obat penurun panas saja. Antibiotik hanya diberikan bila ada infeksi oleh bakteri.
Bila infeksi dengue yang dialami termasuk ringan, maka penderitanya dapat dirawat di rumah. Berikut kiat-kiat yang dapat Anda terapkan dalam merawat penderita demam berdarah di rumah. Terutama untuk penderita DBD dengan demam:

(1). Tirah baring atau bed rest. Usahakan penderita demam berdarah bisa beristirahat di tempat tidur sebanyak mungkin.

(2). Atasi suhu tubuh yang tinggi (di atas 38 derajat Celsius). Berikan asetaminofen atau parasetamol tiap 6 jam jika perlu. Hindari memberikan obat penurun panas seperti ibuprofen, aspirin, atau obat lain yang mengandung aspirin. Hal ini dikarenakan aspirin dapat meningkatkan risiko perdarahan pada mereka yang mengalami demam berdarah.

(3). Kompres tubuh penderita dengan air suam-suam kuku (lukewarm) jika suhu badan tetap tinggi. Gunakan kain yang telah dibasahi dan letakan di leher bagian belakang, sela ketiak, dan pangkal paha agar suhu lebih cepat turun. Hindari air dingin karena dapat membuat penderita menggigil, atau membuat tubuh seolah mengalami kedinginan, yang justru akan menyebabkan kenaikan suhu.

(4). Berikanlah penderita banyak cairan dan perhatikan tanda-tanda dehidrasi.

Dehidrasi bisa terjadi saat penderita demam, muntah, atau tidak minum untuk mencukupi kebutuhannya. Segera bawa anggota keluarga ke klinik atau unit gawat darurat jika terlihat tanda-tanda berikut ini: Saat suhu turun, badan semakin lemas, tidak mau makan dan minum, muntah berulang, nyeri perut hebat, sangat lemas, mengantuk terus, mimisan yang sulit berhenti, buang air besar berwarna hitam, muntah darah, air seni berwarna cokelat, pucat, telapak kaki dan tangan dingin, dan jumlah air seni hanya sedikit.

Apa yang harus kita lakukan di rumah agar terhindar dari DBD?

Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah gigitan dari nyamuk aedes aegypti diantaranya: (1). Pasang kawat nyamuk. (2). Gunakan pengusir nyamuk. Tak ada salahnya menggunakan bahan dari alam untuk mengusir nyamuk. Cari bahan-bahan yang aromanya tidak disukai nyamuk, misalnya serai. (3). Hindari genangan air, dan (5). Jangan menggantung baju.

Penulis adalah Soni Pilson, Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Prodi Pendidikan Dokter, Universitas Universitas Malikussaleh.
Pembimbing, Dr. Ratri Candrasari, M.Pd.