Jangan Jadikan Rumah Sebagai “Penjara” Saat jalani Isolasi

ILUSTRASI : Kebun kopi di Bener Meriah. FOTO For Rakyat Aceh)

REDELONG (RA) – Berbeda dari kebanyakan orang, Hasimi yang baru menjabat sebagai Kabag Humas Setdakab Bener Meriah tidak menjadikan rumah sebagai “penjara” saat menjalani isolasi mandiri, pasca positif terpapar Coronavirus Disease (COVID-19), 9 Oktober 2020 Lalu.

Ia tetap beraktifitas layaknya petani dan berada di kebun kopi miliknya di Kampong Gunung Teritit, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, guna menghindari penularan terhadap orang di sekitarnya tentu saja, sambil menikmati hajaunya daun kopi yang ribun.

Sesekali, lewat unggahan video di akun fecebooknya, Hasimi terlihat mengenakan sarung tangan dan masker dan memberi pakan terhadap hewan ternak ayam yang ia pilihara di halaman belakang rumahnya.

Karena merupakan orang tanpa gejala (OTG), setiap harinya Hasimi juga olah raga ringan serta mengonsumsi vitamin C selama menjalani isolasi mandiri hingga ahirnya dinyatakan pulih dan terbebas dari COVID-19.

Menurutnya, berada di dalam rumah sendirian dan tidak melakukan apa-apa seakan berada dalam penjara sehingga berbagai upaya harus diciptakan namun tetap menerapkan piskal distancing, dan protocol kesehatan.

“Kebun kopi adalah tempat dimana hanya ada saya sendiri dan itu saya manfaatkan untuk mengisolasi diri dan ketika berada disana saya sangat tenang dan sama sekali tidak berpikir sedang terpapar,” ungkapnya saat di wawancarai di kediamanya Kampong Gunung Teritit, Minggu ( 1/11).

Awalnya, ia juga mengaku mengalami tekanan, akibat kejamnya lingkungan terhadap mereka yang terpapar namun hal itu sama sekali tidak mengoyahkan semangatnya dan tetap menjalani hari-harinya dengan penuh semangat.

“Saya merasakan dimana orang-orang disekitar ketakutakan saat melihat saya berada dihalaman rumah yang berbatas pagar beton padahal jarak saya dengan mereka juga sangat jauh dan jika dipikirkan kita kan mengalami tekanan batin serta berujung stres, ” sebutnya.

Ia menambahkan, ketidaktahuan masyarakat terhadap penularan wabah yang tidak terlihat oleh mata kepala itu tentu juga berbahaya dan ketakutan berlebihan juga akan menimbulakan efek tidak baik sehingga memperburuk kondisi mereka yang sedang terpapar.

“Kuncinya pikiran kita saat menjalani isolasi mandiri harus tenang dan jangar berpikir yang negative serta harus tetap optimis” tegasnya

Jika disadari semua pihak harus tetap bersyukur kepada mereka yang sudah menjalani isolasi mandiri dengan baik dan tidak berkeliaran serta menularkan ke orang lain sebab Covid-19 tersebut sangat berbahaya bagi mereka yang obesitas serta menderita penyakit kronis seperti, Jantung, paru-paru (asma) dan gula darah.

Selain itu, tingginya penyebaran virus corona belakang tidak menutup kemungkinan siapa saja dapat terpapar sehingga semua pihak diharapkan tidak menyalahakan mereka yang terpapar dan tetap menerapkan prokes kesehatan dengan menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun serta memakai masker. (uri/ra)