Ubah Pola Hidup, Lindungi Diri dari Diabetes Melitus

Source:sironline.id

Ubah Pola Hidup, Lindungi Diri dari Diabetes Melitus

Diabetes melitus (DM) atau penyakit yang sering dikenal dengan penyakit kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah melebihi batas normal. American Diabetes Association melaporkan bahwa setiap 21 detik ada 1 juta orang yang terkena diabetes dengan angka kematian diseluruh Dunia mencapai 1,5 juta orang pada tahun 2014.

Indonesia sendiri merupakan negara dengan penderita DM terbanyak ke-4 di dunia setelah India, China dan Amerika Serikat. Menurut Kemenkes RI, Prevalensi DM di Aceh terus mengalami peningkatan dari tahun 2007 sebesar 1%, tahun 2013 sebesar 1,8%, dan tahun 2018 sebesar 2,4%.

Pada penderita Diabetes Melitus ini, pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif. Insulin sendiri merupakan hormon yang mengatur keseimbangan glukosa darah. Apabila insulin tidak cukup diproduksi ataupun tubuh tidak merespon insulin maka tidak ada yang mengatur keseimbangan glukosa darah sehingga terjadi peningkatan konsentrasi glukosa di dalam darah (hiperglikemia).

Penyakit ini bisa dialami siapa saja, baik yang muda ataupun yang tua, oleh karena itu diabetes bisa dikenal menjadi dua yaitu, DM tipe I dan DM tipe II. Diabetes Melitus tipe I bersifat bawaan dari lahir yang disebabkan karena kelainan organ tubuh dalam memproduksi hormon insulin, biasanya terdeteksi di bawah usia 30 tahun dan umumnya diderita oleh anak atau remaja. Sedangkan DM tipe II disebabkan oleh penggunaan insulin yang kurang efektif oleh tubuh.

Hal ini terjadi karena faktor gaya hidup dan makanan yang di konsumsi setiap hari, seperti banyak makan yang berminyak, makanan fastfood, minuman soda, kurang beraktivitas dan juga stress. Umumnya penderita DM Tipe II di temui berumur lebih dari 30 tahun dan DM tipe II ini paling banyak diderita oleh masyarakat.

Bagaimana proses terjadinya Diabetes Melitus?

Seperti mesin, tubuh juga memerlukan bahan bakar berupa energi untuk menjalankan fungsi tubuh. Energi tersebut berasal dari makanan yang kita konsumsi yaitu karbohidrat, protein dan lemak. Di saluran cerna, karbohidrat dipecah menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak.

Selanjutnya insulin memegang peranan penting untuk memasukkan glukosa ke dalam sel, agar dijadikan bahan bakar pembentuk energi. Insulin itu sendiri merupakan hormon yang dikeluarkan oleh sel beta pankreas yang berguna untuk mengatur kadar glukosa darah. Untuk lebih memahami lagi, kita ibaratkan insulin sebagai anak kunci untuk membawa masuk glukosa ke dalam sel, lalu ada reseptor insulin yang kita ibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel.

Pada kondisi DM tipe I, anak kuncinya (insulin) tidak ada, sehingga glukosa tetap di peredaran darah (hiperglikemia), sedangkan pada kondisi DM tipe II jumlah anak kuncinya (insulin) normal atau mungkin lebih banyak, tetapi jumlah lubang kunci (reseptor) kurang, sehingga glukosa yang masuk sedikit dan kadar glukosa darah meninggi.

Faktor Risiko Diabetes Melitus

Menurut International Diabetes Federation, angka penderita Diabetes Melitus terus meningkat hingga 592 juta orang di tahun 2035, sehingga DM ini telah menjadi ancaman yang cukup serius. (3) Lantas siapa saja yang berisiko untuk terkena DM? orang yang berisiko terkena DM yaitu, kelompok usia >45 tahun, Gemuk : BB > 120% BBI (IMT > 27 kg/m2), Hipertensi, Riwayat Keluarga DM, Riwayat melahirkan bayi > 4 kg, Riwayat DM pada waktu hamil (DM Gestasi), Dislipidemia : HDL < 35 mg/dl, Trigliserida > 250 mg/dl, pernah mengalami gangguan
toleransi glukosa.

