Panglima LPI Bireuen Minta Penegak Hukum Usut Tuntas Penikam Ustadz di Aceh Tenggara

BIREUEN (RA) – Terkait insiden penikaman terhadap salah satu Ustadz penceramah di Kabupaten Aceh Tenggara mendapat tanggapan serius dari Panglima Laskar Pembela Islam (LPI) Kabupaten Bireuen, Tgk Iskandar atau sering disapa Tuih Alkhair.

“Saya sebagai santri dayah dan juga atas nama Panglima LPI Kabupaten Bireuen sangat menyesalkan insiden berdarah yang dilakukan oleh pihak yang anti ulama dan anti agama (komunis) yang mulai melakukan aksinya di Aceh,” ujar Tuih Alkhair kepada Rakyat Aceh, Minggu (1/11).

Menurutnya, upaya pembunuhan terhadap penceramah atau ustad, selama ini sudah sering terjadi di luar Aceh. Tapi kini sudah mulai terjadi di Aceh, sehingga dianggap merupakan aib bagi masyarakat Aceh.

“Ini sangat memalukan Aceh, karena Aceh merupakan Serambi Mekkah yang sangat dikenal sebagai daerah pencinta Ulama, Ustad, Habaib dan Tgk-tgk pendakwah. Maka sangat disayangkan jika insiden seperti ini terjadi di Aceh,” sebutnya dengan nada kecewa.

Itu sebabnya, Panglima LPI Bireuen mengajak kepada seluruh Ormas Islam dan santri seluruh Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan, serta meningkatkan pengawalan terhadap ulama, ustadz-ustadz dayah dimanapun berada.

“Saat ini kita jangan cuma diam terhadap insiden tersebut, kita harus bangkit bersatu dalam menjaga ulama, jangan sampai ulama kita terus dihabisi oleh orang-orang jahat, dan jangan-jangan pelakunya adalah Komunis PKI,” kata Panglima LPI dan juga aktivis muda ini.

Tuih juga menjelaskan, kini upaya pembunuhan terhadap ustadz atau penceramah sedang populer (ngetren) di Indonesia, dan anehnya tidak ada upaya dari aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya serta memberi hukum yang berat bagi pelaku.

“Kita heran, seandainya penyerangan atau pembunuhan terjadi terhadap warga asing atau non muslim, maka pasti sangat cepat diusut tuntas. Sementara pelakunya langsung divonis teroris dan akan dikenakan pasal terorisme, bahkan tidak ada ampunan hukum. Tapi perlakuan justru tidak sama ketika terjadi penusukan atau teror lainnya terhadap umat Islam, tokoh Islam atau ulama,” pintanya.

Tgk Iskandar mengajak seluruh santri yang ada di Aceh untuk segera bangkit. Jika aparat keamanan yang digaji dengan uang rakyat tidak lagi mampu melayani rakyat dengan aman, maka sudah waktunya santri ambil alih untuk menjaga ulama dan tokoh umat.

Selain itu, Panglima LPI Bireuen juga berharap insiden berdarah di Aceh Tenggara menjadi yang pertama dan terakhir di Aceh.

“Kita meminta aparat penegak hukum untuk secepatnya mengusut tuntas siapa aktor dibelakang layar dan apa motif dari insiden berdarah tersebut dan jika hal ini dianggap sepele, maka jangan salahkan rakyat jika membuka pengadilan jalanan dan menghakimi sesuai dengan kehendak rakyat,” tutup Tuih dengan nada kesal. (akh)