Protes Pernyataan MarconAceh Tunda Kerja Sama dengan Perancis

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah

Quote Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah
“Penundaan kerja sama ini sebagai sikap protes, bentuk keberatan pemerintah bersama seluruh masyarakat Aceh kepada pemerintah Perancis yang telah mendiskreditkan Islam,”

Ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar
“Insya Allah berbagai upaya dan stigma negatif yang coba ditabalkan akan semakin mengokohkan kecintaan kita terhadap Islam dan Nabi Muhammad saw,”

BANDA ACEH – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyebutkan pemerintah Aceh menunda perjanjian kerjasama dengan Institut Francais d’Indonesia.

Penundaan perjanjian kerjasama dilakukan sebagai bentuk kecaman pemerintah dan masyarakat Aceh kepada Presiden Perancis Emmanuel Marcon yang dinilai mendiskreditkan umat Islam.

“Penundaan kerja sama ini sebagai sikap protes, bentuk keberatan pemerintah bersama seluruh masyarakat Aceh kepada pemerintah Perancis yang telah mendiskreditkan Islam,” kata Nova dalam keterangannya di Banda Aceh, Senin (2/11).

Nova mengatakan, sikap presiden Perancis mengatakan Islam sebagai agama mengalami krisis di dunia dan tidak melarang Majalah Charlie Hebdo menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad SAW dengan dalih kebebasan berpendapat, tidak dapat dibenarkan dan telah melukai hati 2 miliar lebih umat Islam di seluruh dunia. Akibatnya aksi protes terjadi di hampir seluruh negara Islam.

Pemerintah Aceh juga menyampaikan kecaman atas pernyataan dan sikap Marcon. Nova berharap Marcon mencabut pernyataannya dan meminta maaf kepada umat muslim di seluruh Dunia.

Ekses dari pernyataan Marcon, kerja sama yang bakal diteken antara pemerintah Aceh dan Institut Prancis, badan yang melaksanakan kerja sama baik pendidikan dan budaya milik Perancis di Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, akan ditunda.

Penundaan itu diinstruksikan langsung Nova kepada Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh, Syaridin.

“Benar. Atas instruksi Pak Plt Gubernur, kerja sama ini kita tunda dulu. Ini bentuk sikap protes pemerintah Aceh kepada pemerintahan Perancis,” kata Syaridin, Kepala BPSDM Aceh.

Syaridin menyebutkan, pada 14 Juli lalu, MoU antara pemerintah Aceh dengan Institut Perancis diteken Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Rencananya pelaksanaan kerja sama ini akan dilakukan pada Desember nanti. Lewat kerja sama itu, pemerintah Aceh merencanakan mengirim mahasiswa asal Aceh untuk kuliah di Perancis pada tahun 2021 mendatang.

“Untuk sementara akan ditunda pelaksanaannya atau dibatalkan untuk saat ini,” kata Syaridin.

DPRK Banda Aceh Kecam Marcon
Sementara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Farid Nyak Umar, mengecam keras pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai telah menistakan agama Islam dengan menghina Nabi Muhammad SAW beberapa waktu lalu.

Kecaman itu disampaikan Farid dalam sidang paripurna DPRK di hadapan pimpinan dan anggota DPRK yang juga turut dihadiri Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, beserta SKPK di jajaran Pemko Banda Aceh, Senin (2/11).

Menurut Farid, pernyataan Macron dengan dalih kebebasan berekspresi tersebut tidak tepat sama sekali. Macron dan otoritas Perancis juga menegaskan bahwa itu merupakan hak mereka untuk memublikasikan karikatur Nabi Muhammad. Sikap tersebut tetap disampaikan meskipun mereka mengetahui akan menyinggung umat Islam.

“Kita sangat mencintai Rasulullah saw dengan mengagungkan beliau, tentu kita harus membela beliau, karenanya ketika ada upaya menghina beliau dari siapa pun, kita harus menolaknya,” ujarnya.

Farid juga menyampaikan, upaya merendahkan Islam telah berlangsung sejak zaman jahiliyah hingga saat ini. Namun, sungguh kesucian Islam dan kemuliaan Nabi Muhammad saw akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman. Farid mengutip hadis riwayat Ad-Daruquthi dan Al-Baihaqy, Rasulullah bersabda, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” Sementara itu Umar bin Khattab juga pernah mengatakan, “Kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam. Tatkala kita mencari kemuliaan dengan selainnya, Allah akan hinakan kita.”

“Insya Allah berbagai upaya dan stigma negatif yang coba ditabalkan akan semakin mengokohkan kecintaan kita terhadap Islam dan Nabi Muhammad saw,” tutur Farid Nyak Umar. (ril/ra)