Tanda dan Gejala Diabetes Melitus

Orang yang menderita diabetes melitus biasanya megeluhkan gejala klasik 4P yaitu, polyuria (sering berkemih), polydipsia (sering haus), polifagia (sering lapar), dan penurunan berat badan. Gejala lain yang biasanya ditemukan antara lain: kelelahan yang ekstrim, adanya riwayat penglihatan kabur, gatal-gatal, kesemutan serta mati rasa pada tangan atau kaki, infeksi vagina berulang, dan adanya luka atau memar yang proses penyembuhannya lambat.

Apabila merasakan gejala tersebut bagaimana kita mencegahnya agar tidak berkelanjutan? Dan untuk orang yang belum terkena diabetes, bagaimana kita terhindar dari penyakit ini?.

Pencegahan Diabetes Melitus

DM dapat dicegah dengan cara mengendalikan faktor risikonya. Prinsip dasar pengendalian DM yaitu dengan modifikasi gaya hidup, dengan cara mengubah pola hidup yang tidak sehat menjadi pola hidup yang sehat. Pencegahan DM terdiri dari pencegahan primer yang ditujukan pada kelompok yang
berisiko yaitu orang yang belum terkena DM, tetapi berpotensi untuk menderita penyakit Diabetes Melitus.

Jadi, sangat penting pencegahan dilakukan pada masyarakat kelompok berisiko ini, dimana kelompok ini harus memahami mengenai penyakit DM tipe 2, dan juga pola hidup yang sehat seperti pengaturan pola makanan yang baik, dengan menghindari makanan tinggi lemak, manis, perbanyak konsumsi sayur dan buahan, kacang, dan biji-bijian yang mengandung banyak serat dan karbohidrat kompleks, hindari juga minuman soda dan jus buah kemasan dan perbanyak minum air putih, lakukan pula olahraga teratur dan menghindari perilaku yang beresiko meliputi berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol.

Pengelolaan stres yang baik ikut turut andil dalam pencegahan DM karena saat stress, tubuh akan
melepaskan kortisol yang dapat meningkatkan glukosa darah. Bagi kelompok yang berisiko penting pula melakukan pengecekan kadar gula darah secara rutin untuk pencegahan penyakit
ini.

Pencegahan sekunder yaitu pencegahan yang dilakukan pada fase awal berlangsungnya sakit terdiri dari deteksi diagnosa dini pengobatan yang cepat. Penderita DM yang sudah diketahui dan sudah berobat harus mengetahui pentingnya berobat secara teratur agar mencegah komplikasi dari penyakit DM itu sendiri. Penting untuk diketahui penderita DM bahwa kadar gula darah harus selalu terkendali mendekati angka normal sepanjang hari dan sepanjang tahun.

Penderita DM juga harus melakukan modifikasi gaya hidup dengan cara menurunkan BB, meningkatkan aktifitas fisik seperti berolahraga dapat memperbaki kontrol glukosa darah, karena olahraga rutin membantu tubuh menggunakan hormon insulin dengan lebih efektif, lalu dapat mempertahankan atau menurunkan berat badan serta dapat meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL), selanjutnya tetap harus hentikan merokok dan alkohol, serta mengurangi konsumsi garam supaya terhindar dari komplikasi DM tersering penyebab kematian yaitu kardiovaskular.

Upaya untuk membantu memulihkan kesehatan dan mencegah berlanjutnya komplikasi dan pembatasan cacat termasuk ke dalam pencegahan tersier. Dimana, hal yang ditakuti dari DM dalah komplikasinya seperti kebutaan, penyakit pada ginjal, dan juga berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi.

Sehingga untuk mencegah berlanjutnya komplikasi tersebut diperlukan upaya kerja sama yang baik sekali antara pasien dan dokter dan pada penderita DM yang sudah ada komplikasi, diperlukan diabetes edukator untuk membantu penderita tentang seluk beluk diabetes dan komplikasinya, seperti melakukan perawatan kaki secara berkala karena berisiko tinggi berakhir pada amputasi.

Yolanda Restiani – dr. Rizka Sofia, MKT / FK UNIMAL.